
"Sekarang, biarkan aku masuk menemui kekasihku!" ucapnya. Aku bergegas memberinya jalan, namun dia tidak bergerak.
"Kekasihmu?! Dia sudah berhenti menjadi kekasihmu sejak kamu membohonginya. Dia sudah melupakanmu perlahan-lahan, hingga benar-benar melupakanmu. Jadi, lebih baik kamu pergi ke tempat asalmu, dan tinggalkan kami berdua!" Teriakku penuh amarah.
"Ini bukan urusanmu! Ini urusanku dengan Vian!" ucapnya. Dan tepat setelah itu, aku mendengar suara seseorang dari sampingku.
"Tentu saja itu urusannya! Karena kamu, hubungan mereka menjadi tidak baik. Seandainya kamu tidak ada, mereka pasti akan hidup bahagia. Jadi, kembalilah ke tempat asalmu, agar hubungan mereka juga kembali seperti semula," ucap Masara dengan tatapan mematikannya pada Liza.
Gadis itu balik menatapku dan Masara seolah-olah kami berasal dari planet lain. Masara mengangkat sebelah alisnya. Liza pun beranjak pergi meninggalkan rumahku. Aku tersenyum puas.
"Waw, aku tidak menyangka dia akan pergi," ucap Masara. Aku menoleh padanya dan tersenyum.
"Ayo, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Masara dengan sedikit gugup.
"Kemana?" tanyaku.
"Sudah, ikut saja," jawabnya merahasiakan tempat yang dituju.
Sebenarnya, aku tidak ingin pergi ke mana-mana, mengingat apa yang baru saja terjadi. Tapi aku merasa, semua akan baik-baik saja. Aku pun mengikuti Masara dan masuk ke mobilnya. Pikiranku masih bertanya-tanya kemana Masara akan membawaku pergi.
***
Kami pun berdiri di depan sebuah bangunan, sebuah rumah megah tepatnya. Rumah yang tidak asing lagi bagiku, rumah keluarga kandungku.
"Kenapa kita pergi ke sini?" tanyaku pada Masara, sambil masih menatap rumah itu. Rumah itu masih terlihat indah, dan terasa hangat, membuatku ingin segera masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Masara meraih lenganku, lalu membawaku ke pintu masuk. Masara mengetuk pintu itu, dan aku mulai merasa gugup. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke rumah ini tanpa diminta oleh mereka. Pintu itu terbuka perlahan, dan aku memejamkan mataku. Suara aneh, datanglah, datanglah, aku membutuhkanmu. Aku berharap dalam diam, namun suara itu tidak juga muncul. Aku membuka mataku dan melihat Husna tersenyum.
"Hai kalian, ayo masuk," ucapnya dengan gembira.
Masara pun melangkah masuk. Masara dan Husna saling memperkenalkan diri, lalu mereka berpelukan. Masara memang orang yang ramah, bisa akrab dengan siapapun. Terkadang aku sedih, kenapa aku tidak bisa sepertinya. Dia selalu tersenyum dengan semua orang, setiap harinya.
'Kamu pasti bisa. Kalau kamu bisa bermimpi, kamu juga pasti bisa mewujudkannya. Tidak ada yang tidak mungkin.' Aku tersenyum mendengar suara aneh itu. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum pada Husna. Dia menghampiriku lalu memelukku. Aku balas memeluknya, aku merasa sedikit canggung.
"Sadiya, kamu di sini dulu ya. Tunggu sampai Kenzo datang, Oke?" ucap Husna padaku.
Belum sempat aku menjawabnya, mereka sudah pergi ke ruang tengah, meninggalkanku sendiri. Aku ingin mengikuti mereka, aku merasa tidak nyaman sendirian, tapi aku tetap diam di tempat.
Beberapa menit kemudian, ada seseorang menutup mataku dengan telapak tangannya. Aku sudah mengetahui siapa itu, walaupun aku tidak bisa melihatnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanyanya sambil merangkulku.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanyaku padanya. Namun dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil meraih lenganku lalu membawaku menuju ruang tengah.
