Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Bertemu Ayahku


__ADS_3

"Apa?" tanyaku dengan suara pelan. Jadi benar, dia akan kembali pada gadis itu.


"Aku butuh jawaban darinya. Jadi, aku harus bicara dengannya, aku masih membutuhkannya," ucapnya.


Aku tidak menanggapi perkataannya. Karena aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku tahu, itu hanya alasan yang dia buat, karena dia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan gadis itu.


"Dan, jangan pakai barang-barangku lagi," ucapnya dengan nada tak senang.


Aku tidak ingin berdebat dengannya, jadi aku hanya mengangguk. Biasanya, aku akan terluka. Tetapi sekarang tidak, karena rasa sakit yang ini sangat kecil dibandingkan dengan yang lainnya.


"Oke .." ucapku.


Kurasa, dia akan keluar dari kamar sekarang juga, dan ternyata benar. Setelah dia pergi, aku melemparkan jilbab yang ada di tanganku ke tempat tidur. Aku terduduk diam di tepi ranjang. Aku melihat ke arah cermin di depanku.


"Tentu saja dia akan kembali padanya. Apakah kamu pikir dia menginginkan seorang gadis jelek yang lemah, jika dia bisa mendapatkan gadis yang cantik dan kuat?" Aku berkata pada diriku sendiri.


Aku menggelengkan kepala. Aku tahu itu benar. Namun, aku tidak akan memikirkan hal itu lagi. Aku akan membuat perubahan dalam hidupku. Jika aku harus hidup tanpa Vian, aku akan melakukannya.


Aku mengambil ponselku dan menelepon Kenzo. Aku ingin mendengar suaranya.


"Halo?" Aku mendengar suaranya dari seberang sana. Aku memejamkan mata dan hanya menunggu beberapa detik.


"Kenzo, aku ingin bertemu dengan ayah. Bisakah kamu mengantarku menemuinya?" tanyaku.


Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu. Kata-kata itu seolah keluar begitu saja dari mulutku, secara otomatis, tanpa kupikirkan lebih dulu. Akhir-akhir ini seringkali begitu.


"Ok, aku segera kesana," ucapnya lalu aku mengakhiri panggilan.


Aku mengganti pakaianku, dan memakai hijab. Aku ingin melihat seperti apa reaksi Vian nanti. Aku menarik napas dalam-dalam lalu berjalan ke ruang tamu.

__ADS_1


Vian menatapku. Dia terdiam seperti patung. Aku berdehem, dan dia tersentak kaget.


"Mau kemana kamu?" tanyanya. Aku memutar bola mataku dengan malas. Aku tahu, dia akan menanyakan itu.


"Aku akan bertemu ayahku .." ucapku padanya dan dia mengangguk.


"Kenapa kamu memakai itu?" Dia bertanya padaku. Aku memutar mataku padanya.


"Kurasa kamu lebih tahu. Kamu kan dulunya seorang hafiz. Harusnya kamu lebih tahu, kenapa aku memakai ini," jawabku dan dia hanya memutar bola matanya.


Aku tahu kalau dia tahu bahwa aku memakai ini untuk menyembunyikan kecantikanku. Ini untuk keselamatan kita sendiri dan agar tidak menarik bagi orang lain. Kecantikan kita hanya untuk suami kita, begitu juga seorang suami seharusnya tidak melihat wanita lain yang bukan muhrimnya. Itulah yang pernah aku baca di suatu buku. Kulihat, Vian hanya menatap lurus ke depan.


"Apa kamu mau ikut?" Aku bertanya padanya dan dia hanya menggelengkan kepalanya. Aku melihat ke arah jam dinding, kira-kira sepuluh menit lagi, Kenzo akan datang.


Aku beranjak menghampiri Vian dan duduk di sampingnya. Aku meraih tangannya, tapi dia menepisku.


"Kamu ingin bicara?" Aku bertanya padanya, tapi dia hanya mengangkat bahu. Aku tahu dia menginginkannya, tapi dia tidak bisa mempercayai siapa pun sekarang. Aku tahu itu.


