
Kenzo menatapku dan tersenyum.
"Mulai sekarang, kita akan merayakannya bersama. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama. Hingga suatu hari kamu akan memohon padaku untuk pergi, karena aku akan selalu di sisimu," ucapnya dan aku tergelak.
Aku sayang kamu, kembaranku. Untuk pertama kalinya, aku menyadari apa itu sayang. Aku menoleh ke arah wanita yang mendekatiku.
"Khanza .." Aku mendengar suara lembutnya. Suara itu membuatku tersentuh. Aku berlari ke arahnya, lalu melingkarkan lenganku di pinggangnya dan membenamkan wajahku di dadanya.
"Ibu minta maaf .. ibu sangat menyesal, ibu tidak pernah bersamamu selama sembilan belas tahun yang lalu. Maafkan ibu, nak ... Percayalah, ibu tidak pernah memberikanmu pada orang lain ... Merekalah yang mengambilmu, mereka mencurimu dari ibu ... Tolong, maafkan ibu ..." isaknya.
Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan 'tidak' setelah mendengarnya seperti ini? Aku menatap matanya, mata itu memancarkan permohonan yang begitu dalam.
"Aku sudah memaafkan ibu, tapi aku masih butuh waktu ..." ucapku. Ibuku tersenyum. Senyuman yang sangat indah.
"Ayolah, potong kuenya sekarang, aku sudah lapar!" Aku mendengar teriakan Kevin dan Masara meraih tanganku untuk memotong kuenya. Kenzo datang dan berdiri di sampingku.
Aku melihat kue itu. Indah sekali. Nama kami ditulis dengan sesuatu berwarna putih. Aku tidak tahu namanya. Aku dan Kenzo melihat satu sama lain dan tersenyum, lalu memotong kuenya.
Namun, aku merasa belum lengkap, ada orang yang seharusnya ada di sini juga .. Vian.
...***...
Setelah acara itu selesai, Kenzo mengantarku pulang.
Aku melambai pada Kenzo dan masuk ke rumah. Aku tidak bisa menghilangkan senyum dari wajahku. Benar-benar hari yang istimewa, pertama kalinya aku berulang tahun dirayakan oleh keluargaku.
Aku melangkahkan kakiku ke ruang tamu, lalu meletakkan tasku di sofa.
Aku melihat sekeliling, mencari di mana Vian. Aku ingin memberitahunya tentang hari ini. Aku melihat ke dalam kamar dan di kamar mandi tetapi dia tidak ada di sana. Aku mencarinya di kamar lain, tapi dia tidak ada juga. Mungkin dia tidak di rumah.
Aku kembali ke ruang tamu, dan mataku tertuju pada sebuah perhiasan perak yang tergeletak di atas meja. Aku mendekatinya dan meraihnya.
__ADS_1
Itu kalung. Kalung perak dengan hiasan kupu-kupu kecil. Benar-benar kalung terindah yang pernah aku lihat. Tapi, milik siapa ini? Apa ini milik Liza? Atau Vian akan memberikan ini pada Liza?
Aku meletakkan kalung itu kembali di atas meja. Aku tidak tahu punya siapa itu, jadi aku tidak ingin membuat Vian marah.
Aku melihat ke tasku di sofa. Hadiah yang mereka berikan untukku belum dibuka. Aku beranjak mengambilnya lalu membukanya. Ada sebuah buku di dalamnya. Saat membaca judulnya, aku langsung tahu kalau itu dari Masara. Karena, judulnya adalah 'Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat'. Dia memang gila.
Aku membuka halaman pertama, dan melihat secarik kertas berisi catatan di dalamnya. Itu surat dari Masara.
'Aku tahu kamu mungkin akan marah karena aku memberimu hadiah ini TAPI AKU TIDAK PEDULI.
Buku ini terlihat sangat menakjubkan, aku juga membeli satu untuk diriku sendiri. Tapi, sebenarnya aku tidak membutuhkannya, karena kau tahu aku sudah bodo amat.
Pokoknya, selamat ulang tahun, Sadiya. Semoga apa yang kamu inginkan akan terkabul, doa terbaik untukmu.
