Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Liza Datang


__ADS_3

Aku belum pernah ke pantai sebelumnya dan aku jadi sangat senang sekaligus gugup. Aku mengayunkan tangan kami maju mundur sambil menatap Vian, dua terlihat bosan.


"Apakah aku sudah memberitahumu sebelumnya bahwa kamu adalah anak kecil?" Dia bertanya dan aku tertawa.


"Iya, benar. Tapi mau tidak mau, ini pertama kalinya aku ke pantai," ucapku sambil melepas sepatu, menikmati hangatnya pasir. Rasanya sangat menyenangkan .. Seperti awan. Cuacanya sempurna dan aku menikmati matahari yang menerpa wajahku.


"Benarkah?!" Aku mendengar suara kebingungan di sampingku dan aku menyadari itu adalah Vian. Aku menatapnya dan melihat ekspresi bingungnya.


"Mereka tidak pernah mengizinkanku untuk keluar. Satu-satunya tempat yang pernah aku kunjungi adalah sekolah, dan aku tidak pernah pergi sendirian," ucapku pelan. Dia menoleh ke arahku lalu meraih kedua tanganku.


"Mulai sekarang, kamu tidak akan memikirkannya lagi. Apa yang lalu sudah berlalu biarlah berlalu. Saat-saat inilah yang penting," ucapnya pelan dan terdengar sedikit tidak yakin. Aku meletakkan tanganku di pipinya dan tersenyum.


"Terima kasih" aku berbisik lalu melepaskannya. Dia mengerang sedikit dan aku berlari, agar dia menangkapku. Dia berlari ke arahku dan aku tertangkap setelah beberapa detik. Dia terlalu cepat. Dia memeluk pinggangku dan kami jatuh ke pasir. Aku menatap langit biru.


"Apa warna kesukaanmu?" Aku bertanya padanya entah dari mana. Dia terdiam sebentar.


"Biru" ucapnya dan aku menatapnya.


"Kalau kamu?" Dia bertanya padaku, sambil tersenyum sedikit. Senyuman itu membuat hatiku meleleh. Sangat indah ..


"Putih, sepertinya," ucapku. Putih, karena aku sudah lama berada di kegelapan. Satu-satunya warna yang tidak memiliki kegelapan adalah putih.


"Musim kesukaan?" Dia bertanya padaku. Jadi dia benar-benar ingin mempermainkanku?


"Musim panas. Kalau kamu?" Aku bertanya kepadanya.


"Musim hujan," jawabnya. Aku menoleh padanya dan meletakkan kepalaku di dadanya.

__ADS_1


"Apa hal yang paling kamu takuti?" Aku bertanya padanya dengan tenang.


"Mimpi buruk. Kalau kamu?" Dia balik bertanya.


"Kehilangan dirimu .. Aku berbisik di dadanya, bukan untuk didengarnya. Aku tidak ingin dia mendengar. Aku tahu bahwa dia tidak merasakan hal yang sama tetapi aku tidak bisa menghentikan perasaan yang bergejolak di dadaku.


"Tidak akan," ucapnya sambil mengencangkan pelukannya padaku. Mataku membelalak tapi aku segera menutupnya. Aku seharusnya menikmati ini, bukan memikirkannya.


Aku membuka mataku dan menatap laut biru. Deburan ombak itu seolah memanggilku. Aku berdiri dan berlari ke sana. Aku berjalan di pantai dan aku merasakan air mengenai kakiku. Baru kali ini aku merasa sebebas ini. Aku sangat gembira. Aku tertawa kecil sambil berlarian di atas pasir. Aku tak peduli jika Vian akan menganggapku anak kecil. Tiba-tiba aku merasakan seseorang lengan melingkar di pinggangku, aku memejamkan mata menikmati pelukannya.


"Indah sekali, bukan. Rasanya, jika kamu berjalan lebih jauh kamu benar-benar akan bebas. Kamu akan berada dalam kebiruan. Kamu akan tersesat dari segalanya. Semua kegelapan akan memudar. Perasaan akan terhalang. Tak seorang pun bisa untuk menyakitimu lagi. Kamu akan sendirian dalam damai. Kamu akan merasa .. bebas," ucapku, sambil menikmati aroma yang datang dari laut


"Jika kamu berjalan lebih jauh, kamu akan sampai pada titik di mana kamu tidak bisa bernapas. Kamu akan menutup mata karena garam akan membakarnya. Kamu akan memejamkan mata dan melihat kegelapan. Kamu akan menendang dan meninju dan mencoba untuk naik ke permukaan, hanya untuk satu nafas itu. Dan kalau kamu berjalan lebih jauh, kamu akan terperangkap dalam kegelapan selamanya .. ," ucapnya membuatku segera berbalik menatapnya. Dia mengatakan kebalikan dari yang aku katakan. Aku menatapnya dengan bingung.


