Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Vian Bersama Liza


__ADS_3

Aku telah tiba di kantor ayah mertuaku. Dia sedang berbicara di telepon. Dan aku, harus menunggu dia sampai selesai. Aku sangat gugup. Ini adalah pekerjaan pertamaku, dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku melihat sekeliling dan tidak menyadari bahwa ayah mertuaku telah mengakhiri panggilan teleponnya.


"Apakah kamu bersemangat, Sadiya?" tanyanya tiba-tiba. Aku tersentak dari lamunanku tentang bagaimana mengubah desain ruangan ini. Aku segera menatapnya.


"Nama asliku Khanza .." ucapku tanpa sadar. Apakah ini berarti aku telah menerima mereka? Aku baru sadar bahwa aku merasa kurang pas ketika mendengar nama Sadiya. Nama Khanza terdengar lebih damai di telingaku.


Ayah mertuaku menatapku dengan bingung dan aku menjelaskan apa yang telah terjadi. Dia marah karena aku tidak memberi tahunya dari awal, tetapi dia tidak mempermasalahkannya.


"Lihat. Kamu adalah desainer kami sekarang. Kami akan memberimu proyek dan kamu harus menyelesaikannya dengan baik. Misalnya, ketika sebuah merek menginginkan desain dengan setelan untuk pria, kamu harus mendesainnya. Terkadang kamu akan diberikan pekerjaan kecil seperti mengubah warna atau menambahkan detail ekstra. Setiap proyek yang kamu lakukan harus berbeda. Ada pertanyaan?" Dia bertanya padaku. Sebenarnya aku punya banyak pertanyaan, tetapi aku memutuskan untuk tidak bertanya. Aku menggelengkan kepalaku dan dia mengangguk.


"Jadi, untuk memperkenalkanmu pada pekerjaan ini, aku akan memberimu proyek baru. Kami akan membuatkanmu email dan aku akan mengirimmu detail dari apa yang diinginkan suatu merek. Tapi pertama-tama, aku akan menunjukkan kantormu," ucapnya sambil berdiri. Mataku membelalak. Apa?


"K-Kantor?" Aku tergagap karena tidak percaya. Dia hanya tertawa dan pergi. Aku pun mengikutinya. Dia masuk ke sebuah ruangan. Aku melihat sekeliling. Ruangan itu sangat besar dan dindingnya berwarna putih. Hanya ada meja dan beberapa kursi di dalamnya.


"Jangan melihatnya seperti itu. Ini adalah kantormu, kamu bisa mengaturnya sendiri seperti yang kamu inginkan. Aku meninggalkan beberapa katalog di mejamu. Pilih saja furnitur dan barang mana yang kamu mau. Kamu juga bisa mengecat dindingnya. Tulis saja yang kamu mau dan berikan kepada Masara. Setelah itu, dia akan memesannya, mengerti?" ucapnya, dan aku hanya bisa mengangguk. Mataku berkeliaran menelusuri seisi ruangan, mencari inspirasi untuk mendesain ruangan ini.


"Begini, kamu adalah menantu perempuanku. Itu artinya kamu bisa memerintah dan melakukan apa pun yang kamu inginkan. Namun, disiplinlah, karena jika tidak, tidak ada yang akan mendengarkanmu. Ada banyak orang bodoh yang bekerja di sini yang akan mengatakan hal-hal tidak menyenangkan karena mereka iri. Jangan dengarkan mereka, biarkan mereka lelah bicara, nanti juga mereka dan mereka akan berhenti. Cobalah untuk menjadi kuat. Bisnis ini benar-benar melelahkan dan kamu akan memiliki beban besar di pundakmu. Jika kamu tidak bersikap kuat, kamu tidak akan bertahan. Kuharap kamu mengerti," ucapnya dan aku mengangguk.


"Aku harus pergi sekarang, jika kamu butuh sesuatu panggil saja nomor 317 dan Masara akan membantumu. Laptopmu ada di sana, Masara akan membuatkanmu email, jadi tunggu saja sampai dia menyelesaikannya. Oh dan, hijab itu terlihat sangat bagus untukmu. Jangan menyerah," ucapnya sembari berjalan pergi.


Terlalu banyak informasi. Tiba-tiba aku menjadi takut. Bagaimana kalau .. Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukan ini. Pekerjaan ini sangat banyak, dan aku bahkan belum belajar atau apa pun.


Aku mengabaikan pikiran itu dan pergi ke mejaku. Aku duduk di kursi. Rasanya sangat aneh, karena baru pertama kali aku duduk di tempat seperti ini. Aku mengambil katalog dan mulai melihat-lihat isinya. Aku terpesona dengan semua desain-desain itu, membuat ide-ide baru bermunculan di otakku. Kurasa, aku akan menyukai pekerjaan ini ...


