Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Tato


__ADS_3

Aku terbangun karena merasakan sesuatu yang lembut di tanganku. Aku juga merasakan sakit di leherku. Perlahan aku membuka mata untuk melihat apa yang sedang terjadi. Mataku tepaku pada tanganku yang berada di kepala Vian, menelusup di sela-sela rambutnya yang lembut dan lebat.


Aku masih terduduk. Aku tidak sadar aku ketiduran sambil duduk, makanya leherku jadi sakit rasanya. Aku membelai rambut lembutnya dengan tanganku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya.


Aku tahu ini masih dini hari, jadi aku tidak ingin berpindah dari sisinya. Aku juga tidak ingin membangunkannya. Aku merasakan dia bergerak perlahan setelah beberapa saat. Dia membuka matanya, segera mendongak. Ketika dia melihat bahwa itu aku, dia berbalik dan menutup matanya lagi. Hingga keesokan harinya ...


***


"Jam berapa ini?" tanyanya lembut. Aku melepaskan tanganku dari rambutnya, aku tidak ingin membuatnya marah. Aku menekan ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang.


“Sudah hampir jam sepuluh. Ayo bangun, aku tidak bisa merasakan kakiku,” ucapku sambil menepuk lengannya dengan lembut. Setelah semalaman dia tidur di pangkuanku, rasanya kakiku jadi kesemutan.


Dia mengerang sebelum bangun perlahan. Memandangku selama beberapa detik, lalu dia berbalik. Tanpa berkata apa-apa, dia bangkit dan aku melihat celana cingkrangnya terangkat sedikit. Sebuah desain hitam ada di kulit kakinya, hampir tidak terlihat karena sangat kecil.


Aku meraih tangannya, menariknya kembali. Dia berhenti di depanku, menatapku dengan bingung. Aku menarik celana pendeknya sedikit keatas untuk melihatnya lebih dekat. Dia menariknya kembali ke bawah untuk menutupinya tetapi aku sudah melihat apa itu.


"Kenapa kamu punya tato? Apalagi tato ular?" Tanyaku padanya. Bagaimana dia bisa punya tato, apakah dia tidak tahu tato itu haram?


"Vian ..." ucapku dengan lembut, aku sangat ingin mendengar jawaban darinya. Aku menjaga nada suaraku agar terdengar lembut, karena aku tidak ingin membuatnya marah. Aku melihat wajahnya berubah masam.


"Bukan urusanmu!" ucapnya sembari mencoba berjalan tetapi aku memegang erat tangannya dan aku semakin mengeratkan peganganku.


"Aku tahu itu bukan urusanku, dan aku tahu bahwa aku tidak berarti apa-apa bagimu. Jadi, maaf karena aku telah mencampuri urusanmu hanya karena kamu benar-benar berarti bagiku," ucapku, sambil melepaskan tangannya.


Aku menunduk, merasa malu atas apa yang aku katakan dan bahkan bertanya tentang tatonya. Dia terdiam selama beberapa detik dan tidak bergerak, tidak seperti yang aku duga.


"Ini tato, seperti yang kamu lihat," ucapnya tiba-tiba.


Aku melihat ke arahnya dan dia masih memiliki ekspresi yang sama. Marah.


"Aku membuatnya setelah Liza meninggal. Aku membuatnya agar aku bisa mengingatkan diriku sendiri betapa mengerikannya aku dan betapa jijiknya aku dengan diriku sendiri," ucapnya sambil mundur beberapa langkah.


Baru saja aku membuka mulutku untuk menjawab, tetapi dia menggelengkan kepalanya dan langsung bicara kembali.


"Simpan saja nasihat-nasihatmu itu. Aku tidak butuh ceramah yang kamu berikan padaku," ucapnya dengan tegas. Namun tiba-tiba raut kesedihan terlukis jelas di wajahnya. Aku berdiri, menghentikannya saat dia hendak keluar dari pintu.


