
Selama tiga hari ini, semuanya berjalan seperti biasanya. Setiap hari, aku bangun pagi lalu sholat, setelah itu sarapan dengan para penjaga. Kemudian aku akan membersihkan rumah atau berdoa sepanjang hari, terkadang aku merasa bosan.
Aku berpikir keras, di mana aku akan tinggal setelah aku bercerai dengan Vian? Apakah Vian akan membantu mencarikan rumah untukku? Aku tidak butuh rumah besar, aku hanya butuh tempat untuk berteduh.
Dia memang benar! Aku tidak punya tempat lain untuk pergi. Dia tidak seburuk yang kupikirkan. Lalu, kenapa aku memutuskan perceraian itu.
Perceraian ... Ketika aku memikirkan kata itu, hatiku terasa sakit, karena jauh di lubuk hatiku aku tidak menginginkan itu.
Aku merasa bahagia saat aku terbangun di sebelahnya. Aku merasa sangat nyaman saat berada di dekatnya. Aku mengingat perasaan saat aku memeluknya dan dia hanya terkejut. Aku tahu bahwa aku harus membantunya. Aku harus membantunya untuk kembali ke jalan yang benar, tetapi aku tidak bisa melakukan itu lagi. Dia butuh bantuan, tapi bukan dariku. Dia membutuhkan wanita kuat yang akan meluluhkan hatinya. Aku tidak bisa melakukannya, aku terlalu lemah ... Bagaimana mungkin aku bisa mengubahnya. Seorang wanita tidak akan pernah bisa mengubah pria, kecuali jika pria itu mencintainya. Dan dia tidak akan pernah mencintaiku.
Namun, tanpa dia, aku merasa sangat kesepian. Apakah aku akan selalu merasa seperti ini? Atau aku akan jadi terbiasa nati? Aku mencoba memejamkan mata agar dapat mendengar suara aneh itu lagi. Siapa tahu suara aneh itu dapat memberitahuku apa yang harus aku lakukan.
Aku mencobanya selama tiga hari tetapi tidak berhasil. Sepertinya suara aneh itu menghilang. Aku yakin suara aneh itu akan kembali, tapi kenapa dia meninggalkanku sendiri di saat aku harus membuat keputusan yang paling sulit?
Salma sudah menemukan pengacara dan dia membantu proses perceraian itu untukku. Temannya adalah seorang pengacara jadi itu mudah saja baginya.
Aku tahu bahwa tidak mudah untuk bercerai dan ini baru hari ketiga setelah aku membuat keputusan ini. Aku mengabaikannya dan memejamkan mata. Hari-hari ini sangat melelahkan jadi aku tidak bisa membuka mata lagi.
***
__ADS_1
Di saat aku masih terlelap, tiba-tiba aku merasakan kelembutan di pipiku. Terasa nyaman, dan hangat ... Aku meringkuk mencari sumber kehangatan itu, aku tidak ingin perasaan itu memudar. Aku menghirup aroma yang tidak asing lagi bagiku, aroma yang sangat kurindukan. Perlahan aku mulai tersadar, aku membuka mata dan terkejut. Aku membelalakkan mataku saat melihat wajah Vian berada tepat di depan mataku.
Dia berlutut di tepi ranjang, sedangkan aku masih berbaring di depannya. Tangannya masih menyentuh pipiku. Matanya memerah, wajahnya agak pucat. Dia menatap manik mataku selama beberapa saat, dia tidak memalingkan wajahnya dan aku juga tidak.
"Vian ... " ucapku lembut. Dia tidak membuang muka juga tidak menjawab. Aku meraih tangannya dari pipiku, lalu dia menjalin jari-jari kami. Aku lupa tentang segalanya saat itu aku masih menikmati kebersamaanku dengannya. Aku lupa bahwa kebersamaan ini akan segera berakhir.
"Jangan ... Jangan lakukan itu .. Maafkan aku. Aku tahu aku adalah kekacauan, aku adalah kekacauan terbesar yang hidup. Tapi tolong, jangan lakukan itu," ucapnya sambil memohon. Aku tahu dia sedang membicarakan tentang perceraian itu.
