
Dia memelukku sangat erat dan karena aku tidak terbiasa, itu membuatku merasa berbeda. Aku merasa lebih baik. Dia melepaskannya dan masuk ke dalam rumah dengan menjinjing tas besarnya.
“Wah, rumah yang bagus,” ucapnya sambil tersenyum padaku. Aku balas tersenyum, tidak tahu harus berkata apa.
“Aku Masara. Aku menikah dengan si idiot Hamzah itu, jangan tanya kenapa," ucapnya sambil mencoba mencairkan suasana. Aku tersenyum dan menyuruhnya duduk.
"Kamu benar-benar cantik dengan abaya dan kerudung itu," ucapku pelan.
"Oh, benarkah? Terima kasih. Yah, aku tidak seperti ini sebelumnya. Maksudku, sebelum menikah dengan Hamzah," ucapnya sambil berpaling. Aku penasaran tapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh karena aku tidak mengenalnya.
"Apakah kamu lapar? Atau kamu ingin minum sesuatu?"Tanyaku sambil berdiri.
"Aku tidak lapar, terima kasih, tapi aku ingin minum teh," ucapnya dan aku mengangguk. Aku pergi ke dapur untuk membuat teh.
"Jadi, Sudah berapa lama kamu menikah dengan Vian?" tanyanya.
Aku berpikir sejenak. "Kurasa sekarang sudah enam bulan," ucapku tanpa menatapnya. Aku tahu, dia mengangguk.
"Kamu benar-benar pendiam, ya?" tanyanya. Aku menatapnya, mencoba mencari tahu apakah dia bersungguh-sungguh, tapi tidak bisa melihat apa-apa.
"Iya. Mungkin karena aku tidak pernah memiliki seseorang untuk diajak bicara, kecuali Vian," ucapku sambil sedikit tersenyum. Aku tidak ingin melihat wajahnya. Aku tidak ingin melihat rasa bersalah.
__ADS_1
"Oh, aku tahu maksudmu. Aku akan menceritakan kisah cintaku," ucapnya sambil mengambil cangkir teh dan menyeruputnya. Aku ke dapur untuk mengambil cookies, lalu segera kembali duduk di ruang tamu untuk mendengar ceritanya.
"Sebelumnya, aku bukanlah gadis baik-baik. Mungkin aku pantas disebut sampah keluarga. Semua orang di keluargaku sangat baik, taat beragama, kecuali aku. Aku adalah gadis nakal yang tidak pernah peduli tentang apa pun. Aku pergi keluar, bergaul dengan semua orang, merokok, minum minuman keras, melakukan segalanya. Aku tidak tahu bagaimana sholat, atau berpuasa. Satu-satunya yang aku tahu hanyalah tidak makan daging babi, dan tidak memberikan kesucian kita pada orang lain. Pada suatu hari, saat aku sedang nongkrong dengan temanku. Tiba-tiba seseorang datang, dia adalah teman dari temanku itu." Dia berhenti sejenak, pikirannya menerawang seolah kembali ke masa lalu. Aku memperhatikannya dengan seksama, namun tiba-tiba dia tertawa melihat wajahku yang serius.
Sejenak kemudian, dia melanjutkan. "Orang itu langsung bicara dengan temanku. Padahal aku juga masih membicarakan hal penting dengannya. Sontak saja, aku meneriakinya 'idiot' karena dia menyela pembicaraanku dengan temanku. Akhirnya kami bertengkar. Aku terus mencercanya, tapi dia tetap diam dengan tenang. Dia tidak membalas umpatan dan makianku."
"Itu membuatku sangat marah, lalu aku terus mendorong dan mendorongnya. Setelah beberapa saat dia hanya menggelengkan kepalanya mengabaikanku, lalu pergi. Aku belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, itulah sebabnya aku memikirkannya sepanjang waktu."
"Beberapa hari kemudian, kakakku mendatangiku dan mengatakan bahwa seorang pria ingin menikah denganku. Aku benar-benar terkejut, karena aku tidak pernah berpikir seseorang mau menikah denganku."
"Terkadang aku memikirkan tentang itu, tapi aku tidak pernah berharap. Karena aku tahu, tidak ada yang menginginkanku, karena aku bukanlah orang yang baik. Aku memiliki reputasi yang buruk. Jadi, aku memutuskan untuk bertemu pria yang ingin menikah denganku itu. Aku hanya ingin tahu, kenapa dia ingin menikahi gadis yang hidupnya kacau sepertiku? Lalu, aku pergi menemuinya, dan coba tebak siapa dia?" tanyanya sambil menatapku secara misterius.
