
Aku mencoba menendangnya dengan kakiku, tapi dia begitu kuat sehingga tidak merasakan apa-apa. Aku mulai menangis ketakutan.
Dia membawaku keluar rumah. Aku melirik ke sekitarku berharap ada orang yang melihat, tapi sama sekali tidak ada orang di sana. Dia mendorongku dengan kasar ke dalam mobil lalu menutup mataku dengan kain dan dia ikat di belakang kepalaku. Aku menangis ketakutan dan berteriak sekeras mungkin, berharap agar ada seseorang yang mendengar. Tapi tiba-tiba aku merasakan mulutku ditutup dengan plaster olehnya. Terasa sangat perih ketika plaster itu mengenai kulit wajahku.
"Diamlah, atau aku akan membunuhmu!" ucapnya dengan geram. Aku menangis tanpa suara. Hingga kain penutup mataku terasa basah oleh air mataku.
Aku berusaha memberontak, menendang ke segala arah. Tapi sama sekali tidak membuahkan apa-apa. Hingga semua energiku terkuras habis dan aku terdiam tak berdaya. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku begitu takut dia akan berbuat macam-macam padaku.
'Jangan takut, Allah menyertaimu. Berdoalah,' Aku mendengar bisikan asing itu lagi. Aku tidak kaget lagi mendengar suara asing itu, aku mulai terbiasa. Aku tidak tahu apa yang kualami ini, kenapa aku seringkali mendengar bisikan atau suara-suara aneh di saat seperti ini. Apakah aku mempunyai gangguan jiwa?
Suara itu membuatku merasa sedikit tenang. Aku mulai berdoa dalam hati. 'Ya Allah, bantu aku. Bantu dan beri aku kesempatan untuk membuktikan diri bahwa aku bisa menjadi seorang muslim yang baik. Amankan aku dari kekacauan ini,'
Aku merasa ada sesuatu ditempelkan di depan hidungku membuatku mau tak mau harus menghirupnya. Perlahan aku kehilangan kesadaran.
***
Aku mendengar suara gaduh. Aku mencoba untuk membuka mataku, tapi tak bisa. Mataku terasa berat. Aku bahkan tidak bisa bergerak. Kepalaku terasa sangat pusing. Entah apa yang telah dia berikan padaku.
"Aku sudah mendapatkan wanitamu, Vian! Sudah ku bilang, aku akan mengambilnya darimu jika kau tidak memberikan semua bagianku!"
Aku mendengar suara menjijikan Alex. Perlahan kesadaranku mulai kembali. Aku mencoba membuka mataku dan melihat sekeliling. Semuanya gelap. Aku mengamati setiap sudut ruangan itu. Aku berada dalam sebuah ruangan yang terlihat lama tak terurus. Terlihat seperti bangunan tua yang sudah lama tidak ditempati. Aku mencoba bangkit untuk berdiri, tapi tak bisa. Mereka telah mengikatku. Aku mencoba menggerakkan tanganku, berharap dapat membebaskan diri sendiri. Tapi ternyata tanganku terikat dengan sangat kuat, rasanya sakit sekali saat aku mencoba menarik pergelangan tanganku. Aku berdesis kesakitan dan Alex tiba-tiba mengalihkan pandangannya padaku.
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu dua hari yang lalu, di telepon?! ... Baiklah, kuberi kau satu kesempatan lagi. Bawa semuanya ke sini sekarang juga! Atau kalau tidak kau akan melihat akibatnya! ..." ucapnya dengan kasar sembari melihat ke arahku.
"Dia sudah sadar sekarang ... Oh, sayang, kenapa kamu menangis?" ucapnya padaku dengan ekspresi menjijikkan yang aku sendiri tak sudi untuk melihatnya. Ia berjalan mendekatiku lalu jongkok di sebelahku.
__ADS_1
"Ini suamimu. Katakan padanya, dia harus melakukan apa yang kuperintahkan, jika kau ingin pergi dari tempat ini hidup-hidup," ucapnya dengan salah satu tangannya memegang ponsel, sedangkan tangan sebelahnya menjambak rambutku lalu menariknya ke bawah, membuatku tersentak. Aku mengangguk dan air mata kembali mengalir deras di wajahku. Dia meletakkan ponsel itu di telingaku.
"... Vian?" ucapku lirih. Suaraku sedikit bergetar, karena takut. Namun, aku sedikit merasa lega dapat berbicara dengannya.
"Sadiya, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya. Mendengar suaranya membuatku merasa sedikit tenang.
"Iya, Vian ... Cepatlah datang," ucapku lirih nyaris tak terdengar.
"Iya aku datang, sayang. Tolong, tolong bertahanlah. Aku datang!" ucapnya membuatku tersenyum. Baru saja aku ingin mengatakan sesuatu lagi, Alex membawa ponselnya dan mengakhiri panggilan itu. Kemudian dia mengambil rokok dari saku celananya lalu menyalakannya dan menghisapnya.
***
"Hei, bangun!" Aku mendengar suara seseorang berteriak. Aku berdesis kesakitan, menyadari aku baru saja tertidur di kursi.