Tadi, Kenzo menemuiku dan memintaku untuk membantunya merencanakan ulang tahun kalian. Dia adalah pemuda yang luar biasa, kamu beruntung punya kembaran sebaik dia!
Sampai di sini saja ya, ceritanya. Soalnya, Hamza terus berteriak untuk dibuatkan makanan.
Maaf, ugh, apa yang aku lakukan? Kenapa aku tulis di sini juga?
Pokoknya, bye Sadiya. Love love yaa...'
Itu yang ditulis oleh Masara. Aku mulai tertawa setelah membacanya. Aku menggelengkan kepalaku, lalu mengambil hadiah lainnya.
Ya Allah ... ada sebingkai foto. Mataku terbelalak, itu adalah fotoku dan Kenzo. Aku sedang tertidur di sampingnya, dan dia tersenyum manis sambil berfoto selfie. Kapan dia memotoku seperti ini? Ternyata ada selembar kertas juga di belakangnya, aku pun mulai membacanya.
'Kamu pasti bingung, kapan aku mengambil foto ini, hahahaha ... Selamat ulang tahun, kembaranku. Aku sayang kamu...' tulisnya.
"Aku sayang kamu juga .." ucapku tanpa sadar.
Hari ini adalah hari yang indah, dan aku tidak tahu bagaimana meletakkan semuanya di tempat. Aku pikir aku hanya butuh waktu.
__ADS_1
Aku mengambil kado lain dan membukanya. Aku bingung. Ada sepasang sepatu bayi. Warnanya merah muda dan ada hiasan bunga di atasnya. Apakah ini milikku?
Aku mengambil secarik kertas di dalamnya lalu membacanya.
'Ibu tidak tahu, harus memberimu apa, karena ibu tidak tahu apa yang kamu suka. Jadi, ibu memutuskan untuk memberimu sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, tapi kamu tidak punya kesempatan untuk memakainya ... Ibu minta maaf,'
Setetes air mata mulai mengalir saat aku membaca kata-katanya. Dia bingung, sama sepertiku. Dia terluka, sama sepertiku. Dia tidak tahu bagaimana harus bertindak, sama seperti aku. Aku sangat mirip dengannya. Bahkan, matanya, bibirnya semuanya sama. Aku menggelengkan kepalaku dan menggenggam barang-barang, lalu kusimpan semuanya di laci.
Besok adalah hari pertamaku bekerja, jadi aku harus menyiapkan apa yang akan aku pakai.
'Bekerjalah untuk duniamu, seakan kau hidup selamanya. Beribadahlah untuk akhiratmu seakan kau esok tiada.' Aku mengingat kata-kata itu. Tanpa pikir panjang aku pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Setelah itu, aku sholat.
...***...
Saat aku bercermin, aku merasa nyaman melihat wajahku. Jilbab ini .. ini terlihat sangat bagus untukku. Seolah ini adalah bagian dari diriku. Aku merasa bahagia saat melihat wajahku dibalut hijab. Kenapa? Aku tidak tahu. Mungkin benar kata orang, wanita terlihat lebih cantik jika memakai jilbab.
Aku masih memakai jilbab itu, dan tidak terasa aku mulai terlelap. Aku tertidur dengan pikiran bahagia.
...***...
Fajar menyingsing dan aku terbangun. Namun aku tidak melihat Vian. Apakah dia tidak pulang ke rumah?
Aku melihat sekeliling, namun tidak melihat pakaian kotor yang selalu dia lempar di sudut kamar setiap malam. Jadi benar, dia tidak pulang.
Aku berdiri, merasa sedikit sedih karena tidak melihatnya. Aku melihat ke arah jam dinding. Aku hanya punya waktu empat puluh lima untuk bersiap-siap, lalu pergi ke kantor untuk bekerja di hari pertamaku.
Aku berlari dari tempat tidurku dan bersiap-siap.
...***...
Aku menempatkan pashmina yang cocok dengan pakaianku di kepalaku. Kupikir, aku harus membeli lebih banyak lagi, karena aku akan selalu memakainya saat bekerja.
__ADS_1
Aku mengambil tas yang kubeli bersama Masara lalu aku memasukkan barang-barangku. Aku berlari ke dapur untuk sarapan. Setelah itu aku keluar pintu, dan ternyata ada supir yang telah menungguku.