"Kamu tidak buruk. Maksudku, kamu kadang jahat tapi tidak buruk. Kamu tidak menjijikkan. Kamu adalah seseorang yang baru saja tersesat, kamu hanya kehilangan arah. Orang-orang seperti keluargaku lah yang menjijikkan, mengerikan. Seseorang yang mengambil jalan yang salah tidak buruk atau menjijikkan, mereka hanya tersesat," ucapku, berusaha untuk meyakinkannya bahwa dia tidak seperti yang dia katakan. Dia telah melindungiku. Dia membiarkan aku tinggal di rumahnya. Dia tidak menyiksa aku seperti yang dilakukan oleh keluargaku.

__ADS_1


“Kenapa kamu begitu menentang untuk menemukan jalan yang benar? Andai saja kamu mau menjalankan perintah Allah agar Allah mau mendengarkanmu juga ...” aku memberanikan diri untuk menasihatinya. Namun, dia tiba-tiba mendorongku ke dinding di sampingnya. Itu tidak sakit, tapi benar-benar membuatku terkejut. Aku menatap matanya yang menakutkan.


Jantungku mulai berdetak lebih cepat dan aku langsung menyesali apa yang aku katakan, meskipun saat berada di dekatnya seperti ini, aroma tubuhnya dapat menenangkanku.


"Sekarang kamu dengarkan baik-baik. Jangan tanya apa-apa tentang hidupku dan jangan coba-coba memberiku nasehat. Pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah merenungkan hidupmu sendiri, karena hal itu juga kacau, bahkan mungkin jauh lebih kacau," desisnya sambil menatapku dengan ekspresi marah yang biasanya membuatku takut, namun kali ini tidak. Aku meraih lengannya dan mendorongnya ke belakang.


"Maaf kalau aku telah mencoba masuk dalam kehidupanmu dan mencoba membuat hidupmu lebih baik, karena aku menyerah pada hidupku. Sekarang keluarlah, aku ingin sendiri," ucapku sambil menyingkir dari pintu agar dia bisa keluar.


Dia tidak mengatakan apa-apa dan keluar begitu saja. Aku terlonjak kaget saat dia menutup pintu dengan keras. Air mata membasahi mataku. Semua orang membenciku. Tubuhku mulai gemetar dan aku terduduk di lantai karena jika tidak, aku akan jatuh.


Aku menarik rambutku. Suara keluargaku kembali muncul di telingaku.


'Tidak berharga'


'Kami akan menjualmu, dia akan melakukan lebih dari yang kami lakukan, suamimu yang tampan,'


Kamu tidak layak untuk apa pun!'


'Kamu tidak akan pernah bahagia'


'Kamu bukan apa-apa bagi kami'


Semua yang mereka lakukan terhadapku dan nenekku, kembali muncul di ingatanku seolah kembali menjadi nyata. Biasanya aku selalu tahu bagaimana menutup perasaan dan kenanganku tentang semua itu, tetapi sekarang, aku tidak bisa melakukannya lagi.


Aku mulai membenturkan kepalaku ke dinding dengan ringan, mencoba menghancurkan segala sesuatu dari dalam diriku. Tiba-tiba aku merasakan seseorang mengguncang tubuhku dan menampar wajahku yang membuat aku semakin takut. Hal itu akan terjadi lagi, aku tahu itu.


Aku mulai lebih gemetar lagi dan meskipun aku ingin melindungi diri dari guncangan dan tamparan, aku tidak bisa bergerak.


"Vian, kemarilah sekarang juga!" Seorang wanita berteriak. Aku merasa sedikit lebih tenang saat mendengar nama Vian. Perasaan macam apa ini? Aku membencinya tapi tetap ingin bersamanya sepanjang waktu. Dia menyakitiku sama seperti mereka, secara mental. Dan tetap perasaan itu dia, selalu dia. Kenapa ..?


***


"Lakukan sesuatu!"


"Aku tidak tahu .. tidak tahu harus berbuat apa ..."


"Peluk dia, dia mengalami serangan panik!"

__ADS_1


Tiba-tiba aku merasakan sepasang lengan melingkar di pinggangku. Perasaan aman itu datang lagi. Dia mengeratkan pelukanya sambil berkali-kali menyuruhku untuk tenang.