"Dia pasti akan datang untuk menyelamatkanku," ucapku sambil memelototinya. Entah apa yang merasukiku sehingga aku bisa seberani itu.
Dia mengambil satu langkah ke depan dan sebelum aku menyadarinya, dia menamparku keras. Saya merasakan perih dipipiku. Aku menoleh padanya dan memelototinya, berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa itu memang menyakitkan.
Teleponnya berdering, membuatku menghela nafas yang aku tahan. Tubuhku mulai bergetar, mengingat momen-momen masa laluku.
"Dimana kau? Lama sekali! ... Sudah terlambat! Kalau saja kau datang lebih cepat, mungkin dia masih hidup," ucapnya membuatku bingung. Aku tahu, dia sedang berbicara dengan Vian, tapi kenapa di mengatakan bahwa aku sudah mati?
Dia memutuskan sambungan teleponnya. Lalu dia bersiul dengan keras. Tiba-tiba banyak orang muncul di sekitar. Mereka tiba-tiba muncul begitu saja entah dari mana. Aku melihat beberapa dari mereka muncul dari balik furnitur-furnitur yang sudah terlihat tua di dalam bangunan ini.
Aku bertanya-tanya dalam hati. Ada apa ini? Apakah Vian sudah datang? Aku mengedarkan pandanganku, mencari keberadaannya.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara gubrakkan keras dan daun pintu di depanku terlepas dari engselnya. Aku melihat banyak sekali pria memasuki ruangan ini. Tapi aku yakin, itu bukan anak buah Alex. Di antara mereka aku melihat Vian. Mereka semua memegang pistol di tangannya. Mereka berjalan mendekat. Sorot mata Vian terlihat sangat menyeramkan, seolah-olah sudah siap untuk membunuh. Aku mencoba bergerak agar dia melihatku, tapi tak bisa.
"Di mana dia?!" teriak Vian di hadapan Alex. Dia menodongkan pistolnya ke kepala Alex. Namun, anak buah Alex dengan sigap juga menodongkan pistolnya ke kepala Vian. Aku sangat takut, aku ingin segera keluar dari tempat ini. Aku ingin segera keluar, tanpa melihat siapapun terluka.
"... Vian," ucapku perlahan. Vian mengedarkan pandangannya ke arah suaraku. Ia mengerjakan matanya, lalu berlari ke arahku. Dia melihatku untuk memeriksa apakah aku terluka. Aku menggelengkan kepalaku untuk meyakinkannya bahwa aku tidak terluka. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Tatapan kemarahan terpancar di matanya. Aku tahu, kali ini kemarahan itu tidak ditujukan padaku.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku. Tentu saja tidak! Bagaimana bisa aku baik-baik saja dalam keadaan seperti ini? Dia mengusapkan jari jempolnya di dipipiku, dia menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku. Aku sangat takut. Aku sangat takut menjadi alasan meninggalnya seseorang lagi," ucapnya. Aku menundukkan wajahku, aku ingin segera pergi dari tempat ini ...
"Bawa aku pulang," bisikku dan dia mengangguk. Dia melepas semua tali yang mengikatku lalu mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya. Baru saja Vian berdiri untuk membawaku, Alex dan salah satu anak buahnya datang menghadang.
"Mana barang-barang itu, Vian?" tanyanya. Vian mendongakkan dagunya ke sudut ruangan, menunjukkan di situlah dia melekatkannya. Aku mencoba untuk melihatnya, tapi aku tidak bisa. Alex melihat ke sudut ruangan itu lalu menyeringai.
"Ohh, bagus. Dan, dia baik-baik saja," ucapnya membuat Vian tiba-tiba marah. Vian meletakkanku di lantai lalu mengayunkan kepalan tangannya ke wajah Alex. Aku berteriak kepada Vian agar dia berhenti, tapi dia tidak mendengarkanku.
Aku merasa kakiku begitu lemas, sehingga aku tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri. Aku hampir saja terjatuh, tapi seseorang tiba-tiba datang menolongku dengan menarik lenganku. Aku melihatnya dan dia tersenyum padaku. Kupikir dia adalah anak buah Vian.
Alex mengayunkan kepalan tangannya dan hampir saja mengenai wajah Vian. Tapi anak buah Vian dengan sigap menahannya dengan memegang tangannya. Setelah itu, Vian menghajar semua anak buah Alex. Mereka akan memulai perkelahian hebat, aku yakin itu. Aku benar-benar takut.
"Jangan berani melakukannya!" ucap Vian dan semuanya meletakkan pistolnya ke bawah. Aku bertanya-tanya kenapa. Vian adalah musuh mereka, tapi kenapa mereka mendengarkan perkataanya.
Bagaimana bisa Vian mempengaruhi mereka? Aku menggelengkan kepalaku, berusaha untuk tidak memikirkannya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana situasi saat ini.
Vian kembali menghampiriku. Ia kembali mengangkatku dengan kedua tangannya. Aku melingkarkan kedua tanganku ke lehernya. Aroma tubuhnya membuatku merasa nyaman, hingga aku tertidur.
__ADS_1