Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Cinta?


__ADS_3

Kami masih seperti itu hingga beberapa saat. Hanya duduk terdiam, tidak saling bicara. Setelah Kenzo mengatakan hal itu, aku terdiam. Dia juga tidak bertanya lagi. Aku mendongak dan melihatnya sedang melamun. Aku segera menepuk bahunya, dia tersentak dari lamunannya.


"Apa yang dia lakukan di sini?!" Aku mendengar Vian berteriak. Aku segera berdiri saat melihatnya beranjak mendekati kami. Aku segera meraih lengannya agar dia menatapku. Setelah dia menatapku, aku mengerling agar dia terdiam.


"Kita harus selalu menerimanya di sini," ucapku. Vian menggelengkan kepalanya.


"Apakah kamu sudah gila? Mereka telah menculikmu! Mereka telah menyakitimu! Bagaimana bisa kamu merasa begitu nyaman berada di dekat mereka?! Bagaimana kalau-" Sebelum Vian menyelesaikan ucapannya, aku segera menyela.


"Kamu yang membuatku terlibat dalam masalah itu! Dan, asal kamu tahu, kamulah orang yang paling menyakitiku!" ucapku. Meskipun kutahu aku berbohong tentang kalimat terakhir itu.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kenzo. Dia menatapku, bertanya dengan tatapan matanya apakah aku butuh bantuan. Namun, aku segera menggelengkan kepalaku. Dia mengusap pundakku sesaat sebelum dia berbalik dan melangkahkan kakinya ke luar.


Setelah Kenzo benar-benar pergi, aku menarik nafas dalam-dalam sembari mengambil langkah untuk pergi ke kamarku. Namun, Vian tiba-tiba menarik lenganku.


"Aku minta maaf ..." bisiknya sambil mengedarkan pandangannya, namun tidak menatapku. Dia menjalin jari-jemari kami, rasanya aku ingin sekali memeluknya saat itu juga.


"Untuk apa?" tanyaku. Aku benar-benar tidak mengerti. Kami belum pernah bicara seserius ini.


"Untuk semuanya ... Aku selalu menyakitimu, dan aku benar-benar minta maaf," ucapnya.


Aku memikirkan kata-kata yang diucapkannya. Dia pernah memanggilku dengan sebutan-sebutan yang buruk, memperlakukanku dengan buruk... Aku tidak tahu, apakah aku bisa memaafkannya untuk itu, apakah aku bisa memaafkan masa laluku.


Namun, dia juga melakukan hal baik untukku. Dia berdiri untukku, dia selalu ada untuk menolongku. Namun tetap saja, rasa sakit ini terkadang lebih besar dari rasa bahagia yang kudapatkan.


"Vian .." ucapku pelan, sambil meletakkan telapak tanganku di pipinya. Dia menatapku dalam-dalam, membuatku seketika merasa bersalah. Di matanya tersirat begitu besar rasa sesal.


"Vian, kita berdua butuh waktu. Aku mengerti kenapa kamu melakukan ini semua. Aku paham, kamu juga mengalami begitu banyak hal buruk. Tapi, kita butuh waktu untuk memperbaiki semua yang terjadi di antara kita. Ini tidak mudah,dan kamu tahu itu," ucapku. Dia mengangguk.

__ADS_1


"Iya, aku tahu... Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar minta maaf," ucapnya.


"Bagaimana kalau kita panggil Hamzah dan istrinya agar kesini?" tanya Vian. Aku tersenyum dan mengangguk.


Aku tidak melihat Masara sejak aku dan Vian pulang. Aku ingin berterimakasih padanya, karena dia telah menemaniku.


Vian duduk di sofa, lalu mengambil ponselnya untuk menelepon Hamzah.


"Hamza, bawa istrimu, lalu segera ke sini," ucapnya.


Aku memutar bola mataku. Dia benar-benar menyuruhnya ke sini sekarang? Dia pikir dia siapa? Dia bicara seenaknya dengan orang lain.


Aku segera merebut ponsel itu dari tangan Vian, aku tidak peduli jika dia akan marah.


