Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Keputusan Untuk Bersamamu


__ADS_3

"Malam itu .. Malam itu aku .. ketika aku akan membawanya ke rumah orang tuaku .. Tiba-tiba ... tiba tiba Kevin datang. Dan kemudian, Liza ... tubuhnya tumbang lalu terbaring di sana, dalam pelukanku .. Darah .. Darah ada dimana-mana .. Aku segera memanggil ambulans. Ambulans itu datang .. lalu membawanya .. Tanpa aku .. Aku merasa begitu lemah, tak tahu harus melakukan apa ... Hingga aku mendengar kabar kalau dia sudah tiada ..." ucapnya tersedu-sedu. Aku mengeratkan pelukanku di pundaknya.


"Tidak apa-apa .. semua akan baik-baik saja, yang berlalu biarlah berlalu," ucapku padanya. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya memang begitu. Aku memejamkan mata.


'Kamu harus selalu ada untuknya. Karena, hanya kamu yang bisa membuatnya percaya lagi kepada Tuhannya. Gunakan kesempatan ini, hingga akhirnya kamu akan bahagia ... Bahagia.' Aku mendengar suara itu dan tersenyum.


Akhir-akhir ini suara itu sangat jarang muncul, tetapi ketika aku sangat membutuhkannya, suara itu kembali muncul. Ah, tapi rasanya aku tidak selalu membutuhkannya. Sepertinya aku bisa menangani diriku sendiri. Aku melepaskan tanganku lalu menatap matanya.


"Lihat aku .." ucapku padanya untuk memaksanya menatapku. Dia melihatku dan aku tersenyum.


"Kita sudah selama ini bersama. Kamu selalu ada untukku, dan aku akan selalu ada untukmu juga. Vian, kita sudah melalui banyak hal. Dan lihat sekarang? Kita masih di sini, bersama. Meskipun bukan bersama dalam arti yang sesungguhnya, setidaknya kita masih bersama. Aku di sini, aku akan membantumu. Dan aku akan menghormati keputusan yang akan kamu buat ... " bisikku di bagian terakhir. Jika dia ingin pergi, dia bisa saja. Aku tidak akan menghalanginya. Jika pergi akan membuatnya bahagia, aku akan membiarkannya pergi ..

__ADS_1


"Aku sudah membuat keputusanku Sadiya .. Aku akan bersamamu .. Hanya saja, aku hanya perlu waktu untuk berpikir .. Maksudku, dia tiba-tiba saja muncul entah dari mana, lalu menceritakan hal sebaliknya dari yang aku yakini selama dua tahun. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu .. " ucapnya. Mataku membelalak dan aku menatapnya untuk melihat apakah dia sedang bercanda. Aku tersenyum dan dia balas tersenyum.


"Kenapa? " Aku bertanya kepadanya. Aku benar-benar ingin tahu mengapa dia tidak akan meninggalkanku ketika dia telah menemukan cinta dalam hidupnya yang telah lama hilang itu. Dia menatapku dengan tatapan bingung.


"Aku sudah menutup halaman itu dalam hidupku. Aku mengakhiri buku tentang Maryam. Mungkin aku masih merasakan sesuatu terhadapnya, tapi tidak seperti yang kurasakan padamu," ucapnya sambil tersenyum. Aku tidak menyadari apa yang dia katakan karena aku terlalu terpesona oleh senyumnya.


"Jangan tersenyum di depan umum," ucapku sambil mencium hidungnya. Dia mengangkat alis.


"Kenapa?" tanyanya dan aku memutar mata.


"Baiklah, aku akan lebih banyak tersenyum di depan umum. Kamu tahu, untuk membuat gadis-gadis terpesona," ucapnya lalu aku menepuk lengannya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya dan aku memutar mataku lagi. Itulah yang sering kulakukan saat ada di dekatnya belakangan ini.


"Tapi sungguh, Vian, aku tidak ingin kamu merasa seperti kamu dipaksa bersamaku. Aku akan mengerti jika kamu ingin pergi," ucapku lembut, memberinya kesempatan lagi untuk mundur. Dia menatapku dengan bingung lalu dia meraih tanganku.


"Ketika aku melihatnya pertama kali setelah dua tahun menghilang, aku tidak menyentuhnya. Kalau setahun sebelumnya, mungkin aku akan memeluknya. Tapi ketika aku melihat dia berjalan mendekat, aku tidak bisa melakukannya. Seolah-olah seperti pengkhianatan jika aku melakukannya. Aku tidak ingin mengkhianatimu. Meskipun dia muncul entah dari mana, kamu ada di pikiranku sepanjang waktu saat aku menatap matanya," ucapnya, membuat setetes air mata jatuh di pipiku. Baru saja aku akan menjawab, tiba-tiba teleponku berdering.


"Halo, Kenzo," ucapku sambil tersenyum. Aku merindukannya.


"Halo kembaran, aku hanya ingin bertanya apakah kamu bisa datang ke sini sekarang? Ibu ingin bertemu denganmu. Aku bisa menjemputmu jika kamu mau," ucapnya dan aku berpikir sejenak. Aku mengabaikan perasaan aneh yang kurasakan ketika dia berkata 'ibu'.


"Ehm tidak. Eh, maksudku, kamu tidak perlu menjemputku. Aku akan datang bersama Vian," ucapku sambil menghindari tatapan Vian yang aneh. Kami mengakhiri telepon dan aku melihat ke arah Vian.

__ADS_1


"Apa kamu marah? Kalau kamu tidak mau mengantarku pergi, aku bisa menyuruhnya untuk menjemputku ..." ucapku, lalu tiba-tiba Vian menyela, tak heran lagi.


"Ayo, ayo pergi," ucapnya sambil meraih tanganku. Aku tersenyum sepanjang waktu saat kami berjalan ke mobil.


__ADS_2