"Ini tidak lucu. Jawab aku dulu, sebelum a-"
"Kejutan!" Aku mendengar orang-orang berteriak.
Aku terkejut, dan yang pertama kali kulihat adalah ... dia. Ibuku! Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, dan melihat banyak balon-balon dan hiasan menghiasi seisi ruangan itu. Aku melihat di atas meja di depanku, ada kue yang dihias dengan indah. Aku benar-benar terkejut. Aku benar-benar merasa buruk. Ini mengingatkanku pada saat itu, saat terburuk...
Husam sedang duduk di depanku sambil memegang sepotong kue ulang tahun. Kue itu terlihat sangat lezat. Aku ingin mengambilnya, aku hanya ingin menyentuhnya, atau mencicipinya. Tapi aku tidak bisa. Tanganku diikat di kursi, dan terasa sakit.
__ADS_1
"Bu, ini rasanya lezat sekali. Kue cokelat di hari ulang tahunku. Emm ... cokelatnya lumer di mulut. Ini enak sekali," ucap kakakku yang masih berumur sepuluh tahun. Mulutku berair saat memperhatikan caranya memakan kue itu.
"Secuil saja ... Aku belum makan apa-apa dari kemarin," bisikku lirih. Mungkin dia akan memberiku sedikit. Aku menatap kue itu, banyak serpihan yang jatuh berceceran di lantai.
Dia menatapku sambil menjilati cokelat di bibirnya. Aku sama sekali belum pernah makan kue, aku hanya pernah melihatnya saja. Katanya, rasanya sangat lezat, dan orang-orang akan memakannya di hari ulang tahun. Itu kata nenekku. Kuharap, nenekku bisa mencurinya sepotong untukku.
Aku menatap kue itu. Itu kue cokelat. Mataku mulai berair. Bukan karena kue itu, namun karena ingatan buruk itu. Aku mengedarkan pandanganku, semua orang menatapku dengan khawatir.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku melangkahkan kakiku mendekati meja itu. Aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya, yang tidak pernah mereka izinkan. Mereka tidak pernah membiarkanku merasa senang sedikitpun.
Aku mengambil sepotong kue dengan tanganku yang bergetar, lalu memasukkannya ke mulutku. Air mataku mengalir deras, namun aku tidak peduli. Ini rasanya enak, sangat enak. Aku meletakkan sepotong lagi di tanganku, ingin menikmati rasanya. Mungkin, ini tidak selezat itu. Mungkin, aku hanya ingin merasakan sesuatu yang ingin kurasakan di saat aku masih kecil. Mungkin aku hanya ingin menghapus semua keinginanku di saat aku masih kecil.
Aku mendengar suara tangisan kecil. Tangisan yang tak asing lagi di telingaku. Tangisanku sendiri saat aku kecil, yang kembali muncul dalam ingatanku. Aku terduduk di lantai, aku memejamkan mataku. Aku tidak ingin mendengarnya mengatakan kue itu lezat. Aku tidak ingin mendengar diriku memohon meminta secuil kue darinya. Aku ingin semuanya berhenti. Berhenti ...
Aku merasakan sepasang lengan melingkar di tubuhku, mengeratkan pelukannya. Kenzo, satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa nyaman saat ini. Aku balas memeluknya, aku takut kalau-kalau dia akan berubah seperti Husam. Aku merasa takut kalau-kalau ini semua hanya lelucon, dan mereka akan menendangku hingga aku tidak bisa bernapas.
"Ssshh ... Semuanya sudah berlalu. Hanya ada kita sekarang." Aku mendengar suara lembutnya.
Aku mendongak menatapnya dan dia tersenyum. Mata itu membuatku merasa tenang. Beberapa saat kemudian, aku mengangguk, menandakan aku baik-baik saja. Lalu, dia membantuku untuk berdiri.
"Khanza, hari ini adalah hari ulang tahunmu dan Kenzo!" ucap Husna dengan gembira. Mataku melebar. Ulang tahun?
"Jangan melihat seperti itu. Apakah kamu belum pernah ulang tahun?" Dia bertanya padaku dengan sarkas, membuat hatiku terasa sakit.
"Aku memang belum pernah ..."
__ADS_1