"Hamzah, maafkan sikap buruk Vian. Kamu tahu, kami mengundangmu untuk bersantai, atau apa lah begitu?" ucapku, tidak begitu yakin. Yang pasti, aku tidak pernah mengundang seseorang dengan kasar seperti yang Vian lakukan. Hamzah tertawa mendengarnya. Aku juga mendengar suara Masara bersamanya.


"Begitukah caramu mengundang seseorang?" tanyaku.


Vian memutar bola matanya malas sebelum dia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku lalu menarikku hingga terduduk di sofa. Aku menghirup aroma tubuhnya, membuatku benar-benar merasa nyaman. Entah sampai berapa lama aku menikmatinya, hingga tiba-tiba aku tersadar.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanyaku saat melihatnya terpaku menatapku. Dia tersenyum, namun saat dia baru saja ingin mengatakan sesuatu, bel pintu tiba-tiba berbunyi. Aku bergegas membuka pintu, lalu melihat Hamzah dan Masara berdiri di depan, dengan membawa sebuah buket bunga. Masara memberikan buket itu padaku, aku menatapnya dengan mata melebar.


"Kamu berhak menerima ini," ucapnya sambil tersenyum, aku menerima buket itu sambil balas tersenyum.


Aku mempersilahkan mereka masuk, lalu aku pergi ke dapur membawa bunga itu untuk memasukannya ke dalam vas. Aku masih saja tersenyum tak percaya. Mungkin, karena aku belum pernah menerima bunga dari siapapun.


"Aku membuat beberapa cangkir teh dan mengambil semangkuk kukis. Vian datang ke dapur, namun hanya melihatku saja.

__ADS_1


"Kamu tahu? Kalau hanya melihat saja tanpa membantu, itu namanya jahat," ucapku. Vian terkikik. Dia pun segera mendekat ke arahku, lalu mengambil mangkuk itu dari tanganku sambil menatapku lekat-lekat.


"Kalau butuh bantuan bilang saja, sayang," ucapnya. Mendengar kata 'sayang' darinya membuatku ingin sekali berlari dan berteriak.


Aku meletakkan teh itu di meja, lalu duduk di sebelah Vian.


"Maaf, aku tadi meninggalkan rumahmu tanpa mengatakan apa-apa padamu, karena laki-laki idiot ini memaksaku keluar dari rumah ini," ucap Masara. Dia pun mendapatkan cubitan di lengannya oleh Hamzah.


"Beraninya kamu melakukan itu?!" ucap Masara kesal. Dia pun memukul dada Hamzah. Hamzah merengkuh Masara hingga dia tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa membantunya, tapi aku tersenyum sepanjang waktu melihat mereka seperti Tom and Jerry. Selalu berkelahi namun tak terpisahkan.


"Diamlah, kamu cinta aku kan?" bisik Hamzah. Masara tersenyum sebelum menganggukkan kepalanya.


"Iya," jawab Masara, masih sambil tersenyum pada Hamzah. Aku tidak tahu aku harus mengalihkan pandanganku ke mana, mereka berdua sangat lucu.


Beberapa saat kemudian, Masara memintaku untuk mengikutinya. Kami pun pergi ke balkon. Baru saja aku ingin menanyakan ada apa, dia sudah memulai pembicaraan.


"Katakan padaku sejujurnya. Katakan padaku, dan jangan berbohong," ucap Masara.


Aku mengerutkan keningku, benar-benar tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Lagi pula, untuk apa aku harus berbohong? Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya ingin Masara tanyakan padaku.


"Kamu mencintainya?" tanya Masara. Aku menatapnya dengan mata melebar. Apa yang sedang dia bicarakan? ... Cinta?


"Kamu mencintai Vian. Aku bisa melihat dari matamu. Apakah kalian belum pernah mengungkapkannya satu sama lain? Vian juga mencintaimu, aku tahu itu. OMG, coba bayangkan kalau kalian punya anak, pasti akan seperti Sadiya dan Vian kecil yang imut. Wah, aku akan jadi bibinya, dan-"


"Masara, hentikan!" teriakku menyela Masara. Masara malah terkikik. Tawanya yang lucu membuatku ikut tertawa juga.


"Maaf, maaf. Ayo kita masuk ke dalam lagi," ucap Masara masih sambil terkikik. Aku mengangguk dan mengikutinya kembali masuk.

__ADS_1


__ADS_2