Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Vian Mengusirku


__ADS_3

Aku melihat ke arah Vian. Dia menatap gadis itu dengan mata lebar. Mulutnya sedikit terbuka dan dia terlihat pucat. Dia mencoba mengatakan sesuatu tetapi tidak ada yang keluar.


Aku melihat Liza, dia menatap Vian dengan mata berkaca-kaca. Dia mengambil langkah maju, tapi Vian mundur selangkah. Aku meraih lengan Vian, mungkin aku bisa menenangkannya, tapi dia masih tegang. Matanya menghitam, netra cokelat terangnya menghilang begitu saja. Dengan suara bergetar, dia mengatakan sesuatu padaku. Sesuatu yang membuat hatiku hancur.


"Keluar!" ucapnya padaku, dan mataku membelalak. Aku tahu, kami memang bukan pasangan sungguhan. Tapi, aku begitu ingin selalu didekatnya.


"Keluar Sadiya!" Dia menepuk dinding di sampingnya dengan telapak tangannya, membuatku sedikit terjingkat kaget. Aku mengangguk takut, aku segera mengambil jaket dan memakai sepatuku.


Sesaat aku melihat mereka. Mereka masih tidak bergerak, mereka hanya saling pandang. Semuanya akan segera berakhir. Vian akan kembali padanya, dan menceraikanku. Aku tidak akan punya siapa-siapa lagi, dan tidak punya tempat untuk pergi. Bayang-bayang itu membuatku takut, aku tidak tahu kenapa.


Aku meraih ponselku yang ada di saku lalu menelepon satu-satunya orang yang bisa kutemui.


"Masara, bisakah kamu menjemputku dari rumah?" Aku bertanya padanya.


Suaraku bergetar dan tenggorokanku sakit saat aku berbicara.


Aku tidak mendengar jawaban dari Masara. Aku melihat teleponku, ternyata mati. Bagus sekali nasibku!


Aku duduk di tangga di luar rumah, sambil menunggu barangkali ada seseorang yang kukenal yang lewat.


Hatiku tidak pernah ingin pergi ke tempat lain. Aku ingin naik ke tempat yang tinggi, dan berteriak pada Liza. Aku ingin memeluk Vian dan memohon padanya untuk tidak meninggalkanku. Aku ingin selalu bersamanya, seperti beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


Bukankah Liza sudah mati? Lalu, bagaimana dia bisa ke sini? Begitu banyak pertanyaan muncul di benakku. Aku tidak menyadari aku menangis, hingga tiba-tiba aku merasakan seseorang menghapus air mataku. Aku memejamkan mata.


Aku memalingkan wajahku pada seseorang yang sudah kutahu siapa itu. Aku segera memeluknya. Aku tidak bisa menahan tangisku lagi, aku mulai terisak kencang. Aku mengeratkan pelukanku padanya, aku butuh rasa nyaman.


"Ayo," ucapnya setelah beberapa saat sambil melepaskan pelukannya.


Aku bangkit dari dudukku, dia meraih tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Kenzo, kembaranku. Matanya terlihat memerah. Apakah dia menangis?


Kami berjalan ke mobilnya dan aku melangkah masuk, tidak peduli ke mana kami akan pergi. Aku terlalu lelah untuk menyadari segalanya. Beberapa saat kemudian, dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah kecil, lalu dia diam sambil memperhatikan rumah itu. Aku menatapnya. Dia terlihat agak sedih, jadi aku mengusap tangannya.


"Ini rumah ayah kita. Dia .. dia ada di rumah sakit, jadi .. jadi tidak ada orang di sini. Kamu bisa tinggal di sini," ucapnya dan mataku membelalak.


Sebenarnya aku sangat ingin tinggal sendiri. Tapi, ini terlalu cepat. Aku butuh waktu. Aku harus memikirkannya terlebih dahulu. Kami berjalan ke dalam dan kemudian aku melihat rumah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan rumahnya.


"Aku tinggal di sini dengan ayahku. Maksudku, orang tua kita sudah lama bercerai," ucapnya dengan canggung sembari berjalan ke kamar. Aku hanya duduk di sofa dan melihat sekeliling. Rumah ini tidak terlalu indah tapi juga tidak buruk.


