
Aku menempelkan tubuhku ke dinding, melihat mereka. Aku tidak tahu, perasaan apa ini, tapi aku merasa buruk. Aku belum pernah memiliki hubungan seperti ini dengan seseorang. Aku harap, akan ada seseorang yang mengajariku agar terbiasa dengan perasaan ini. Seseorang yang akan tertawa bersamaku, meskipun aku melakukan kesalahan.
...***...
"Di mana Kevin?" tanyaku pada Husna.
Husna mengalihkan pandangannya ke arahku sesaat. Setelah itu, dia kembali mengolah adonan. Dia terlihat gelisah, sama sepertiku. Semua ini baru saja terjadi, diluar keinginan kita, aku mengerti apa yang dirasakannya.
"Dia mengunjungi ayahnya," jawab Husna, membuat mataku terbelalak.
Ayah... Tentu saja, aku juga punya ayah. Tidak, aku tidak ingin mendengarnya. Aku belum siap untuk mengetahui kenyataan demi kenyataan baru tentang diriku. Aku segera berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Aku berlari meninggalkan rumah itu.
Aku ingin merasa bebas. Aku ingin Vian bersamaku, aku ingin ada di dekatnya, menumpahkan semua isi hatiku dan menangis sekuat tenaga di pelukannya.
...***...
Setibanya di rumah, aku melihat rumah itu kosong. Mungkin, Masara keluar, pikirku. Aku segera masuk ke kamarku dan mengambil ponsel. Aku ingin mendengar suara Vian, sungguh.
"Halo?" ucap Vian di seberang sana. Air mataku mulai mengalir lagi. Aku tidak bisa menahannya.
"Sayang, jangan menangis." Vian memohon. Suaranya membuatku semakin menginginkan dia di sini.
"Vian ..." ucapku lirih di sela-sela Isak tangisku.
"Apakah mereka melakukan sesuatu padamu? Katakan padaku, aku akan membunuh Kev-"
"Tidak, mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya saja ... aku belum bisa menerima ini semua," ucapku. Aku bisa mendengar tarikan nafas panjang Vian.
__ADS_1
"Aku akan segera pulang," ucap Vian. Aku menggelengkan kepala, meskipun aku tahu dia tidak melihatnya.
Aku merasa mengantuk. Tapi Vian tidak memutuskan panggilan teleponnya, sehingga aku bisa mendengar nafasnya. Nafasnya terdengar seperti melodi pengantar tidurku, membuatku merasa nyaman hingga aku terlelap.
...***...
Aku masih terlelap. Namun tiba-tiba aku tersentak karena mendengar suara keributan. Aku berlari-lari untuk melihat dari mana asal suara itu.
Saat aku membuka pintu, aku menoleh ke kiri dan melihat Husam dengan orang tuanya di sampingnya. Mereka menyeringai padaku. Aku mundur beberapa langkah saat mereka melangkah maju. Aku merasakan air mata mengalir di wajahku. Tidak! Tidak, tolong jangan lakukan apapun!
Aku berbalik dan melihat nenekku. Dia menganggukkan kepalanya sepanjang waktu. Aku mencoba lari ke arahnya tapi kakiku tidak bisa bergerak. Mereka semua mulai mendekatiku. Aku melihat wajah Husam dan rasanya aku ingin muntah.
"Vian!" Aku berteriak, mencoba menemukannya. Aku tidak bisa melihatnya.
Aku mendengar suara-suara lain, lalu aku berpaling ke arah suara itu. Dia, Kenzo dan keluarganya. Mereka menjauh dariku. Sementara, keluarga palsuku semakin mendekat. Aku menarik rambutku sendiri karena takut. Aku berteriak memanggil keluarga asliku, namun mereka semakin menjauh.
Tiba-tiba Husam meraih lenganku.
Aku melihat ayahnya mendatangiku dengan membawa korek api. Tidak! Aku berteriak dalam hati. Jangan lagi! Tolong jangan lakukan itu! Tolong jangan bakar aku, aku tidak bisa menerimanya! Aku berteriak dalam hati. Aku mencoba berteriak tetapi tiba-tiba suaraku hilang. Aku berusaha sangat keras sampai tenggorokanku sakit. Dia mendekat dan mendekat dan meletakkan bajuku di atas api-
"Tidak!" Aku berteriak sambil terduduk.
