
Aku sedang terlelap. Tiba-tiba dering telepon membangunkanku. Aku membuka mata dan mencari dari mana suara ponsel itu berasal.
Aku turun dari tempat tidurku, lalu berdiri dan mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja samping tempat tidurku. Aku mengerutkan kening saat aku melihat nomor yang tak dikenal. Aku menjawab panggilan itu dengan suara pelan.
"Halo?" ucapku.
"Ah, Sadiya. Kata Vian disainmu itu sangat bagus, aku ingin melihatnya. Bisakah kamu datang hari ini?" Aku mendengar suara Ayah mertuaku dari seberang sana.
"Ehm ..." Aku terduduk diam.
"Halo?" ucap ayah mertuaku.
"E, iya aku akan datang. Jam berapa aku harus ke sana? Dan, di mana alamatnya? Maksudku, aku belum pernah ke sana, jadi aku tidak tahu." Aku mulai meracau dengan gugup, aku takut kalau ayah mengetahui masalahku dengan Vian.
"Jangan khawatir, aku akan mengirim sopirku. Kirim saja pesan kamu ada di mana, nanti supirku akan menjemputnya. Bersiaplah pukul dua siang, ya?" ucapnya dengan sedikit tertawa karena suara gugupku, mungkin.
Aku mengangguk. Aku menepuk keningku saat menyadari bahwa ayah mertua tidak bisa melihatku.
"Baiklah," ucapku.
"Sampai bertemu nanti,"
Setelah mengucapkan selamat tinggal, aku mengakhiri panggilan itu.
Pintu kamarku terbuka. Kenzo datang sambil membawa sepiring sandwich di tangannya. Dia tersenyum lalu duduk di sampingku. Dia melihat ponselku.
"Aku yang mengecasnya tadi malam," ucapnya. Membuatku baru tersadar bahwa ponselku benar-benar mati sejak kemarin sore.
"Terimakasih," ucapku sambil tersenyum.
Kami pun mulai makan dengan saling diam. Aku sibuk memperhatikan wajahnya, membandingkannya dengan wajahku. Kami benar-benar sangat mirip. Tidak diragukan lagi, siapapun yang melihat kami pasti sudah tahu kalau kami kembar.
Dia sangat manis, dia sangat perhatian padaku. Bahkan dia sudah bersikap baik padaku sebelum dia mengetahui bahwa aku adalah kembarannya.
__ADS_1
Aku melihat sekeliling, memperhatikan seisi kamar ini. Aku harus menemui ayah kandungku, aku harus mengenal keluargaku, apa pun yang terjadi.
"Aku ingin bertemu dengan ayah," ucapku dan dia menatapku dengan bingung.
Aku mengangguk, dan dia melebarkan matanya.
"Benarkah?!" ucapnya dengan mata berbinar-binar. Aku mengangguk lagi sambil tersenyum.
"Terimakasih," ucapnya sambil merangkulku.
"Oh iya, aku lupa. Hari ini aku harus pergi jam dua siang nanti. Ayah Vian ingin bertemu denganku," ucapku. Suaraku sedikit parau di akhir ucapanku, karena aku kembali memikirkan Vian. Tidak, aku tidak boleh memikirkan dia lagi. Aku harus kuat!
"Kamu dengan Vian baik-baik saja kan?" tanya Kenzo pelan. Aku langsung berhenti makan, aku sudah kehilangan nafsu makan.
Aku menatapnya. Aku memang tidak pandai berbicara. Mungkin, karena aku tidak pernah memiliki seseorang untuk diajak bicara. Tapi itu akan berubah perlahan. Aku memejamkan mata untuk mendengar suara aneh itu, tetapi suara itu tidak datang. Aku membutuhkannya.
"Sebenarnya kami .. ehm.. masalahnya sedikit rumit, tapi aku akan memberitahumu nanti," ucapku.
"Kamu bisa cerita denganku, tentang apa saja. Aku ini saudara kandungmu, kembaranmu. Kamu harus percaya padaku," ucap Kenzo sambil menatap manik mataku dalam-dalam. Mata itu mengatakan padaku bahwa apa yang dikatakannya itu benar.
"Apa?! Mereka pikir mereka siapa?! Kamu bahkan bukan anak mereka! Aku akan menunjukkan-"
Aku juga berdiri, lalu meraih tangannya yang mengepal.
