Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Bagaimana Pernikahanku?


__ADS_3

Rasa kantukku tiba-tiba hilang dan berganti menjadi rasa gelisah, entah kenapa. Aku bangkit dari ranjang lalu melangkahkan kakiku ke ruang tamu. Aku melihat laptop Vian ada di sana. Aku mengambilnya dan meletakkannya di pangkuanku. Aku hanya ingin mencari kesibukan sampai aku bisa kembali mengantuk.


Aku melihat sebuah file yang berjudul 'Liza'. Aku penasaran dengan isinya, tapi aku mengurungkan diri untuk membukanya karena aku tahu itu adalah privasinya. Aku hanya ingin berselancar di Internet sampai aku bisa tidur lagi. Namun aku mendengar suara orang bercakap-cakap, entah dari mana. Kemudian aku melihat Vian keluar dari kamarnya.


"Aku lupa mengatakan bahwa orang tuamu mengundang kita untuk makan malam besok," ujarnya. Ia melihat kearahku sekilas, lalu matanya menatap tajam pada laptopnya yang berada di pangkuanku. Aku menjadi gugup dan menundukkan wajahku. Aku takut, karena dia menatapku dengan sorot mata penuh amarah.


"Apa yang kamu lakukan dengan laptopku!?" dia bertanya dengan nada tinggi, lalu meludah. Dia menghampiriku dan segera mengambil laptopnya dengan kasar dariku.


"Tidak ada, ... A-aku hanya-" Aku bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatku. Dia melihat ke laptop lalu menatapku tajam. Tatapannya sangat menakutkan. Dia berjalan mendekatiku.


"Apakah kamu membukanya?" tanyanya pelan.


'Dia akan mulai berteriak. Dia akan mulai berteriak, sebentar lagi. Kemudian dia akan memukulimu. Dia akan menghancurkanmu. Dia akan ... ' Aku menepis pikiran-pikiran buruk yang selalu menghantuiku.


"... Tidak, demi Allah!" ucapku tegas.


"Katakan yang sebenarnya, apa kamu melihatnya?" Tanyanya lagi, masih tidak yakin dengan jawabanku.


"Tidak, aku bersumpah!" ucapku sambil menatap matanya dengan mata percaya diri, dengan begitu dia akan mempercayaiku. Dia melemparkan tatapan marah terakhirnya kepadaku sebelum kembali ke kamarnya.


Aku duduk dan mulai mengatur nafasku yang terengah-engah. "Tidak apa-apa, dia tidak melakukan apa-apa," aku mencoba menghibur diri.


Aku bangkit, melangkah ke kamarku dan mengunci pintu. Kalau-kalau dia memutuskan untuk menghukumku, seperti yang dulu mereka lakukan.


***


"Sadiya ... Sadiya!!"


Aku mendengar suara membangunkanku dari mimpiku. Aku membuka mataku dan bangun, membuka kunci pintuku. Dia tahu namaku?


"Kamu tahu namaku?" tanyaku seolah tak percaya. Sambil memperbaiki jam tangannya, dia menatapku seolah aku baru saja datang dari planet lain. Dia sudah rapi dan siap untuk pergi keluar.


“Tentu saja aku tahu.” katanya sambil memutar bola matanya.


"Kenapa kamu membangunkanku?" aku bertanya kepadanya dengan heran.

__ADS_1


"Rencananya telah berubah. Orang tuamu menelepon dan mengatakan bahwa kita harus pergi sarapan di rumah mereka dan kita akan makan malam bersama kedua keluarga. Sialan!" ucapnya diikuti umpatan karena dia tidak bisa memperbaiki arlojinya. Aku memutar bola mataku. Hari ini dimulai dengan baik.


"Aku juga tidak suka, jadi berhentilah dengan tatapan tajam," kataku saat dia memasang tampang dinginnya lagi, lalu pergi ke kamar mandi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa.


Aku melihat wajahku di cermin. Rambutku yang berantakan selalu menghias wajahku, begitu juga dengan kantung di bawah mataku. Aku membiarkan air mengalir dan membasuh wajahku, memandangi bibir dan pipiku yang sekarang basah. Rasa tidak aman selalu ada, selalu. Aku tidak suka dengan apa yang kulihat, jadi itu sebabnya aku selalu berusaha menghindari cermin.


