Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Vian Membawa Liza


__ADS_3

"Y.. yang pen.. ting, kamu masih hi.. hidup," bisiknya.


Aku tidak tahan lagi melihat ayahku seperti itu. Aku menghampirinya dan memeluknya. Dia perlahan membalas pelukanku dan aku mulai menangis. Aneh sekali. Rasanya seolah-olah aku sudah mengenalnya begitu lama. Aku memeluknya lebih erat dan aku mendengar dia menangis juga. Itu membuatku merasa sangat buruk, tapi juga bahagia. Mereka .. mungkin mereka, keluargaku sangat peduli denganku ..


Beberapa menit kemudian, kami melepaskan tangan kami dan hanya saling memandang.


"Aku ... aku tidak .. tidak tahu harus berkata apa," bisiknya. Aku tersenyum.


"Aku juga .. Apa ayah ingin aku bercerita tentang diriku?" Aku bertanya kepadanya, tidak tahu mengapa. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang diriku. Dia mengangguk bahagia dan aku tersenyum.


"Yah .. aku tidak punya cerita bahagia atau semacamnya. Ke .. Keluargaku tidak pernah peduli denganku. Itu .. Itu sebabnya aku tidak bisa benar-benar mempercayai seseorang .." ucapku, sambil menyeka air mata yang menetes. Aku duduk di sampingnya dan dia meraih tanganku.


"Mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang baik padaku, kecuali untuk satu hal," ucapku sambil menatap Vian. Dia setengah tersenyum sebelum menutup matanya agar aku melanjutkan.


"Mereka memaksaku dalam pernikahan. Pernikahan yang kupikir hanya akan membawaku dalam keadaan yang lebih buruk, tetapi ternyata tidak. Seiring waktu, aku dan Vian mulai akur. Dan hal-hal yang sangat indah mulai terjadi. Aku berterima kasih kepada Allah karena telah mengirimnya untukku," ucapku sambil menatap Vian. Matanya melebar sedikit dan dia tersenyum.


"Tapi sekarang, aku bisa kehilangan dia. Karena .. masa lalu tidak akan pernah meninggalkan kita, benar kan? Meskipun kita menginginkannya, masa lalu tidak akan pernah hilang ... Dan itu sebabnya aku bisa kehilangan dia kapan saja .." ucapku sambil menunduk, tidak menatap Vian. Aku takut. Takut dengan apa yang mungkin dia pikirkan. Aku mengalihkan pandanganku pada pria di depanku dan kulihat dia menangis.


"Ma .. maafkan ayah," ucapnya. Aku menggelengkan kepala. Ini semua bukan salah ayah atau ibuku, mereka tidak tahu apa yang terjadi padaku.


***


Kenzo menghampiriku lalu lalu melingkarkan lengannya di pundakku. Dia menenangkanku. Kami tetap seperti itu selama berjam-jam. Tidak mengatakan apapun. Hanya duduk di sana dengan mata tertutup, menikmati perasaan yang tidak bisa kami rasakan selama sembilan belas tahun.

__ADS_1


"Terima kasih, Kenzo," ucapku, setelah dia kembali mengantarku pulang. Aku turun dari mobilnya. Sekarang, aku sudah berdiri di depan rumahku. Kenzo mendekat dan memelukku.


"Aku selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi. Kamu, aku.. Kita adalah satu, Khanza dan Kenzo. Jangan pernah lupakan itu. Sakitmu adalah milikku, bahagiamu adalah bahagiaku? Jadi .. Aku ingin tahu segalanya tentangmu. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu untuk lebih mengenalmu .." ucapnya. Aku tidak pernah memiliki perasaan seperti ini dengan Husam. Ini adalah rasa sayang dari seorang saudara yang sebenarnya.


"Aku sayang kamu, kembaranku," bisikku. Dia kemudian memelukku lebih erat dan beberapa saat kemudian, kami mengucapkan selamat tinggal.


***


Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah. Aku tidak tahu, dimana Vian. Bahkan aku tidak tahu, kapan dia pergi dari rumah sakit tadi.


Aku mendengar suara dari ponselku, menandakan ada pesan baru yang masuk. Aku mengeluarkannya dari saku. Ternyata ada pesan dari Vian.


