
Aku terbangun dan membuka mataku. Aku mendapati diriku berbaring di ranjang dimana aku belum pernah tidur di sini sebelumnya. Aku mengedarkan pandanganku dengan bingung. Aku melihat Vian tertidur pulas. Dia berbaring di ujung ranjang, menjaga jarak sejauh mungkin agar tidak dekat denganku.
Aku mencoba melupakan kejadian tadi malam. Aku turun dari ranjang lalu melangkah ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Vian sedang menatap cermin sambil memakai kemejanya. Dia tidak melihatku, namun aku yakin bahwa dia menyadari keberadaanku.
"Ini semua terjadi hanya karena kamu ketakutan tadi malam, makanya kamu bisa tidur di sini. Tapi, itu bukan berarti aku tidak membencimu," ucapnya dengan nada kasar seperti biasanya.
"Iya, aku mengerti," jawabku cuek. Padahal, ada rasa sakit terbersit di hatiku saat mendengar perkataannya barusan, namun aku berusaha menyembunyikannya.
Vian berhenti membenahi kemejanya. Ia berbalik menatapku. Kurasa dia tidak senang dengan nada jawabanku barusan, atau dia tidak menginginkan aku menyela perkataannya. Dia melangkah maju mendekatiku lalu mendorongku kasar hingga aku hampir terjatuh.
"Kamu tahu? Kamu telah tidur denganku. Itu membuatmu sama saja seperti seorang pelac–" Aku mengerti apa yang akan dikatakan Vian. Dengan cepat, aku menyelanya sebelum dia sempat melanjutkan perkataannya.
"Tidak! Jangan berani melanjutkan perkataanmu! Aku bukan pelacur! Aku tidak pernah menyentuh laki-laki manapun. Dan aku tidak pernah tidur dengan laki-laki sebelumnya. Jadi, jangan berpikir bahwa semua wanita itu sama seperti Liza!" Aku meluapkan emosiku. Namun, aku tidak menyangka akan mengatakan hal itu.
Aku menyesali perkataanku. Aku tahu gadis itu adalah titik kelemahannya, Dia akan menjadi sensitif jika seseorang menyebut namanya, siapapun dia. Hanya Allah lah yang berhak menilai seseorang, aku bahkan tidak tahu siapa gadis itu, tapi aku menyebut namanya dan membuatnya marah.
Dia menatapku dengan sorot mata penuh amarah sedangkan kakinya melangkah mendekatiku. Dia tersandung lalu mendorongku dengan begitu keras hingga aku terbanting. Kurasakan punggungku membentur dinding dengan amat keras. Aku sangat terkejut. Mulutku menganga, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas yang tertahan. Aku mulai merasakan sakit. Aku gemetar ketakutan, sambil mencoba mengatur nafasku dengan berat.
Dia berdiri di depanku, menatapku yang sedang kesakitan. Aku melihatnya dengan jijik. Aku merasa seolah dikhianati, meskipun aku tahu, dia melakukannya tidak sengaja.
Dia masih menatapku, lalu mencoba mendekatiku. Namun aku segera menggeser posisiku agar menjauh darinya. Aku masih gemetar ketakutan. Setiap kali punggungku membentur dinding, aku merasa takut kejadian di masa laluku itu kembali terjadi lagi. Hal itu akan terjadi lagi.
"Sa-sadiya ... Sadiya, tolong maafkan aku ... Ma-maaf ..." Ia terbata-bata. Aku menggelengkan kepalaku.
"Pergi!" teriakku sambil menggeser kakiku, berusaha untuk menjauhinya. Namun, dia memegang lenganku. Aku mencoba melepaskannya, namun dia justru memegangku lebih erat. Ketakutan seolah mengalir dalam darahku, membuatku tak berdaya.
"Pergi!!" Aku berteriak. Dia masih berdiri di depanku untuk sesaat, setelah itu dia mengangguk dan pergi meninggalkanku. Aku terduduk di lantai sambil memeluk lututku. Seluruh tubuhku merinding, aku merasakan seolah-olah kejadian itu terulang kembali. Air mata mengalir deras di wajahku. Aku selalu menangis di saat aku butuh bantuan, tapi tidak seorangpun datang menolongku. Aku selalu menangis ketika mereka memukulimu dengan keras hingga aku tak sadarkan diri selama berjam-jam, atau bahkan berhari-hari. Aku selalu menangis karena aku lemah, hanya sebuah beban dan bukan milik siapa-siapa. Aku hanya makhluk yang sia-sia, aku tahu itu.
