
Apa-apaan ini? Apa? Dia ... Dia masih hidup ... Hidup?! Tapi, bagaimana mungkin? Otakku rasanya akan meledak saat itu juga.
Aku terduduk di sofa, dan meletakkan kepalaku di antara kedua lututku, mungkin rasa sakit di kepalaku yang akan meledak ini bisa hilang. Dia tadi di sini. Dia ketakutan di sini. Dia masih hidup. Selama ini, dia masih hidup!
"Vian .." ucapnya sambil melangkah maju mendekatiku.
Aku mundur selangkah. Tidak, ini pasti hanya prank. Tidak mungkin! Bagaimana mungkin dia ada di sini? Bukankah dia seharusnya berada di kuburan? Berbaring di dalam kubur sana? Bukankah seharusnya dia sudah mati? Apa-apaan ini? Apa yang terjadi?
"Si ... siapa kamu?" Itu adalah satu-satunya kata yang keluar dari bibirku. Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja kulihat. Aku harus mendapatkan jawaban sebelum otakku benar-benar meledak.
"Vian. Ini aku, Liza. Maafkan aku ... Dengar, aku bisa menjelaskan semuanya padamu ..." ucapnya. Tidak, aku tidak bisa membiarkan dia menyelesaikan basa-basinya.
"Kamu! Bukankah seharusnya kamu sudah mati?! Kupikir selama ini kamu sudah mati! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Aku bertanya padanya. Aku harus tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi?
Gadis itu mendorong dadaku ke belakang, agar dia bisa masuk. Setelah itu dia menutup pintu.
Aku memperhatikan parasnya. Dia menundukkan wajahnya ke lantai. Dia masih secantik dulu. Tidak ada yang berubah. Bahkan, warna rambutnya pun sama. Matanya, bibirnya. Semua persis seperti Liza yang kuingat.
Aku membuang muka dan tertawa tanpa ada yang lucu sekalipun. Dia tidak akan berhasil menipuku! Liza sudah mati!
"Katakan padaku! Siapa kamu?!" Aku berteriak di depannya. Dia terkejut sambil menutup matanya. Dia ... dia selalu takut saat aku berteriak.
__ADS_1
"Katakan padaku!" teriakku.
"Aku akan menceritakan semuanya!" Gadis itu balas meneriakiku. Dia menatap mataku dengan air mata. Hatiku hancur saat melihatnya sedih.
Dia meraih tanganku, tapi aku mundur selangkah untuk menghindar darinya. Beberapa bulan yang lalu, saat aku benar-benar merasa kehilangannya, aku pasti akan memeluknya saat melihatnya di depanku. Tapi sekarang, rasanya ada yang salah.
Aku tidak bisa menyentuhnya! Aku tidak bisa menyentuhnya, karena aku menyadari aku memiliki seorang gadis yang mungkin sudah hancur hatinya sekarang. Seorang gadis yang selalu kusakiti hanya karena aku memikirkan dia yang kusangka sudah mati, tapi ternyata dia baik-baik saja. Kepalaku mulai dipenuhi pikiran-pikiran itu, dan aku mengutuk diriku sendiri.
"Hari itu! Hari itu ketika Kevin menembakku. Aku tidak mati. Aku di rumah sakit. Ketika mereka memberitahumu bahwa aku sudah mati, sebenarnya mereka telah menempatkanku di rumah sakit lain. Itulah mengapa mereka tidak mengizinkanmu melihatku!" Dia berteriak. Itu sungguh tidak masuk akal. Aku menggelengkan kepala.
"Kenapa? Kenapa 'mereka' melakukan itu? Siapa mereka?!" Aku balas berteriak. Suaraku semakin keras dari menit ke menit dan aku hampir meninju apa pun yang menghalangi jalanku.
"Kamu tahu sendiri, seberapa bahayanya Kevin?" ucapnya.
"Itu tidak aman, Vian! Aku sudah tertembak karena kamu! Aku ingin ini semua ini berakhir tapi kamu sepertinya tidak menyadarinya!" ucapnya. Jadi, itulah intinya, dia memang menginginkan semua ini berakhir.