"Lihatlah dirimu yang menyedihkan ini, menikah dengan pria tampan itu?" bisikku sambil menatap mataku mematikan.


"Kamu tidak akan pernah menjadi seperti salah satu dari gadis-gadis itu!" kataku pada bayanganku sendiri di cermin, membiarkan mataku basah dengan air mata.


Sebelum aku menyadarinya, mataku tertutup dan aku merasakan sakit kepala mulai menyerang. Aku meletakkan tanganku di kepalaku dan mendengar suara. Suara yang kuingat. Tubuhku mulai berkeringat, aku segera mencari tempat untuk duduk menenangkan diri.


"Allah mencintaimu, bagaimanapun kamu. Jangan lakukan itu!" aku mendengar suara itu lagi. Itu adalah suara yang sama dengan suara di hari ketika aku akan bunuh diri. Tapi, suara siapa itu tadi? Siapa .. Siapa itu? Aku membuka mata dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Aku melihat sekeliling sekali lagi tetapi masih tidak melihat siapa pun. Aku mengabaikannya, keluar dari kamar mandi karena Vian terus meneriakiku untuk bergegas.


***


Sekarang, aku dan Vian berdiri di luar pintu rumah orang tuaku. Terakhir kali aku ke sini hampir seminggu yang lalu. Aku membuang pikiran itu, tidak ingin mengingat hari pernikahan itu.


Vian menekan bel pintu, laku ibuku datang membuka pintunya.


Aku memutar bola mataku. Ibu memang selalu seperti itu pada orang kaya. Dia akan seperti itu pada Vian dan orang tuanya. Orang tuaku selalu berusaha mendapatkan apa pun yang mereka bisa dapatkan dari orang kaya seperti mereka dengan bersikap baik.


Aku sedikit gugup saat melangkah masuk. Kami masuk ke dalam, dan bahkan ibuku sendiri tidak menyapaku. Sama sekali bukan masalah bagiku.


Kami berjalan ke ruang tamu. Disana aku melihat Salma. Salma adalah tunangan kakakku. Meskipun aku tidak terbiasa bergaul dengan kakakku, Salma adalah orang yang paling baik padaku di dunia ini. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang kakakku. Mereka lebih sering bersama di luar, tidak di rumah ini. Jadi, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padaku. Ketika dia bertanya tentang memar-memar yang ada di tubuhku, orang tuaku mengatakan kepadanya bahwa aku sedang berlatih tinju, padahal tidak. Pernahkah dia melihatku menendang atau memukul seseorang?


Salma menghampiriku dan memelukku sangat erat.


"Ugh... Aku tidak bisa ... bernapas, Salma," ucapku sambil berusaha tersenyum. Dia mengendurkan pelukannya tapi masih memelukku.


"Aku sangat merindukanmu, Sadiya!" ucapnya di telingaku. Kemudian dia menambahkan dengan berbisik, “Tanpamu rumah ini membosankan." Aku mengabaikan apa yang dia katakan, tidak ingin ingatanku kembali ke sini, ke rumah ini.


Aku menyapa semua orang dan pergi dengan Salma ke atas ke kamar lamaku. Ketika aku melangkah masuk ke kamarku, aku terkejut. Tidak ada satu pun yang sama seperti kamarku dulu. Orang tuaku telah mengubah semua isinya, bahkan aku tidak bisa mengenalinya lagi, tidak percaya ini kamarku dulu. Apakah mereka menungguku untuk pergi, baru merubahnya menjadi sebagus ini?


Aku dan Salma pun duduk di sofa yang ada di kamarku. Salma mulai berbicara padaku. "Bagaimana dengan pernikahanmu?" tanyanya sambil tersenyum. Kurasa dia sudah sangat ingin menikah, jelas terlihat dari wajahnya.

__ADS_1


"Baik baik saja, kurasa begitu." kataku. Dia menatapku dengan tatapan bingung. Aku berusaha menghindari kontak mata dengannya sebisa mungkin. Aku takut aku tidak bisa menahan diri untuk menyembunyikan semuanya, tentang pernikahanku.


"Kupikir kamu akan bilang kalau pernikahan itu sangat menyenangkan atau kamu sangat bahagia." Dia berkata dengan heran.