Aku mencoba untuk mengatur pernapasanku. Seperti yang dia katakan dan setelah beberapa saat, aku merasa lebih baik. Nafasku mulai kembali normal walaupun sedikit lebih berat dan aku mulai berhenti gemetar.


Beberapa saat kemudian aku merasa lebih tenang, dan perlahan aku membuka mataku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, aku melihat Sevda dan Layla. Layla tampak sangat ketakutan jadi aku mengulurkan tangan untuknya, meski aku merasa masih sangat lemah. Dia meraih tanganku dengan ragu-ragu, lalu perlahan aku mengangkatnya ke pangkuanku. Aku meletakkan tanganku di pipinya.


"Tidak apa-apa, tidak ... tidak ada yang terjadi," suaraku terdengar parau. Rasanya seolah aku baru saja menjerit begitu keras sehingga membuatku merasa sulit bicara.


Gadis kecil itu mengangguk dan dengan cepat bangkit dari pangkuanku.


Aku menatap Sevda dan dia hanya menggelengkan kepalanya lalu memberiku senyuman hangat. Aku merasakan kedua lengan yang melingkar di tubuhku mengerat, menyeret tubuhku untuk lebih condong ke arahnya.


"Vian," bisikku. Dia tidak bergerak. Dia masih memelukku seperti itu. Aku mencoba menggerakkan lengannya tetapi Sevda menghentikanku.


"Jangan. Biarkan dia memelukmu. Dia membutuhkannya. Dia sangat takut melihatmu seperti tadi," ujarnya dan aku mengangguk, memahami apa yang dia maksud. Dia meraih tangan Layla dan beranjak keluar dari kamar. Aku membiarkan Vian memelukku seperti itu sesaat, lalu aku berbalik dalam pelukannya.


“Vian, aku baik-baik saja,” ucapku sambil menyentuh wajahnya. Namun, dia tetap tidak mau membuka matanya. Aku menghela nafas dalam-dalam.


"Aku di sini, tidak terjadi apa-apa," ucapku dan dia membuka matanya. Matanya terlihat seolah dipenuhi rasa sesal.


“Aku menyakitimu. Aku menyakitimu sepanjang waktu dan itu semua salahku,” katanya dengan suara lemah.


Aku tidak bisa berdebat dengannya sekarang, jadi aku hanya meletakkan kepalaku di dadanya dan memeluknya.


"Tidak ada satupun salahmu. Jika memang ini salahmu, aku tidak akan berada di sini," ucapku dan dia memelukku lebih erat. Aku tidak tahu apa yang merasuki kami, tetapi kami duduk berpelukan seperti itu selama berjam-jam.


Kemudian aku berdiri dan meraih tangannya untuk membantunya berdiri. Kakiku terasa masih agak gemetar tapi aku bisa mengatasinya.


"Maaf, tentang sebelumnya. Itu pilihanmu .. Hidup, hidupmu. Dan tubuh, tubuhmu juga. Aku tidak perlu untuk ikut camp-" dia bahkan tidak membiarkanku menyelesaikan kata-kataku.


"Jangan khawatir tentang itu," ucapnya, setelah itu dia melepaskan pelukanku.


"Aku benar-benar butuh udara segar sekarang. Aku akan segera kembali," ucapnya seraya berlalu.


Aku menghela nafas dan membiarkan diriku jatuh di tempat tidur.


'Tato itu haram. Kenapa haram? Karena tato itu tidak sehat dan dapat membuat tubuh kita sakit, cara membuatnya saja ditusuk-tusuk dengan jarum. Kita tidak boleh melukai tubuh dan kehidupan yang telah Allah berikan. Tubuh kita bukanlah milik kita, tapi milik Allah, dan kita harus menjaganya. Dia lah yang menciptakan kita dan kita harus menjalankan perintah-Nya. Dia tidak akan menetapkan suatu ketentuan tanpa alasan yang baik. Semuanya punya alasan. Begitu juga kenapa kamu menikah dengan Vian,' ucap suara aneh itu dan aku sedikit tersenyum, lega dengan penjelasannya. Tubuh ayah dan saudara laki-lakiku dipenuhi tato, meskipun aku tidak benar-benar melihat semuanya, tapi aku yakin itu tato.

__ADS_1


__ADS_2