Beberapa menit kemudian, Kenzo kembali sambil memberiku beberapa potong pakaian.


"Ini milikku. Kamu bisa memakainya. Aku .. eh maafkan aku-" dia mulai mengoceh lagi. Itu adalah sesuatu yang sering dia lakukan saat di dekatku, sementara aku merasa begitu nyaman di dekatnya.


"Kamu bisa santai sedikit saat di dekatku," ucapku sembari beranjak ke kamar tempat dia datang untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Aku mencium bau pakaian itu sebentar. Baunya harum. Seperti ... seperti parfum milik Vian. Ada apa ini? Apakah baju-baju ini milik Vian? Apakah Kenzo dan Vian sudah berbaikan? Apakah mereka telah membicarakan segalanya untuk membawaku ke sini? Ya, aku yakin itu! Vian memang bisa melakukan segalanya.


Aku menggelengkan kepalaku untuk tidak memikirkannya lagi dan tersenyum sambil kembali menghampiri Kenzo. Dia sedang duduk di sofa sambil menonton Tv. Aku berbaring di sampingnya, aku merasa sangat lelah dan tidak punya cukup energi untuk menahan kepalaku. Aku merasakan tangan Kenzo menyentuh rambutku dan membelainya.


"Kamu mau menceritakan sesuatu?" tanyanya dan aku memejamkan mata.


Aku ingin berteriak, meneriakkan apa yang telah terjadi. Aku ingin mengobrak-abrik semua yang ada di dekatku, untuk menunjukkan kacaunya perasaanku. Agar rasa sakit di hatiku sedikit memudar. Tapi, aku tidak bisa melakukannya.


"Tidak sekarang," jawabku dan dia tetap diam. Aku mendengarkan napas lembutnya dan suara kecil yang datang dari TV.


"Saat aku masih kecil, aku merasa hidup dalam kekosongan. Aku merasa ada yang tidak lengkap. Seolah ada sesuatu atau seseorang di luar sana yang seharusnya bersamaku. Aku selalu susah tidur dari kecil. Aku selalu menginginkan kehangatan dan kekuatan yang hanya bisa kudapatkan dari satu orang itu. Keluargaku tidak menganggapnya serius. Mereka mengira itu hanya karena aku ingin diperhatikan. Tapi ternyata tidak. Aku menginginkan orang itu. Aku ingin merasa baik-baik saja. Dan ketika mereka memberitahuku bahwa aku punya saudara kembar ketika aku berumur enam belas tahun, aku sangat senang. Kamu tahu kenapa?


Karena aku menemukan apa yang kucari selama ini. Aku tidak percaya ketika mereka memberi tahuku bahwa saudara kembarku telah meninggal. Aku tidak percaya. Jika saudara kembarku mati, aku akan merasakannya. Itulah yang aku katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak pernah mempercayaiku. Jadi, aku mulai mencarinya. Aku tahu bahwa dia masih hidup. Aku tahu itu, aku bisa merasakannya. Dan kemudian .. kemudian aku menemukanmu, dan sekarang .. sekarang aku merasa lengkap," ucapnya.


Aku bangkit dari tidurku. Aku duduk di sampingnya. Aku tidak percaya apa yang baru saja kudengar. Air mata mulai mengalir di wajahku.


Aku menatapnya dan melihat di pipinya ada air mata juga. Aku melingkarkan tanganku di bahunya dan memeluknya. Dia .. dia satu-satunya orang yang sangat kupercaya saat ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi sekarang dia memberitahuku ini, aku tahu itu.


Beberapa menit kemudian, Kenzo berdiri dan pergi ke kamarnya. Aku pun memutuskan untuk melihat-lihat rumah itu. Aku masuk ke sebuah kamar yang cukup besar. Ada tempat tidur king size. Kepalaku terasa sedikit pusing. Aku membaringkan diriku di tempat tidur itu.


Beberapa saat kemudian, Kenzo datang dan berbaring di sampingku. Aku menatapnya dan tersenyum. Dia balas tersenyum dan senyumnya adalah hal terakhir yang kulihat hari itu.

__ADS_1


__ADS_2