'Jangan khawatirkan aku. Aku sedang bersama dengan temanku.'


Teman? Aku sangat yakin, Vian pasti sedang bersama Liza. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu masuk ke ruang tamu dan mataku menangkap sesuatu di sudut ruangan.


Saat itu, saat aku masih sekolah, guru kesenianku mengajariku cara memainkan gitar, karena aku harus tampil untuk suatu acara di sekolah. Aku tidak bernyanyi, hanya memainkannya. Rasanya menyenangkan. Seni adalah satu-satunya pelajaran yang aku sukai di sekolah. Aku memang tidak terlalu pintar di bidang akademik, namun aku cukup mahir dalam seni.


Tapi, sekarang aku akan melakukan apa saja untuk kembali belajar dan menetapkan masa depan yang baik untuk diriku sendiri.


Aku duduk di lantai dan mulai memetik-metik senar gitar itu. Jari-jemariku terasa sedikit sakit tapi aku tidak peduli. Ketika aku mendapatkan akord yang bagus, aku mulai memainkan lagu yang dulu pernah kupelajari.


"Bila nanti kita berpisah. Jangan kau lupakan kenangan yang indah, kisah kita. Jika memang kau tak tercipta untuk kumiliki."

__ADS_1


"Jadikan ini, perpisahan yang termanis, terindah dalam hidupmu ... Sepanjang waktu," Itulah lagu yang kunyanyikan saat perpisahan sekolahku dulu. Aku masih menghapal beberapa liriknya.


Aku mulai bernyanyi, tidak mendengar apa-apa lagi. Tidak mendengar pintu terbuka atau seseorang masuk ke dalam. Aku merasakan air mata mengalir ketika aku mendengarkan kata-kata yang aku nyanyikan.


Aku tersenyum sedikit ketika memikirkan mata cokelat terang Vian. Ketika dia tertawa, matanya jadi sipit sedikit seperti orang Cina


Senyumanku memudar ketika aku memikirkan tentang semua rasa sakit yang dulu kualami.


"Kau menunjukkan padaku sesuatu yang tidak bisa kulihat. Kamu membuka mataku dan kamu membuatku percaya."


Aku hanya bersenandung setelah kalimat terakhir dan setelah beberapa detik aku mengakhiri lagu itu. Aku merasakan air mataku mengalir dan aku menyekanya. Ketika aku membuka mataku, aku terkejut melihat Vian di hadapanku.


Dia terlihat sangat kaget dan matanya berbinar. Aneh sekali, sepertinya dia telah mendengar semuanya. Sepertinya dia menyukainya. Namun, pikiranku itu memudar ketika aku melihat gadis di belakangnya ..


Aku menoleh pada Vian, lalu pada gadis itu. Apa yang dia lakukan disini? Apakah dia .. Apakah Vian benar-benar akan meninggalkanku?


"Sadiya ... " ucap Vian. Aku berdiri dan meletakkan gitar itu ke samping. Aku menghampiri mereka, namun menghindari kontak mata dengan gadis itu.


"Liza akan menginap di sini malam ini," ucapnya. Aku mengangkat alis. Apa? Aku menoleh ke arah Liza, dan dia tersenyum sinis. Matanya terlihat basah, sepertinya dia baru saja menangis, atau pura-pura menangis?


"Dan bolehkah aku bertanya, kenapa?" tanyaku sambil kembali menoleh pada Vian. Vian memutar bola matanya malas. Berani-beraninya dia melakukan itu? Membawa gadis ini untuk bermalam di rumahku?!


"Karena dia tidak punya tempat tinggal," jawabnya. Aku meletakkan kedua tanganku di pinggang.

__ADS_1


"Yah, dia kan bisa kembali ke tempat asalnya selama dua tahun terakhir ini. Memangnya dua tahun terakhir ini dia tinggal di mana?" Ucapku sambil menatap Liza sinis. Tiba-tiba Liza mengambil langkah ke arahku.


"Heh, diam kamu!" ucapnya sambil melangkah ke arahku dan mengacungkan telunjuknya ke wajahku.


__ADS_2