Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Ke Turki


__ADS_3

Aku tidak bisa bertanya apa-apa lagi kepada Vian karena dia selalu menelepon, berbicara dengan begitu banyak orang. Aku sedang mengemasi beberapa pakaian untukku dan dia. Aku tahu bahwa dia tidak akan punya waktu untuk itu.


***


Kami berjalan ke tangga pesawat. Ini akan menjadi pertama kalinya aku berada di pesawat. Orang tua dan saudara laki-lakiku sering pergi ke luar negeri, tetapi mereka tidak pernah membawaku bersama mereka. Aku harus tinggal bersama nenekku, dan berusaha bertahan hidup sediri. Aku menggelengkan kepalaku, mencoba melupakan kenangan itu.


Kami masuk ke pesawat dan aku melihat sekeliling. Kecil dan tidak banyak kursi. Pesawat itu sendiri lebih kecil dari yang kubayangkan. Kami berjalan ke beberapa kursi, aku segera berjalan mendahului Vian, untuk mengambil tempat duduk di dekat jendela. Vian hanya terkekeh dan ikut duduk di sampingku, sambil menggelengkan kepalanya.


Aku melihat ke luar jendela, melihat bahwa kami belum bergerak. Lalu, kembali menatap Vian.


"Vian, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa kita harus pergi? Siapa sih bos itu? Apa yang dia inginkan dariku? Apa yang kau-" Aku tidak bisa menyelesaikan pertanyaanku karena dia meletakkan telunjuknya di mulutku.


"Ssst ... Kamu membuatku pusing, ya ampun! Kita akan pergi ke Turki karena aku keturunan orang Turki, aku punya kerabat di sana. Kita akan tinggal di rumah adikku nanti. Selain itu, bukan urusanmu," ucapnya sambil melepaskan telunjuknya dari bibirku.


"Ceritakan semuanya padaku! Aku terlibat dengan ini jadi kamu harus memberitahuku!" Aku berteriak karena benar-benar ingin tahu tentang bosnya.


"Bos itu membunuh Liza! Mengerti? Dia membunuhnya karena aku. Ancamannya berarti dia akan mengejarmu jika aku tidak kembali ke geng. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi!" Vian membentakku, membuatku terdiam saat itu juga.


Aku tetap diam setelah itu. Masuk akal sekarang. Aku melihat sekeliling, tidak ada siapa pun. Aku menghela napas dalam-dalam lalu meraih tangan Vian.


"Hal itu tidak akan pernah terjadi. Dan kalau pun itu terjadi, itu bukan lah salahmu," ucapku.


Dia hanya mengangguk tapi aku dapat melihat bahwa dia tidak mempercayaiku. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela, merasakan bahwa kami akan mulai terbang. Aku masih memegang tangannya, memegangnya lebih erat lagi. Aku meletakkan tanganku yang sebelahnya di tangan kami yang terjalin ketika pesawat mulai bergerak.

__ADS_1


Aku menutup mataku, merasa bahwa kami akan naik ke udara. Aku sangat takut, sehingga aku bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang menahan nafas.


"Bernapas, Sadiya. Apa kamu belum pernah naik pesawat sebelumnya?" Vian bertanya dengan lembut.


Aku mulai bernapas tetapi aku masih tegang, tidak bisa membuka mata. Aku mengangguk, karena aku tahu aku tidak bisa bicara. Aku mendengar Vian menghela nafas, sebelum aku merasakan sebuah lengan tiba-tiba melingkar di bahuku.


"Tidak apa-apa, jangan khawatir. Bagian yang menakutkan hanya beberapa detik," katanya sambil mengangguk.


Aku tetap terpaku padanya sedikit lebih lama, menenangkan karena aromanya yang memikat sebelum aku merasa kursiku tidak diarahkan lagi. Aku membuka mataku, melihat sekeliling. Vian melihat ke sisi lain dan aku berbalik, melihat ke luar jendela.


Kami berada di tempat tinggi dan aku bisa melihat semua rumah kecil. Itu sangat aneh, namun indah.


Aku tidak tahu aku tertidur. Ketika aku bangun, aku melihat sekeliling terlebih dahulu, masih belum sadar di mana aku berada sebelumnya. Akhirnya kesadaranku pulih.


