Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Orang Tuaku Menjualku


__ADS_3

Bagaimana .. bagaimana aku bisa mengatakan semua ini? Mataku mulai berkaca-kaca. Kali ini aku menangis di hadapan mereka bukan karena merasa takut. Tapi, karena aku merasa lega, akhirnya aku bisa bicara tentang diriku sendiri di hadapan mereka, menumpahkan semua perasaanku. Aku merasa lebih kuat setelah aku bisa bicara dengan lantang di depan orang-orang yang dulu benar-benar kutakuti, bahkan hanya untuk melihatnya.


Sentuhan jari-jemari Vian menegang di punggung tanganku, membuatku merasa tidak enak karena sangat bergantung pada sentuhannya.


"Kami memang bukan keluargamu yang sebenarnya. Nama-nama yang kau sebut tadi adalah keluargamu yang sebenarnya." Aku mendengar suara seseorang berbicara di belakangku.


Darahku yang semula mendidih menjadi dingin. Aku membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang bicara. Siapa dia? Husam, kakakku! Bukan, lebih tepatnya mantan kakakku.


Vian segera melangkah di depanku untuk menghalanginya dariku. Namun aku segera menarik tangannya untuk kembali. Husam perlahan melangkahkan kakinya ke arahku.


"Keluargamu yang sebenarnya itu telah menjualmu, meninggalkanmu," ucapnya. Dengan setiap langkah yang dia ambil, jantungku berdebar lebih cepat. Apa yang baru saja dia katakan sama sekali tidak bisa kupahami.


"Mereka tidak pernah peduli denganmu, sama seperti kami. Karena kamu memang tidak berguna," ucapnya kemudian.


Vian dengan cepat melangkah ke depannya dan meninju wajahnya. Aku maju selangkah untuk menghentikannya, tapi aku takut kalau-kalau Husam akan melakukan sesuatu seperti yang dulu dia lakukan padaku.


"Aku akan membunuhmu! Kamu tidak tahu apa-apa, sebaiknya kamu diam saja. Dan lebih baik lagi kalau kamu mati saja. Tidak satu pun dari kalian bisa menyentuhnya lagi. Jika aku melihat kalian di manapun mencoba mendekatinya, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua!" teriak Vian.


Vian mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu meraih tanganku dan membawaku ke luar dari tempat itu.


"Kau beruntung karena dia ada di sini. Kalau tidak, aku akan menghajarmu habis-habisan atas apa yang telah kau perbuat terhadapnya," ucap Vian saat berdiri tepat di hadapannya.


Vian menarik tanganku agar cepat-cepat keluar dari rumah itu.

__ADS_1


***


Kami tidak saling bicara selama perjalanan pulang. Setelah sampai di rumah ...


Saat kami berjalan memasuki ruang tengah, aku mengalihkan pandanganku ke arah Vian.


"Bagaimana kamu bisa tahu tentang itu?" tanyaku. Kurasa inilah waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, namun tidak ke arahku. Dia tetap diam, hingga membuat kesadaranku habis.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" bisikku mengulangi pertanyaanku. Aku benar-benar lelah. Dia menatapku sesaat.


"Aku mendengar mereka bicara," ucapnya.


"Kenapa kamu tidak cerita denganku? Apa yang telah mereka katakan?" Aku bertanya padanya. Meskipun sejujurnya aku tidak ingin mendengar jawaban dari pertanyaan keduaku, karena aku takut mendengar kenyataan itu darinya.


"Kamu mau dengar jawaban yang jujur atau jawaban yang sesuai dengan keinginanmu?" Dia balik bertanya.


"Saat kita pergi ke sana untuk makan malam bersama, aku mendengar ibumu dan ibuku sedang mengobrol tentang hal itu. Ibumu bilang kalau keluarganya telah mengadopsimu sejak keluarga kandungmu meninggalkanmu, tidak menginginkanmu," ucapnya. Dia menatap wajahku, untuk melihat rekasiku. Tapi aku memalingkan wajahku darinya. Aku merasa sangat buruk setelah mendengar kenyataan itu.


"Kenapa kamu tidak cerita waktu itu?" Aku bertanya lagi, karena dia belum menjawabnya.


"Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli waktu itu," ucapnya begitu saja, seolah-olah itu adalah hal yang biasa saja untuk diucapkan.


"Sudah berapa lama waktu itu berlalu? Saat kita di Turki, apakah kamu masih tidak peduli padaku?" tanyaku, mencari kebenaran.

__ADS_1


"Aku peduli padamu. Tapi aku hanya ... mereka mengincarmu saat itu, mereka mencarimu," ucapnya tidak jelas.


"Tidak, mereka mencari saudara perempuannya. Kevin mencariku, aku saudara perempuannya dan kamu tahu itu. Tapi kenapa kamu menyembunyikan hal itu?!" tanyaku dengan berteriak.


Vian mengambil langkah demi langkah ke arahku, membuatku terpaksa melangkah mundur. Hingga kurasakan punggungku membentur dinding. Aku menghembuskan nafas yang tertahan.


"Karena mereka ingin membunuhmu, karena kamu adalah istriku! Apakah kamu masih tidak paham juga? Orang-orang itu benar-benar bengis. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk membunuh anggota keluarganya demi uang. Aku tidak bisa membiarkan hal yang sama seperti yang terjadi pada Liza, terjadi padamu juga. Dan Kevin, orang yang menginginkan kematianmu itu bahkan tidak tahu kalau kamu adalah adiknya, dia tidak percaya itu!" teriaknya. Dia meletakkan kepalan tangannya ke dinding, di sebelah wajahku. Dia berdiri sangat dekat sambil menatapku tajam.


"Tidakkah kamu lihat? Tidakkah kamu lihat bagaimana kembaranku mencariku? Bagaimana sikapnya terhadapku?" ucapku pelan. Aku merendahkan suaraku karena aku takut dia akan marah.


"Kevin telah membunuh Liza. Itu yang aku katakan berkali-kali. Aku pikir kamu sudah paham dengan perkataanku, tapi ternyata kamu memang bodoh!" ucapnya. Dia menatapku dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Setelah itu dia pergi meninggalkanku sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar.


"Aku harus keluar dari sini ... Aku tidak butuh omong kosong ini," Hanya itu kata-kata yang bisa kudengar dari gumamannya.


Dia melangkahkan kakinya keluar pintu sambil membanting daun pintu hingga tertutup dengan suara keras.


Aku terduduk lemas di lantai, menyadari bahwa dia juga tidak peduli denganku. Aku melihat ke bawah, memperhatikan bulir-bulir air mataku menetes. Aku benar-benar sendirian dalam kekacauan ini.


Aku sendirian dan aku tidak yakin bahwa aku akan berhasil menghadapi ini semua. Semua yang telah kubangun dengan Vian akan hancur, dan aku tidak tahu apakah kehancuran ini bisa diperbaiki.


Aku yakin bahwa kali ini dia akan menyetujui perceraian itu lalu dia akan mengusirku dari rumah ini. Lalu? Apa yang akan aku lakukan? Pergi ke rumah saudara kembarku dan kakak kandungku yang ingin membunuhku, dan keluargaku yang telah membuangku karena tidak memginginkanku?


Aku tertawa menertawakan kemalangan nasibku sendiri. Tidak, aku tidak akan pernah memberi mereka kesempatan untuk mendekatiku lagi. Mereka semua meninggalkanku. Aku tidak peduli siapa orang tua kandungku. Bukankah mereka tidak menginginkanku, bahkan mereka membiarkan orang-orang yang mengerikan itu mengadopsiku. Apakah mereka pantas disebut orang tua? Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali. Aku sendirian. Sendirian, tanpa apapun, tanpa siapapun.

__ADS_1


Aku perlahan berdiri dan bernjak untuk keluar dari rumah ini. Aku harus pergi, kemanapun itu. Aku tidak boleh kembali lagi ke sini. Baru saja aku menyentuh gagang pintu, aku mendengar seseorang mengetuk pintu dari luar.


"Tolong buka pintunya ... aku tahu kamu ada di dalam. Tolong, kita perlu bicara," ucap seseorang di balik pintu itu dengan lirih. Mataku membelalak saat mendengarnya. Mengapa mereka tidak membiarkanku sendirian?


__ADS_2