Aku melihat sekeliling dan ternyata aku berada di tempat tidur Vian. Aku mengatur nafasku yang berantakan. Aku tidak bisa menahan tangisku lagi.
"Tenanglah, ini hanya mimpi," ucapku berkali-kali pada diri sendiri.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku merasa tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang memelukku dan meletakkan kepalaku di dadanya. Aku mendengar Masara membaca Al-Qur'an.
__ADS_1
Aku masih terisak dan menjerit. Aku ingin berhenti, tapi tidak berhasil. Semua masih ada. Masa laluku masih ada bersamaku. Mereka tidak akan meninggalkanku. Aku mencoba fokus mendengarkan suara Masara, mungkin itu bisa menenangkanku.
"Sadiya, bangun..."
Aku merasakan seseorang mengusap rambutku. Aku mendongak dan melihat Masara menatapku. Aku mengerang sembari bangkit untuk duduk. Rasanya aku belum tidur sama sekali. Dan saat itulah semuanya kembali. Saya merasa mata saya berkaca-kaca. Itu .. itu sangat menyakitkan. Rasanya seperti saya berada di jalan buntu dan tidak bisa pergi ke mana pun. Rasanya seperti saya ditinggalkan dalam kegelapan dan tidak ada cahaya yang menarik saya keluar. Saya melihat Masara menatap saya dengan ekspresi aneh.
"Katakan, ada apa?" tanyanya pelan. Aku mengangguk lemas.
Dia duduk di sampingku di tempat tidur. Aku menarik napas dalam-dalam.
"Aku hanya mimpi buruk... Mereka, mereka ingin membakarku lagi. Pria itu membawa korek api sambil mendekatiku. Mereka pernah melakukan itu sebelumnya. Itulah sebabnya, aku punya bekas luka bakar di punggungku. Tidak seorangpun pernah melihat bekas luka ini, bahkan Vian sekalipun," ucapku lirih.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, menahan tangis. Aku merasakan Masara menyibakkan ujung belakang pakaianku untuk melihat punggungku.
"Ya Allah! Bagaimana bisa mereka melakukan ini?! Apakah mereka bukan manusia?!" serunya dengan tangan menutup mulutnya.
"Kamu harus melaporkan mereka ke polisi! Mereka harus berada di balik jeruji besi!" ucapnya menggebu-gebu, tapi aku segera menggelengkan kepala.
Jika aku melakukan hal seperti itu, mereka tidak akan pernah meninggalkanku. Aku menghapus air mata bodohku yang tidak pernah meninggalkanku sendirian dan Masara menghela nafas.
"Sadiya, lihat aku," ucapnya dan aku melakukan apa yang dia katakan.
"Kamu harus kuat, oke? Kamu akan menunjukkan kepada mereka bahwa kamu lebih berharga. Kamu akan menunjukkan kepada mereka seperti apa kamu menjadi wanita mandiri. Kamu akan menunjukkan pada mereka, bahwa mereka telah berbuat bodoh, dengan membiarkanmu menikah dengan Vian. Biarkan mereka melihat betapa bahagianya kamu sekarang tanpa mereka. Dan yang paling penting, kamu akan membiarkan mereka melihat bahwa mereka tidak dapat menjatuhkanmu lagi," ucapnya.
"Apa?" tanyaku padanya dengan bingung. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia maksud.
"Jika aku mengalami apa yang kamu alami, mungkin aku akan bunuh diri sekarang. Tapi kamu tidak, kamu kuat. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan tanpa peduli apa yang dikatakan orang lain.
__ADS_1
Kamu sudah menikah dengan Vian, dan dia membiarkan kamu tinggal bersamanya. Dia juga selalu ada untukmu, itu berarti kamu adalah orang yang berharga baginya. Tidak ada yang bisa menjatuhkanmu lagi, dan kamu harus menunjukannya pada mereka!" ucapnya sungguh-sungguh.
Aku menatapnya dengan mata melebar. Apakah dia pikir aku benar-benar bisa melakukan hal itu?