"Jangan membuat alasan. Kamu sengaja membuat kuburan palsu itu, agar aku mengira bahwa kamu benar-benar sudah mati. Hanya karena, kamu ingin semua ini berakhir. Kamu ingin hubungan kita berakhir, iya kan?" tanyaku sinis.
"Vian. Tidak, aku tidak tahu apa-apa tentang kuburan itu!" ucapnya. Wajahnya mulai memelas. Namun, aku sudah muak melihatnya.
"Baiklah jika itu maumu. Semua sudah berakhir sekarang. Semuanya menjadi kacau! Bahkan aku mengacaukan hidupku! Aku juga mengacaukan hidup orang lain!" ucapku menyesali semuanya.
__ADS_1
"Tidak. Vian ... aku benar-benar mencintaimu, sungguh. Tapi kamu mulai melakukan semua itu. Kamu mulai bergabung dengan geng, kamu mulai berkelahi dan menyakiti orang lain. Kamu mulai mabuk-mabukkan, minum minuman keras. Aku tidak bisa bertahan bersamamu, karena kamu telah berubah!" Dia balas berteriak padaku.
Aku meninju dinding di sampingnya, karena terlalu dekat dengannya. Sial! Bahkan aromanya parfumnya masih sama. Aku menghirupnya, karena aku benar-benar merindukannya. Selama dua tahun, aku benar-benar ingin menghirup aroma ini, namun aku pikir aku tidak punya kesempatan lagi. Namun, sekarang dia ada di sini, di depan mataku.
"Di saat aku di sini, menangis seperti anak kecil yang ketakutan. Ketika aku di sini, minum minuman keras untuk melupakanmu. Untuk melupakan saat-saat bagaimana aku membawamu dengan kedua tanganku saat kamu tertembak," ucapku sambil menatapnya.
"Saat itu, aku mengutuk dia, aku mencaci seorang gadis yang tidak bersalah, yang tidak tahu apa-apa. Aku mengucapkan kata-kata yang membuatnya menangis. Saat aku di sini, aku tidak menghiraukan seorang gadis yang ada di depanku, hanya karena aku memikirkanmu." Mataku mulai berkaca-kaca saat aku mengingat bagaimana aku telah bersikap pada Sadiya.
"Ketika aku di sini, aku membuat kekacauan. Aku menyakiti semua orang hanya karena aku memikirkan kesalahanku. Ketika aku melakukan itu semua, kamu ... Kamu hanya berdiam diri di tempat lain, hanya karena ingin menjauh dariku! Tidak bisakah kamu memberitahuku?! Aku akan mengerti! Kita masih bisa menjalani hubungan kita bersama-sama!" ucapku.
Ini tidak masuk akal. Dia, apa yang telah dia lakukan? .. Apa-apaan itu? Aku sangat menyakiti orang, terutama gadis kecil yang manis itu, hanya karena seseorang yang belum .. mati?! Apa-apaan ini?!
"Dengarkan aku, Vian. Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Tapi, aku di sini sekarang, aku kembali padamu. Tolong, ayo kita bicarakan semuanya. Kita telah melalui banyak hal bersama, aku yakin kita bisa melalui hal ini juga. Aku di sini, aku masih hidup. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan. Tapi aku di sini sekarang. Ayolah, apa kamu tidak merindukanku 'bulan' mu?"
Dia benar-benar tahu cara bermain-main. Dia mengerti bagaimana aku tahu bahwa dia tidak menyukai nama panggilan itu, dan aku tetap memanggilnya dengan nama itu, di saat yang telah lama berlalu.
Tapi, aku masih tidak percaya ini. Aku tidak akan percaya. Apa-apaan ini semua? Aku menggelengkan kepalaku. Kenapa dia harus datang tiba-tiba. Aku tidak bisa menerima ini semua ... Aku ingin sendiri. Aku ingin menenangkan otakku.
"Pergi!" ucapku.
Gadis tengil itu menggelengkan kepalanya. Aku memelototinya, aku tak peduli lagi dengannya. Aku tidak peduli jika dia akan ketakutan atau menangis. Dia pun pergi ...
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk pergi ke luar. Jika aku minum minuman keras, mungkin bisa membuatku lupa tentang dia. Aku yakin itu.