Aku berpikir sejenak. Bagaimana aku bisa tahu siapa dia? Masara tersenyum padaku.
"Kenapa? "Aku memintanya untuk melanjutkan.
"Dia berkata bahwa dia melihatku setiap malam dalam mimpinya. Dia berkata dia melihat kebaikan dalam diriku tetapi itu sangat dalam dan membutuhkan cahaya untuk ditemukan. Jadi kami berbicara selama beberapa minggu dan akhirnya aku menerima lamarannya. Setelah kami menikah, kami bicara tentang banyak hal. Dia sangat menginspirasiku. Dia memberi tahuku hal-hal yang tidak pernah kuketahui tentang agama ini. Dia membuatku percaya pada Allah. Dan aku sangat bersyukur karena Allah menciptakan lelaki sebaik dia untukku," ucapnya.
Wah, itu benar-benar cerita yang indah. Aku langsung berpikir tentang aku dan Vian. Apakah Vian akan berubah juga ..?
"Yah, kurasa aku tidak seberuntung itu," ucapku tanpa sadar. Mataku membelalak sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku. Apa yang baru saja kukatakan?
__ADS_1
"Apa? Kenapa?" Tanyanya sambil duduk tegak. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku memejamkan mata. Aku membutuhkan suara itu kembali. Aku mencoba berkonsentrasi tetapi tidak berhasil.
"Kau bisa memberitahuku apa saja Sadiya. Aku akan selalu siap menjadi pendengar setiamu. Kita kan teman," ucapnya membuatku sedikit tersenyum.
'Percayalah padanya. Dia akan menjadi bantuanmu untuk menemukannya. Jangan takut. Dia telah dikirim untuk selamanya.
Kamu akan baik-baik saja' Aku mendengar suara yang aku tunggu-tunggu, aku membuka mata dan mencoba membangkitkan kepercayaan diriku.
"Iya, tapi .. Aku tidak punya cerita seperti milikmu," ucapku. Masara menatapku, pikirannya bertanya-tanya apa yang akan aku katakan.
"Orang tuaku memaksaku untuk menikah," sebelum aku bisa menyelesaikan perkataanku aku mendengar Masara terengah-engah.
"Kamu serius?! Bagaimana bisa?! Kenapa?!" Rentetan pertanyaan terlontar dari mulutnya.
"Aku tidak tahu," ucapku sambil menghela nafas dalam-dalam. Aku tidak bisa mengatakan ini, terlalu sulit untuk mengatakannya. Tetapi aku harus membicarakannya dengan seseorang jika aku ingin tetap waras.
"Mereka memaksaku dalam pernikahan ini. Pada awalnya, rasanya seperti di neraka. Tapi itu lebih baik daripada aku tetap tinggal di rumah orang tuaku. Vian terkadang bersikap buruk padaku. Tapi aku tahu, dia hanya kesal dengan apa yang telah terjadi padanya. Dia mengalami banyak hal, jadi aku selalu berusaha untuk bertahan meskipun aku tahu dia tidak menginginkanku. Pada awalnya, aku benar-benar merasa tersiksa. Aku bahkan .. Aku bahkan mencoba untuk mengakhiri semuanya," Aku mengatakan bagian terakhir dengan suara yang terputus-putus.
Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku, karena ini adalah pertama kalinya aku membicarakan masalah ini dengan seseorang. Dia menggeser duduknya mendekat di sampingku lalu menggenggam tanganku di pangkuannya. Itu membuat hatiku berdebar-debar. Cara dia memandangku terlihat seperti dia sangat peduli.
"Kau bisa memberitahuku apa saja. Aku ada untukmu Kamu adalah saudara perempuanku, bagaimana mungkin aku tidak peduli?" ucapnya lembut, mencoba memberiku alasan untuk mempercayainya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak melakukannya. Kami melalui banyak hal. Kami bertengkar. Dia sering berkelahi, entah dengan siapa. Ada hari-hari di mana dia baru saja pulang dengan berlumuran darah dan memar karena dia keluar berkelahi. Setelah beberapa saat, saya tidak tahu apa yang terjadi tapi dia .. dia mulai mempercayaiku."