Namun, sepertinya ada yang salah. Kenapa aku belum menerima emailku? Namun, tidak masalah. Aku masih punya waktu untuk memahami sistem pekerjaan ini, dan belum memulai proyek yang kutakuti.


Aku memasukan nomor untuk menelepon Masara, karena aku merasa bosan.

__ADS_1


"Masara, datanglah ke ruanganku. Sekarang!" aku berteriak padanya berlagak seperti bos, hanya untuk menggodanya. Rasanya sangat aneh, bertingkah seperti bos. Tidak seperti aku yang dulu.


"Baik Nyonya, saya akan segera kesana," jawabnya dengan gugup.


Aku menutup telepon dan tertawa. Dia sangat gila. Apa dia benar-benar mengira aku akan seperti itu padanya?


Beberapa detik kemudian, pintu ruanganku terbuka dan Masara yang gugup masuk. Ketika dia melihat ekspresiku yang menahan tawa, dia memutar bola matanya, kesal.


"Kamu benar-benar bod-"


"Bahasamu, Bu Masara. Aku tidak mentolerir kata-kata seperti ini terhadapku. Aku Khanza, menantu Tuan Oesman," tingkahku. Aku mencoba untuk melanjutkan godaanku dan kulihat matanya membelalak. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi aku mendahuluinya bicara.


"Dasar bodoh, apa kamu benar-benar mengira aku akan seperti itu terhadapmu? Kamu adalah sahabatku," ucapku padanya. Ya, dia adalah sahabatku. Tiba-tiba ekspresinya berubah dan dia langsung memelukku.


"Aku mengenalmu, aku tahu kamu tidak akan melakukan itu! Aku hanya ingin membuatmu takut, dasar bodoh!" serunya, dan kami tertawa. Dia lalu menatapku. Matanya membelalak.


"Kamu cantik sekali memakai hijab itu!" ucapnya. Aku mengangguk.


"Itu terlihat sangat cocok untukmu! Ayo, kita beli jilbab-jilbab lagi!" ucapnya sambil menarik tanganku.


Aku berpikir sejenak. Aku belum ada pekerjaan apa-apa dan kurasa bosku tidak akan keberatan jadi aku mengambil jaket dan tasku lalu pergi bersamanya.


***


Aku mengeluarkan semua pakaianku dari lemari. Aku mengeluarkan pakaian dan jilbab baru dari tasku. Aku melihat-lihat pakaian mana yang cocok kupakai dengan jilbab-jilbab baruku.


Aku merasa dingin, jadi aku memakai sweater tebal milik Vian.

__ADS_1


'You Only Live Once' tertulis di atas sweater itu, membuatku tidak ingin memakainya. Tapi, tidak ada yang melihatnya, jadi kenapa tidak?


Waktu itu, aku marah pada Vian karena membeli ini. Karena tulisan ini menurutku tidak benar. Kita tidak hidup hanya satu kali, karena masih ada akhirat, setelah kita mati.


Aku kembali memasukkan pakaian-pakaianku ke dalam lemari. Aku mendengar pintu depan terbuka. Aku menunggu Vian masuk. Dan, beberapa saat kemudian dia masuk ke kamar.


"Hei .." sapaku. Dia hanya mengangkat dagunya.


Aku memutar bola mataku, lalu melanjutkan memasukkan pakaian-pakaianku ke dalam lemari.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya dengan nada kurang menyenangkan. Jadi, Vian yang lama mulai kembali lagi untuk sementara waktu. Tidak masalah, aku bisa mengatasinya.


"Hanya menyusun pakaianku," jawabku tanpa menoleh padanya.


"Kapan kamu mendapatkan semua pakaian ini?" Dia bertanya padaku, karena aku tidak pernah punya banyak pakaian. Jadi, wajar kalau dia bertanya.


"Yah, aku sudah mendapatkan pekerjaan sekarang. Jadi, ayahmu menyuruhku membeli baju baru yang bagus," jawabku. Dia hanya mengangguk dan tetap berdiri di ambang pintu.


"Apa kamu lapar? Aku membuat makanan, tapi sudah dingin. Aku bisa menghangatkannya la-"


"Aku sudah makan di luar!" jawabnya. Aku menatapnya. Dia bukan Vian yang biasanya. Aku memang tidak pernah tahu, di mana Vian yang dulu makan. Tapi, Vian yang sekarang selalu memakan masakanku, apa pun yang terjadi. Aku tahu, diam-diam dia menyukai masakanku.


"Oh .. Apakah kamu makan bersama Hamzah?" tanyaku. Aku hanya mencoba untuk berbicara dengannya karena rasanya seolah-olah kami sudah tidak saling bicara selama bertahun-tahun. Rasanya, sudah begitu lama, padahal baru sehari.


"Tidak! Aku bersama Liza," jawabnya.


Apa?

__ADS_1


__ADS_2