"Tidak. Kenzo, jangan melakukan apa-apa. Aku sudah mengalami banyak hal. Aku memang, sudah dilecehkan oleh mereka. Mereka menyebutku dengan sebutan-sebutan yang buruk. Tapi kamu harus tahu, sekarang aku sudah tidak peduli dengan mereka. Seseorang memberitahuku bahwa masa lalu biarlah berlalu, dan yang paling penting adalah saat ini. Tidak apa-apa, aku yakin Allah punya alasan yang bagus atas semua yang telah terjadi padaku," ucapku. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-kataku.
"Tetapi mulai sekarang, aku akan menunjukkan kepada mereka. Aku akan membalas dendam. Bukan dengan kekerasan atau kata-kata, itu tidak akan pernah berhasil. Aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa aku bukan lagi gadis tak berharga yang menyedihkan. Itu akan menyakiti mereka, percayalah," ucapku. Aku mulai gemetar
Aku tidak percaya aku mengatakan semua itu. Di manakah otakku? Tidak, aku tidak mungkin bisa melakukan ini. Aku tidak seharusnya mengatakan itu.
Mataku mulai berkaca-kaca tetapi sebelum setetes air mataku jatuh, Kenzo meraih daguku, memaksaku untuk menatapnya.
"Dan saat ini, kamu tidak akan melakukan apa yang kamu katakan beberapa detik yang lalu. Kamu akan menjadi kuat. Dan aku di sini sepanjang waktu. Aku akan selalu di sisimu, oke? Aku tidak tahu siapa lagi yang menjanjikan itu padamu, tapi masih juga membiarkanmu jatuh terpuruk seperti ini," ucapnya sambil mengusap rambutku.
__ADS_1
"Kamu harus percaya padaku, aku tidak akan membiarkanmu sedih lagi, aku akan selalu bersamamu. Kamu adalah kembaranku," bisiknya.
Aku segera memeluknya. Hanya ini yang kuinginkan dalam hidupku. Merasa diinginkan, merasakan keluarga. Ini .. Inilah yang namanya keluarga ..
"Dia bertemu lagi cinta pertamanya. Dia mengira bahwa gadis itu telah meninggal tetapi dia jelas-jelas tidak. Kemarin, gadis itu datang ke rumahnya dan menemuinya. Dia ingin aku keluar rumah. Aku tidak tahu harus berbuat apa ..," ucapku lirih. Kenzo mengeratkan pelukannya.
"Biarlah waktu yang menanganinya. Percayalah kepada Allah, dan biarkan semuanya berlalu. Vian butuh waktu untuk bersama gadis itu, dan kamu juga tahu itu," ucapnya.
Aku merasa lebih baik setelah mendengar kata-katanya. Aku memeluknya lebih erat lagi, menikmati kekuatan yang bisa diberikan oleh saudara kembarku.
"Apakah aku terlihat baik-baik saja?" Tanyaku pada Kenzo. Kenzo menatapku sebelum memutar matanya.
"Tentu saja. Kamu selalu terlihat baik. Maksudku, kamu terlihat seperti aku dan aku tampan," ucapnya sambil terkikik.
Kali ini aku yang memutar bola mataku dan tertawa.
***
Sekarang sudah pukul dua siang. Aku pergi ke dapur untuk minum air, lalu aku pergi ke ruang tamu.
Aku melihat mobil milik supir yang dikirimkan oleh ayah mertuaku. Aku harus pergi sekarang. Aku mencari di mana Kenzo. Aku membuka pintu kamarnya, tapi dia tidak ada di kamar. Di dapur juga tidak ada.
Aku kembali ke ruang tamu. Aku mengeluarkan ponselku, ingin menghubungi Kenzo. Namun sebelum aku menekan tombol panggilan, seseorang menepuk bahuku. Kenzo.
"Kamu dari mana saja, aku mencarimu dari tadi?" tanyaku.
"Ohh, Aku dari kamar mandi," ucapnya.
"Sekarang aku harus pergi. Apakah kamu masih di sini saat aku kembali?" Aku bertanya pada Kenzo dan dia mengangguk.
"Iya, aku akan di sini terus sampai kamu kembali," ucapnya.
"Hati-hati," ucapnya.
__ADS_1
Aku keluar dari pintu dan melambaikan tangan padanya. Setelah itu aku masuk ke dalam mobil, yang membawaku ke kantor milik ayahnya Vian ...