Aku melihat ke luar jendela, ternyata kami masih di udara. Aku mengalihkan pandanganku ke sampingku dan melihat Vian sedang tidur. Ternyata kami masih berpegangan tangan dan aku tersenyum, menikmati perasaan aneh yang menjalar di lenganku. Aku meletakkan kepalanya dengan lembut di pangkuanku agar lehernya tidak sakit saat dia bangun, sambil membelai rambutnya yang lembut dan bergelombang di jari-jariku.


"Oh, Tidak, terima kasih. Tapi saya punya pertanyaan. Kenapa tidak ada orang di pesawat ini, seperti biasanya. Dan kenapa, pesawat ini juga lebih kecil dari yang saya kira," ucapku dan gadis itu menatapku bingung sebelum tertawa.


"Tentu saja, ini pesawat pribadi Pak Vian, kenapa harus ada orang lain di sini?" ucapnya sambil tertawa dan aku ikut tertawa bersamanya, tidak tahu kenapa. Aku bingung. Aku tahu dia kaya tapi aku tidak menyangka dia sekaya itu? Pesawat pribadi, dia bercanda?


Aku merasa Vian menggerakkan kepalanya. Dia bangun, tapi kepalanya masih di pangkuanku.


“Kenapa kalian berteriak di telingaku, aku ingin tidur,” ucapnya sambil kembali meringkuk, membuat aku tertawa.

__ADS_1


“Wah mister bad boy, aku tidak tahu kalau kamu memiliki pesawat," ucapku dan dia hanya mengerang dan kembali tidur. Aku menggelengkan kepalaku, membiarkannya tidur lebih lama.


***


Kami berdiri di depan sebuah rumah. Rumah yang sangat besar dan tampak luar biasa. Rumah itu memiliki taman besar yang ditutupi banyak bunga yang berbeda. Aku bertanya-tanya di mana kita berada. Pintu terbuka ketika Vian mengetuknya.


Seorang gadis kecil berdiri di depan pintu itu, menatap kami dengan ekspresi malu-malu. Dia memanggil ibunya. Vian tidak mengatakan apa-apa. Kami mendengar suara-suara orang berbicara. Setelah beberapa detik kemudian, seorang wanita keluar. Yang mengejutkan adalah dia terlihat persis seperti Vian. Aku mencoba mengingat apakah aku pernah melihatnya, tetapi setahuku aku belum pernah melihatnya, dan itu aneh. Jika itu adalah saudara perempuannya, mengapa dia tidak hadir di pesta pernikahan kami? Wanita itu melihat bolak-balik antara Vian dan aku. Mulutnya melebar dan dia meletakkan tangannya di mulutnya.


“Kak Vian? Alhamdulillah,” ucapnya sambil menghambur ke arah Vian dan memeluknya. Aku tersenyum melihat pemandangan itu. Vian memeluk seseorang bukanlah sesuatu yang biasa kulihat setiap hari. Itu sangat lucu.


Mereka berbicara banyak hal-hal satu sama lain dalam bahasa berbeda yang aku tidak mengerti. Itu membuatku merasa sangat canggung dan seperti orang buangan.


Gadis kecil itu menatapku lama sekali. "Sen kimsin? (Siapa kamu)" tanyanya.


Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, jadi aku hanya bisa berlutut dan mencubit pipinya sambil tersenyum. Dia juga tersenyum.


"Aku tidak bisa memahamimu, Sayang," ucapku dalam bahasa Indonesia. Aku tahu dia mengerti bahasa Indonesia, karena dia tadi memanggil ibunya dengan bahasa Indonesia. Gadis kecil itu menoleh ke arah Vian.


"O Türkçe bilmiyor, Layla (dia tidak tahu bahasa Turki, Layla)" ucap Vian padanya dan dia tampak bingung melihatnya.


"Ini pamanmu Vian, Layla ingat?" tanya ibunya.


Layla mengangguk dan berlari ke arah Vian. Vian merentangkan kedua lengannya dan gadis kecil itu melompat ke arahnya.

__ADS_1


Itu adalah pemandangan yang tidak bisa kugambarkan. Mereka terlihat sangat manis saat bersama. Dia begitu pandai bicara dan bercanda dengan gadis kecil itu, hingga membuatnya tertawa.


Wanita itu menoleh padaku dan tersenyum. "Aku Sevda, adik perempuan Vian. Kamu pasti Sadiya, iya kan?" ucapnya sambil memelukku erat-erat.


__ADS_2