
"Kamu tidak punya hak untuk mengatakan apa pun. Beraninya kamu menendangnya? Beraninya kamu menyentuh Kenzo? Aku mengkhawatirkanmu di rumah. Aku menghadapiku ketakutan sendirian. Sendirian! Aku pikir kamu berada di sana untuk mengurus bisnis. Aku mengkhawatirkanmu karena kupikir kamu memiliki beban besar di pundakmu. Tapi ternyata aku bodoh, bukan begitu?" Aku menatap Vian sinis.
"Aku tahu, aku memang bodoh. Itulah yang selalu dikatakan semua orang kepadaku. Aku memang bodoh karena tidak menyadari bahwa kamu berada di sini, hanya untuk bertarung dengannya!" ucapku geram, aku sendiri tidak menyadari apa yang aku katakan.
Aku benar-benar marah, hingga tubuhku gemetar. Aku tidak tahu, apakah aku marah hanya karena dia bertarung dengan Kevin, atau aku marah karena aku takut pada segalanya. Aku tidak tahu, apakah aku marah karena dia berbohong padaku. Satu-satunya hal yang kutahu adalah melampiaskan semua amarahku pada Vian.
Vian mengulurkan tangannya padaku. Tapi aku segera berbalik menghadap Kenzo.
"Bisakah kamu .. bisakah kamu mengantarku pulang?" Aku bertanya pada Kenzo dan dia segera mengangguk. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jadi aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
Aku memegang tangannya dan kami keluar. Rasanya sangat aneh. Rasanya seolah dia adalah bagian dari diriku yang lain, seolah kami sudah saling kenal begitu lama. Aku merasakan perasaan aneh di sekujur tubuhku, tapi itu membuatku nyaman saat bersamanya.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kenzo, dia tersenyum kecil. Kami berjalan menuju sebuah mobil, lalu dia membukakan pintunya untukku. Aku masuk, dan dia pun masuk. Aku tidak perlu memberitahu dia arah ke rumahku, aku bisa melihat dari wajahnya bahwa dia sudah tahu.
"Kamu .. Kamu sudah bertemu ibu?" ucapnya pelan. Aku memandang ke arahnya dan melihat dia tampak berkonsentrasi ke jalan.
"Sudah," ucapku sambil melihat keluar jendela.
"Apakah kamu ingin melihat tes DNA yang baru? Aku tahu kalau kamu tidak percaya ini, jadi aku ingin menunjukannya sebagai bukti," ucapnya, tapi aku segera menyelanya.
"Aku percaya," ucapku. Sayangnya, aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Aku belum siap menghadapi ini semua.
"Apakah kamu .. apakah kamu menerimaku? Menerima kami?" ucapnya pelan. Sungguh, aku benar-benar ingin menghambur ke arahnya dan memeluknya saat itu juga, namun aku menahan perasaanku.
"Beri aku waktu ..." ucapku. Hanya itu satu-satunya hal yang bisa kukatakan. Itu satu-satunya hal yang terlintas di benakku, karena sejujurnya aku sendiri tidak tahu apakah aku sudah siap menerimanya atau tidak.
...***...
"Sadiya, kemarilah! Sekarang juga!" Aku mendengar Vian berteriak.
__ADS_1
Aku masih terduduk di kamar untuk waktu yang lama, memikirkan tentang keluargaku yang sebenarnya. Aku memutar bola mataku malas sambil berjalan ke ruang tamu ke tempat Vian. Sambil bertanya-tanya dalam hati, apa lagi yang mau dia katakan.
Aku berdiri dan berjalan ke arah Vian. Dia sedang marah.
"Bisakah kamu menjelaskan kepadaku apa yang kamu lakukan sampai kamu masuk ke ring tadi?! Apa kamu tidak tahu betapa berbahayanya itu?" Teriaknya.
Aku jadi bingung. Apakah dia benar-benar marah karena itu? Padahal dia yang salah!
Ingin sekali aku balas membentaknya, namun tiba-tiba suara aneh itu datang.
'Jika salah satu dari kalian menjadi api, maka yang satunya harus menjadi air. Kalau kamu berteriak juga, itu hanya akan membuat semuanya jadi lebih buruk,' ucap suara aneh itu.