Aku menyeka air mata di wajahku dengan lengan bajuku. Lalu beranjak pergi ke kamar mandi. Aku melihat wajahku di cermin.
"Kamu harus kuat!" kataku pada pantulan bayangku di cermin. Meskipun kutahu itu sangat bertentangan dengan apa yang baru saja kupikirkan beberapa saat yang lalu. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri. Aku melihat mataku. Mataku sedikit bengkak dan memerah, sedai wajahku terlihat pucat, sama seperti beberapa hari yang lalu. Aku menyeka air mataku.
"Kamu harus melawan! Bukan untuk orang lain. Untuk dirimu sendiri," ucapku pada diri sendiri. Aku mencoba untuk menutup mataku. Tiba-tiba aku mendengar suara. Suara asing yang muncul begitu saja dalam pikiranku, yang aku sendiri tak tahu itu suara siapa.
__ADS_1
'Semua yang kamu lalui hanyalah ujian. Jangan pernah meninggalkan agamamu. Percayalah kepada Allah. Dia tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya. Kamu diuji karena kamu kuat. Jangan berkata kepada Allah, "Aku punya masalah yang besar." Tapi katakanlah kepada masalahmu, "Aku punya Allah Yang Maha Besar." Temukan Allah, tumpahkan semuanya masalahmu padaNya. Dengan begitu kamu akan melaluinya dengan mudah. Tiada daya dan kekuatan melainkan dari-Nya.'
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit setelah mendengar suara itu. Aku terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, aku menarik-narik rambut di kepalaku dengan jari jemariku, berusaha menghilangkan rasa sakit yang ada di kepalaku. Aku memilih untuk diam dan menahan rasa sakit itu sampai hilang sendiri. Itu lebih baik dari pada berteriak-teriak.
Setelah beberapa saat, sakit kepalaku hilang. Aku beranjak ke dipan ruang tengah sambil membawa sebuah buku di tanganku. Buku yang diberikan oleh seorang wanita ketika aku membeli sayur di warung waktu itu. Setelah apa yang baru saja terjadi, membuatku merasa perlu untuk membaca buku ini. Aku tidak ingin membacanya, tapi hatiku mengatakan aku harus membacanya. Aku membuka halaman pertama lalu mulai membacanya. Air mataku hampir jatuh, tapi aku segera menghapusnya. Jangan menangis lagi! Aku berkata pada diri sendiri.
'Berdoalah, maka Allah akan mengabulkan doamu. Jangan lupa untuk mendirikan sholat lima waktu. Karena sholat adalah hal pertama yang akan ditanyakan di hari penghakiman. Bayangkan, saat itu Allah akan berkata pada para malaikat, "Jika dia mengerjakannya sholat lima waktu, masukkan dia ke dalam surgaku."
Perbaiki hubunganmu dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia.'
Aku tidak bisa membaca lebih banyak lagi. Bukan karena aku tidak mau membacanya. Tapi karena pandanganku menjadi buram, karena mataku berkaca-kaca lalu air mataku mengalir deras. Aku menutup buku itu lalu terduduk diam merenungi kalimat demi kalimat yang baru saja kubaca.
Beberapa saat kemudian, aku beranjak ke dapur. Aku membuka kulkas untuk mengambil makanan. Baru saja aku akan mengambil apel, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Aku melangkahkan kakiku menuju pintu depan dan membukanya.
Mataku terbelalak ketakutan melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Aku tidak menyangka dia akan datang ke sini di saat Vian sedang tidak di rumah. Dia adalah laki-laki yang waktu itu datang ke rumah ini memberikan paket berisi ganja dan obat-obatan terlarang kepada Vian. Dia adalah laki-laki yang waktu itu mencengkeram erat pergelangan tanganku saat aku di taman.
Dia menyeringai dan tertawa melihatku.
__ADS_1