Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Berbicara


__ADS_3

Aku melihat Liza ada di dapur, sedang membuat sesuatu.


"Maafkan aku, kupikir setidaknya aku harus membuat sarapan," ucapnya dan aku tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia sedang merencanakan sesuatu, atau memang mencoba bersikap baik.


"Kamu membuat apa?" Aku bertanya saat melihat dia memecahkan telur.


"Oh, hanya omlet, aku tahu Vian suka ini untuk sarapan," ucapnya dan aku mulai tertawa. Lalu, aku menggelengkan kepalaku.


“Sebenarnya dia benci telur. Dia hanya suka roti dan secangkir kopi hangat untuk sarapan," ucapku dan wajah Liza tiba-tiba tertunduk.


"Tapi tidak apa-apa, aku suka,” ucapku dengan cepat saat melihatnya murung. Dia tersenyum padaku lalu sibuk dengan telur dadarnya ketika aku sedang membuat kopi.


"Su .. sudah berapa lama kamu menikah?" tanyanya. Aku menoleh ke arahnya, dan kulihat dia sedang kesulitan, padahal hanya membuat telur dadar.


"Hampir setahun, kurasa," jawabku dan dia mengangguk.


Setelah itu tidak ada satupun dari kami yang berbicara dan kami pergi ke meja makan untuk sarapan. Vian masih mandi, dia selalu menyempatkan diri untuk mandi selama satu jam, jadi kami mulai makan.


"Ini enak sekali," ucapku memuji masakannya dan dia tersenyum. Entah kenapa, aku hanya ingin bersikap baik padanya.


Kami pun mulai meletakkan semuanya di meja makan saat Vian keluar dari kamar kami. Dia sudah berpakaian rapi dan sibuk memakai arlojinya. Saat aku melihatnya lebih dekat, ternyata itu jam tangan yang kubelikan untuknya.


"Sadiya, bersiap-siaplah," ucapnya. Aku pun segera pergi ke kamar. Mengganti pakaianku lalu segera kembali menghampirinya.


Aku melihat Liza memakai jaketnya dan membawa tasnya.


"Apakah kamu akan pergi?" Aku bertanya padanya. Dia menatapku sesaat dan mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, lalu segera pergi keluar rumah. Aku menoleh ke arah Vian.

__ADS_1


"Apakah kamu mengatakan sesuatu padanya?" tanyaku pada Vian. Dia tidak menjawab. Dia hanya memutar bola matanya malas.


...***...


Sekarang, kami berada di depan sebuah bangunan megah. Aku berdiri memandang bangunan itu, masih tak percaya aku bisa berkerja di tempat semewah ini. Aku menunggu Vian mengunci mobilnya. Setelah itu, Vian menghampiriku dan meraih tanganku. Aku terkejut, mataku melebar, namun aku tersenyum setelah melihatnya. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku.


"Kamu sangat cantik, apalagi saat memakai hijab," bisiknya di telingaku. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, dia menyeretku ke dalam gedung itu.


Orang-orang menatap kami dengan aneh. Mungkin, mereka tidak menyangka bahwa Vian punya istri yang jelek sepertiku.


Saat aku tiba di kantorku, aku melihat semua furnitur yang kuinginkan sudah ada di sana. Aku tersenyum sambil melangkah ke arah furnitur yang indah itu. Aku sudah punya rencana di kepalaku, di mana aku harus meletakkan semua itu.


"Aku akan menemui ayahku dulu," ucap Vian.


"OK," ucapku. Vian pun pergi meninggalkanku sendiri di ruanganku.


"Apakah Masara ada di sini hari ini?" Aku bertanya padanya. Dia memutar bola matanya lalu menatapku dengan tatapan tak senang.


"Kami tidak menerima pengunjung di sini. Ini adalah perusahaan mewah, jadi silakan tanya dengan pekerja di luar," ucapnya dan aku tertawa. Jadi begitu caranya melayani pengunjung?


Aku melihat wajahnya dan tersenyum. Dia mengangkat alis seolah berkata 'tunggu apa lagi di sini?'


"Kamu dipecat!" ucapku. Dia menatapku dengan mata terbelalak untuk sesaat, kemudian dia mulai tertawa.