"Apa kau sangat ingin mati?" ucapnya dan aku membuang muka. Kenapa itu yang dia bicarakan?


"Ayo kita keluar. Setelah kita kering kita bisa makan di suatu tempat," ucapnya dan aku bersemangat. Ini akan menjadi kedua kalinya kami akan makan di luar.


"Aku berbicara dengan ayahku. Aku mengatakan kepadanya betapa hebatnya kamu dalam menggambar. Dia ingin melihatnya. Jadi mungkin, minggu-minggu ini kita akan pergi menemui ayah lagi," ucapnya dan mataku membelalak. Kenapa dia .. Ya Allah, semuanya jadi .. aneh.


Beberapa saat kemudian, pelayan datang membawa makanan. Aku melihatnya dan itu adalah pizza. Mulutku sudah mulai berair.


"Ini akan menjadi pizza terbaik yang pernah kamu makan," ucapnya sambil mulai makan. Aku mengambil sepotong juga dan mencicipinya. Enak sekali .. Baiklah, ini makanan favoritku sekarang.


"Ini ketiga atau empat puluh kali aku makan pizza," ucapku bercanda, dan dia menatapku dengan bingung.


"Apakah kamu menyukai olahraga?" Aku bertanya kepadanya saat aku melihat seorang pria berlari dari jendela.

__ADS_1


"Aku suka tinju dan sepak bola," jawabnya. Oh, tinju, itu sudah jelas.


"Jika kamu bisa mendapatkan tiga permintaan, apa yang akan kamu minta?" tanyanya. Tiga permintaan? Aku tidak pernah memikirkan tentang itu.


"Pertama, kamu menerima Islam lagi. Yang kedua adalah kita pergi naik haji bersama. Dan aku akan memberikan keinginan ketiga kepadamu," ucapku, tidak menatapnya.


"Kenapa aku begitu penting bagimu?" Dia bertanya dengan bingung, saat menyadari semua keinginanku adalah tentang dia.


"Karena meskipun kamu jahat sepanjang waktu, kamu menarikku keluar dari lubang itu. Mungkin secara tidak langsung, tapi tetap saja aku harus berterimakasih padamu," Aku menjawabnya dengan jujur. Dia mengabaikanku dan kami memakan sisanya dalam diam.


***


"Vian, terima kasih untuk hari ini. Sungguh menakjubkan," ucapku. Kami sedang duduk di sofa dan dia mengangguk, memelukku sebelum meletakkan dagunya di atas kepalaku.


“Selalu. Jangan lupa, aku selalu disini ..” ucapnya dan aku mengangguk menikmati aromanya.


Tiba-tiba bel pintu berbunyi, mengagetkanku. Aku menghela nafas, sembari bangkit dari dudukku lalu melangkahkan kakiku ke pintu untuk membukanya. Sesuatu dalam hatiku mengatakan 'jangan' tapi aku tetap membukanya.


Setelah aku membukanya, aku melihat seorang gadis cantik. Perawakannya tinggi semampai, dia terlihat seperti model. Aku belum pernah melihat gadis secantik dia. Dia tersenyum padaku, aku melihat dia memegang secarik kertas.


"Permisi. Aku sedang mencari alamat Vian. Ini benar rumahnya, kan? Apakah kamu sepupunya?" tanyanya.


Aku mendengar sesuatu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Aku melihat ke arah Vian. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, matanya terbelalak. Sesaat kemudian, dia beranjak mendekati kami. Aku menoleh ke arah gadis manis itu sambil tersenyum.


"Bukan. Aku adalah istr-" Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Aku mendengar Vian.


"Liza?!"

__ADS_1


Aku melihat Vian menatap gadis itu dengan mata terbelalak.


Mulai sekarang, semuanya akan berakhir.


__ADS_2