"Aku belum bisa mengatakan apa-apa sekarang, pernikahan ini baru seminggu. Tapi kurasa semuanya akan berjalan baik-baik saja," ucapku. Dia tidak terlalu percaya padaku tapi juga tidak bertanya lebih jauh.


Aku segera mengalihkan topik pembicaraan. Namun, tiba-tiba kakakku memanggil kami untuk sarapan. Aku dan kakakku adalah anak dari orang tuaku. Tapi seolah-olah kakakku lah satu-satunya anak mereka. Mereka sangat menyayangi kakakku, tapi tidak denganku! Apakah aku melakukan sesuatu kesalahan di masa lalu yang membuat mereka sangat membenciku? Entahlah, aku tidak tahu kenapa mereka memperlakukanku seperti itu, bahkan aku tak yakin mereka adalah orang tua kandungku.


Aku dan Salma berjalan ke bawah. Aku melihat semua orang di sana sudah siap untuk sarapan bersama. Aku melihat ada kursi kosong di depan Vian. Aku memutuskan untuk duduk di sana, Vian menatapku sejenak sebelum kembali menundukkan pandangan ke bawah, bermain dengan garpunya.


“Bagaimana kabarmu, Sadiya?” tanya ibuku. Wajahnya seperti mengejek seolah dia tahu bahwa pernikahanku tidak berjalan dengan baik. Baru saja aku akan menjawab pertanyaan ibuku, tetapi Vian mendahuluiku berbicara.


"Pernikahan kami berjalan dengan sangat baik. Dan kami akan berbulan madu minggu depan," ucap Vian sambil melihat makanannya dengan ekspresi datar.


Mataku membelalak dan aku tidak bisa berkata-kata. Apa apaan ini? Pikirku. Apa yang baru saja dia katakan .. dan kenapa dia mengatakan itu? Bukankah dia sangat membenciku, namun dia mengatakan itu?


"Oh benarkah?" tanya ibuku. Aku mengangguk. Aku tidak tahu mengapa Vian ingin mereka menganggap pernikahan kami baik-baik saja. Tapi kupikir tidak apa-apa, mereka tidak perlu tahu.


"Iya, aku juga tadi sempat bercakap-cakap dengan Sadiya, dia bilang dia sangat menikmati pernikahannya," ucap Salma. Aku menatapnya dengan mata lebar. Dia tersenyum padaku sambil mengedipkan mata padaku.


“Oh .. itu bagus,” kata ayahku, dia tidak terdengar senang. Kurasa mereka memang bukan orang tuaku. Orang tua seharusnya selalu bersama anaknya, merawat dan melindungi anaknya. Rasa sakit merayapi perasaanku lagi, aku membiarkan kecemasan dan kekecewaan menguasai diriku. Air mataku hampir jatuh. Aku segera beralasan untuk pergi ke kamar mandi.


Aku melihat wajahku di cermin untuk kedua kalinya hari ini. Aku mendengar seseorang menaiki tangga dan setelah beberapa saat terdengar ketukan di pintu. Aku menyeka air mataku dan membuka pintu. Ternyata itu adalah Vian.


"Semua yang aku katakan tadi hanyalah omong kosong! Aku sama sekali tidak menginginkan itu!" ucap Vian dengan marah. Dia mencoba membuatku takut. Tapi aku sudah mulai terbiasa melihat wajahnya yang selalu marah, sehingga aku sama sekali tidak takut lagi.


"Kenapa kamu mengatakan itu?" tanyaku terus terang ingin tahu.


"Aku tidak suka mereka. Jadi aku berbohong pada mereka, kenapa memangnya?" ucapnya dengan sinis.


"Kenapa kamu tidak menyukai mereka?" tanyaku.


“Karena, mereka telah membuatku terjebak denganmu. Huh!” ucapnya kesal. Dan itu memanglah jawaban yang seharusnya kudengar. Dia kemudian menatapku lama sekali.


"Apakah kamu menangis?" Dia bertanya padaku, dengan sebelah alis terangkat. Aku menggelengkan kepalaku, aku tidak ingin dia tahu. Tanpa meliriknya, aku berlari menuruni tangga menuju ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2