"Lelucon yang bagus, sekarang pergilah. Aku punya pekerjaan yang harus dilakukan," ucapnya dan aku kembali tertawa. Perempuan ini seharusnya tahu dengan siapa dia berbicara.


"Saya bisa memecatmu kapan saja. Dan anda tidak tidak bisa berbuat apa-apa. Apa anda tahu siapa saya?" ucapku dan dia hanya menatapku dengan mata bosan, tapi aku bisa melihat sedikit ketakutan di dalamnya.

__ADS_1


"Aku Sadiya, menantu perempuan dari pemilik perusahaan ini, gedung ini, dan bahkan kursi yang anda duduki. Jadi, jangan pernah berani berbicara dengan saya seperti itu lagi, dan jangan pernah berani berbicara dengan orang-orang yang datang ke sini dan menanyakan hal seperti itu. Atau aku akan memecatmu. Mengerti? Baik. Sekarang beritahu aku dimana Masara?" ucapku.


Dia mengangguk tapi aku masih bisa melihat ketidakpercayaan di matanya. Aku merasa baik dan buruk pada saat yang sama. Bagus, karena untuk pertama kalinya aku membela diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Dan buruk, karena aku tahu aku tidak bisa memperlakukan orang seperti itu. Tapi aku harus memulainya jika aku ingin menjadi kuat. Dalam bisnis kita harus bersikap tegas dan disiplin, seperti yang dikatakan ayah mertuaku.


"Dia punya hari libur. Dia tidak pernah bekerja pada hari Senin," ucapnya, lalu aku mengangguk sebelum berjalan kembali ke ruanganku.


Saat aku masuk, aku melihat Vian bersandar di mejaku. Dia hanya melihat ke depan dan aku menghampirinya dan bersandar di meja juga, aku memperhatikannya. Aku tahu dia merasa tidak enak, karena kami akan melakukan pembicaraan yang serius sekarang.


Aku melihat sekeliling ruangan. Semua yang kubutuhkan ada di sana dan aku tidak percaya. Ayah mertuaku menyuruhku menyelesaikan kantorku dulu, kemudian mulai mengerjakan proyek. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan bekerja sungguh-sungguh.


"Terima kasih," ucapku. Vian menatapku sesaat sebelum mengalihkan pandangannya lagi entah kemana.


"Untuk apa?" ucapnya dengan pelan. Suaranya terdengar tegang dan aku bisa merasakannya.


"Untuk semuanya. Untuk pekerjaan ini. Aku hanya ingin berterima kasih. Itu saja," ucapku dan dia mengangguk. Aku meraih tangannya sebelum aku berdiri dan pergi ke depannya.


"Apakah kamu ingin bicara sekarang?" tanyaku. Dia tidak melihatku tapi mengangguk. Aku mengangguk kembali lalu mengambil tas dan jaketku. Dia menungguku di dekat pintu dan ketika kami keluar, dia meraih tanganku.


"Vian ..." ucapku pelan. Kami telah duduk di bangku itu selama beberapa menit, tetapi dia masih belum mulai bicara.


Tidak ada seorang pun di sekitar dan aku senang. Siapa tahu, mungkin kami akan berteriak dan berdebat. Seperti biasa. Ya Allah, tolong jangan biarkan ini semua berubah menjadi buruk. Aku berdoa dalam hati.


"Aku .. Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa .." ucapnya sebelum air mata mengalir di wajahnya. Mataku membelalak. Vian menangis. Dia tidak bersuara tapi dia menangis.


"Aku tidak tahu Sadiya .. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang," ucapnya dan aku meraih dagunya agar dia menoleh ke arahku. Dia tidak menatap mataku tapi aku menatapnya selama beberapa detik. Lalu aku melingkarkan lenganku di lehernya dan memeluknya.


"Apa kamu menginginkan ini?" Aku bertanya kepadanya. Aku yakin, dia tahu persis apa yang kumaksud. Apakah dia menginginkan ini, pelukanku .. Dia tidak menjawab sedetik pun. Dia hanya mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Oh, atau kamu menginginkan miliknya?"


__ADS_2