"Aku juga dulu baik-baik saja dengannya. Sekarang lihatlah, bagaimana akhirnya," ucapnya sinis. Aku menghela nafas lalu meraih dagunya dengan kedua tanganku agar dia menoleh ke arahku.


"Apa kamu ingin dia kembali bersamamu? Apa kamu mau menceraikanku dan kembali pada gadis itu, agar semuanya kembali 'baik-baik saja'?" bisikku. Namun, Vian tak bergeming.


"Vian, apakah kamu ingin kembali bersamanya?" tanyaku padanya, dengan suara yang lebih kuat.


Sudah cukup. Aku ingin mengubah hidupku, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Saat aku melihat dia kebingungan seperti ini, aku juga ikut bingung. Dia membuang muka, tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu bahkan tidak mengetahuinya, kan?" ucapku sinis.


"Aku pergi!" ucapku sambil memakai sepatu dan meraih jaketku, berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Jangan pikirkan itu. Jangan pikirkan itu. Semua akan baik-baik saja, ucapku pada diri sendiri sambil menunggu Kenzo. Beberapa saat kemudian, dia datang. Dia keluar dari mobilnya.


"Kamu sudah siap?" Dia bertanya padaku sedikit tidak yakin. Aku mengangguk lalu pergi ke mobil bersamanya.


...***...


Sekarang, kami berada di depan rumah sakit. Kenapa kita disini? Aku merasa tanganku gemetar. Aku memainkan jari-jemariku sendiri, telapak tanganku terasa dingin.


Jantungku berdetak begitu cepat, rasanya aku akan pingsan. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengikuti Kenzo yang sudah maju selangkah di depanku. Dia menoleh padaku, lalu tersenyum sedih. Aku balas tersenyum. Aku merasa sedikit lebih baik.


Ya Allah, biarlah semuanya baik-baik saja. Beri kami kekuatan dan bantu aku. Aku hanya bisa mempercayai-Mu jadi tolong bantu aku ya Allah, aku berdoa dalam hati.


Yessin menanyakan sesuatu pada wanita di yang duduk di belakang meja, setelah itu kami mulai berjalan lagi. Aku tidak bisa mendengar apa-apa, sepertinya yang kudengar hanya suara-suara di kepalaku sendiri. Suara-suara lainnya lenyap begitu saja.


Saat aku berjalan, aku merasakan seseorang menarik lenganku, lalu menjalin jari-jemarinya dengan jari-jemariku. Aku tersenyum setelah mengetahui siapa itu. Vian!


Kami terus berjalan sampai Kenzo berhenti di depan sebuah ruangan. Tanpa berkata apa-apa, dia membuka pintu lalu masuk. Aku menghela nafas dan mengambil langkah juga. Kakiku terasa berat melangkah. Aku merasa gugup, sedih, dan marah bercampur jadi satu.


Aku terus berjalan sampai aku melihat wajah itu. Wajah yang menatapku dengan mata lebar. Aku mendekati dia dan berdiri di sana di ujung tempat tidur. Kami terus memandang satu sama lain untuk waktu yang lama, tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia terlihat mirip dengan Kevin.


"Assalamualaikum," ucapku. Dia hanya menggerakkan kepalanya sedikit, masih belum bisa berbicara.


"Aku Khanza, dan ini suamiku," ucapku sambil menatap Vian.


Vian menatapku dan tersenyum. Aku balas tersenyum, lalu kembali menatap pria itu. Matanya membelalak dan dia menatap Vian, lalu melihat jari-jari kami yang terjalin, lalu kembali menatapku.


"Ayah .. katakan sesuatu," ucap Kenzo sambil duduk di sebelahnya. Kenzo kemudian menoleh ke arah kami.


"Ayah menderita kanker. Setelah mendengar bahwa kamu meninggal, Ibu dan Ayah bertengkar hebat dan saling salah paham hingga mereka bercerai. Ayah telah berada di ruangan ini selama dua tahun, hingga sekarang," ucap Kenzo dengan suara bergetar.

__ADS_1


Aku langsung merasa buruk. Hanya karena aku, semua orang mendapat masalah. Aku menatapnya dengan rasa bersalah dan dia menggelengkan kepalanya.


__ADS_2