"Kenapa?" Aku bertanya padanya. Bukankah dia sendiri yang memberiku alasan agar aku pergi dari hidupnya. Dan aku akan pergi darinya dengan perceraian ini, lalu kenapa sekarang dia ingin akun menghentikannya? Dia memang aneh.
"Aku hanya ... Aku membutuhkanmu. Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak membenci diriku setelah semua hal yang aku lakukan padamu ... Aku tidak tahu kenapa, tapi terkadang aku merasa bahagia saat ada di dekatmu," ucapnya kemudian.
"Vian, kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain jika kita terus bersama. Kamu tidak akan pernah bisa melupakan Liza sehingga kamu akan selalu marah jika ada seorang pun yang berusaha untuk menggantikan posisinya. Hal itu akan terus menyakiti kita berdua, dan membuat hatiku terasa sakit saat berada di dekatmu," ucapku. Kami tetap berpegangan tangan dan masih saling bertatapan.
"Kumohon, tetaplah bersamaku ..." ucapnya memohon. Tapi tetap saja, itu tidak akan membuatku mengubah keputusanku. Kami sudah cukup saling menyakiti. Kami berdua tidak bisa terus hidup bersama. Tidak ada yang akan berubah, perasaanya terhadap Liza tidak akan pernah berubah.
"Katakan saja, pernahkah kamu merasa bahagia saat bersamaku? Katakan, walaupun itu hanya sebentar saja?" Dia bertanya padaku. Kenapa dia menanyakan itu? Kenapa dia menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang aku tanyakan padanya. Bukankah saat aku menanyakan hal yang sama, dia selalu menjawab bahwa tidak ada yang bisa menggantikan Liza.
"Terkadang, aku adalah orang yang paling bahagia .. " ucapku sambil mengingat saat-saat ketika kehadirannya membuatku merasa lebih baik.
__ADS_1
Vian memasang ekspresi aneh, seolah dia sedang memecahkan teka-teki.
"Tolong jangan akhiri hubungan ini .. Aku butuh dukunganmu sekarang atas semua hal yang harus aku tangani ..." ucapnya, matanya terlihat lelah.
Aku tahu itu. Aku tahu bahwa dia harus berurusan dengan banyak hal. Aku membelai pipinya dan dia membungkuk.
"Tidak .. Kurasa itu tidak akan berhasil lagi. Itu tidak akan pernah berhasil ..." ucapku lirih. Wajahnya tertunduk lesu. Dia membutuhkan bantuan, dia benar-benar membutuhkannya. Dia pantas untuk hidup damai tapi itu bukan tugasku lagi. Aku tidak bisa mengubahnya.
"Aku tahu. Aku selalu memaksamu untuk menjauh, karena aku tahu kamu akan pergi suatu hari nanti. Aku sangat takut membiarkan orang lain memasuki hidupku lagi. Kamu tahu kan, belum lama sejak dia pergi ... Kenapa kamu tidak bisa mengerti bahwa aku sedang mencoba? Aku sedang mencoba untuk menerima seseorang yang baru," ujarnya pelan.
Aku menempelkan dahiku ke dahinya dan dia menutup matanya sebelum membukanya lagi. Lalu, dia menatapku lekat-lekat di manik mataku.
Aku memejamkan mata agar dapat mendengar suara aneh itu. Mungkin suara aneh itu akan datang sekarang. Aku mencoba untuk fokus dan tersenyum ketika aku berhasil mendengarnya.
'Setiap orang berhak mendapat kesempatan. Allah tidak memberikannya kepadamu tanpa alasan. Cobalah untuk menemukan alasan itu. Terlalu cepat untuk berpisah darinya. Suatu saat dia akan percaya dengan adanya Tuhan. Dia butuh pertolongan, dan kamulah orang yang tepat. Mintalah petunjuk dari Allah.' ucap suara aneh itu.
"Beri aku waktu untuk berpikir," ucapku. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk. Aku tersenyum padanya.
Setelah itu kami berdua menutup mata. Tidur nyenyak, itulah yang kami berdua butuhkan sekarang.
__ADS_1
***