Aku bersyukur suara itu datang di saat yang tepat. Aku tersenyum mendengarnya. Namun, tiba-tiba aku tersadar, Vian masih berdiri di depanku sambil menatapku lekat-lekat.
"Apa itu lucu?!" tanyanya heran. Aku hanya menghela nafas.
"Kamu berbohong padaku! Kamu bilang kamu di Turki, tapi aku melihatmu di sini, berkelahi dengannya. Apa aku sebegitu menyebalkan sehingga kamu ingin jauh-jauh dariku?" ucapku pelan, berusaha agar terdengar tenang. Aku menatap matanya.
"Aku tidak berbohong padamu," ucapnya pelan. Dia berjalan perlahan ke arahku.
"Aku benar-benar di sana. Aku baru pulang kemarin. Aku sedang menuju rumah tapi Kevin melihatku dan mengajakku berkelahi. Setelah itu dia menantangku untuk melawannya di atas ring. Aku minta maaf," ucapnya. Suaranya terdengar parau di akhir kata.
Aku menghela nafas. Aku mendekat ke arahnya dan melingkarkan lenganku di pinggangnya. Aku merasakan dia menegang karena sentuhanku dan dia menatapku dengan bingung.
"Apa kamu tidak marah lagi?" tanyanya dengan tatapan bingung.
"Ya, tapi aku hanya ingin memelukmu," karena aku merindukanmu .. Aku mengatakan bagian terakhir di benakku, aku tidak berani mengakuinya.
Aku tidak tahu perasaan apa yang menjalar di tubuhku, tapi aku merasa nyaman. Beberapa detik kemudian, aku merasakan dia merangkulku, memelukku erat. Rasanya sangat menyenangkan saat berada di pelukannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, aku melepaskan pelukanku dan Vian menatap mataku dalam-dalam. Ada begitu banyak emosi di matanya, tapi aku bisa melihatnya menyembunyikan semuanya. Aku meletakkan tanganku di pipinya dan menempelkan dahiku ke dahinya, mengabaikan rasa aneh di sekujur tubuhku.
"Ada apa Vian?" tanyaku, memastikan dia tahu bahwa aku peduli.
"Aku hanya .. Aku takut dengan perasaan ini. Aneh sekali. Aku bahkan tidak pernah memikirkan Liza di sana. Satu-satunya orang yang kupikirkan adalah, kamu. Aku hanya takut," bisiknya begitu pelan, kurasa dia tidak ingin aku mendengarnya.
Tapi aku senang bisa mendengar hal itu dari mulutnya. Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan mencium hidungnya, mengejutkan diriku sendiri.
"Tidak apa-apa, mungkin ini pertanda bahwa kamu benar-benar telah melupakannya. Eh, maksudku tidak seperti itu, maksudku adalah kamu .. tidak mencintainya lagi, mungkin .. aku tidak tahu," ucapku sambil menyesali apa yang baru saja kukatakan. Aku tidak ingin dia kembali marah padaku.
Dia segera melepaskan pelukannya dariku. Aku menarik napas dalam-dalam, aku merutuki diriku sendiri yang selalu merusak segalanya.
...***...
Tiba-tiba bel pintu berbunyi, aku bergegas untuk membukanya. Aku tidak melihat Vian sejak tadi, dia hanya berdiam diri di kamarnya.
Aku segera membuka pintu. Aku sangat senang melihat siapa yang datang. Aku menatapnya sebentar dan dia juga menatapku.
"Masuklah," ucapku.
Kenzo tersenyum tipis, lalu segera menanggalkan sepatunya dan melangkah masuk. Aku menuntunnya ke ruang tamu dan dia duduk. Pikiranku beralih ke Masara. Ah, mungkin dia sudah pulang ke rumahnya.
"Maafkan aku, aku datang malam-malam begini. Aku tidak ingin-" ucapnya berbasa-basi. Namun, aku segera menyelanya.
"Tidak masalah, kamu selalu diterima di sini," ucapku.
"Aku perlu mengatakan sesuatu padamu," ucapnya tergagap.
"Katakan saja," ucapku.
__ADS_1
Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakannya.
"Ayah .. ayah sedang tidak baik-baik saja, dia ingin bertemu denganmu."