Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Menemui Liza


__ADS_3

Hari ini, Aku dan Vian akan pergi ke suatu tempat. Kami pergi dengan mobilnya.


Dia membangunkanku tadi pagi dengan suara lembut, aku masih mengingatnya. Aku tidak tahu kemana kami akan pergi, tapi aku tidak berani bertanya. Aku takut dia akan marah dan malah tidak jadi pergi. Aku sangat penasaran kemana dia akan membawaku.


Aku menoleh ke arah Vian, dan memperhatikannya sebentar. Dia tampak kesal sekaligus sedih. Aku tidak tahu mengapa, jadi aku meraih tangannya dan meletakkannya di telapak tanganku, hanya untuk memberinya kenyamanan. Tapi dia melihatnya lalu menepis tanganku. Aku segera melihat ke jalan, seolah-olah tidak ada yang terjadi.


"Jangan! Jangan sentuh aku, apalagi hari ini," katanya. Aku hanya mengangguk, lalu melihat keluar jendela.


Tiba-tiba aku merasa mengantuk. Aku memejamkan mataku lalu aku mendengar suara aneh itu lagi, 'Bantu dia, hari ini dia membutuhkanmu.' Aku masih memejamkan mataku sambil memutar bola mataku ke atas, kepalaku terasa pusing.


Beberapa saat kemudian, dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan raya. Aku melihat sekeliling, aku tidak tahu di mana kami berada. Dia mulai berjalan dan aku mengikutinya dari belakang. Aku merasa sedikit takut. Aku berjalan sedikit lebih cepat agar bisa lebih dekat dengan Vian.


Aku melihat ke sekeliling, ternyata dia membawaku ke sebuah kuburan, tanpa batu nisan. Lalu dia berjalan mendekati kuburan itu lalu duduk di depannya. Aku mengikutinya sambil bertanya-tanya dalam hati. Kuburan siapa ini?


"Hai, Liza. Maafkan aku ... Hampir satu bulan, aku tidak mengunjungimu. Sekarang, aku sudah menikah, dan semuanya jadi lebih buruk. Tapi, kamu jangan khawatir, aku masih tetap mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu, sampai kapan pun," ucapnya sambil memandang kuburan itu.


Aku menggenggam tangan Vian dengan erat. Dia mencoba melepaskannya, tapi aku tidak membiarkan tangannya terlepas dari genggamanku.


"Hai, Liza. Lihatlah bagaimana keadaannya sekarang. Bagaimana keadaannya sejak kamu pergi. Dia menyakiti diri sendiri setiap saat. Rasa bersalah benar-benar menghantuinya.


Aku yakin dia dulu sangat baik. Jika kamu masih ada di sini, aku tahu kamu pasti akan marah padanya.

__ADS_1


Aku tahu bahwa dia masih percaya kepada Allah, namun dia berpikir bahwa Allah tidak adil padanya. Tapi jangan khawatir, aku akan membantunya. Bukan sebagai istrinya, tapi sebagai teman.


Jangan khawatir, aku tidak akan menyerah. Karena aku tahu, dia adalah orang yang sangat baik," ucapku sambil mengeluarkan sedikit air mata. Aku saja merasa sedih, apalagi Vian?


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Vian. Dia menangis. Air matanya mengalir deras di wajahnya. Aku menyeka air matanya dan dia memejamkan matanya. Setelah itu dia membuka matanya lalu menatapku dalam-dalam. Seolah ada beban yang begitu berat dirasakannya, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku pikir kamu akan membencinya," ucapnya.


Aku tidak mengatakan apa-apa dan kami duduk di sana dalam waktu yang cukup lama, hanya terdiam satu sama lain. Tanpa kusadari, ternyata kami masih berpegangan tangan.


Beberapa saat kemudian. dia berdiri dan menarik tanganku untuk berdiri juga dan kami pulang. Tak satu pun dari kami berbicara hingga kami duduk di balkon, masih berpegangan tangan. Sepertinya dia berjalan tanpa menyadarinya. Lalu kami memasuki balkon, dan duduk di lantai.


"Kenapa?" Aku bertanya padanya dan dia terlihat bingung.


"Kenapa menurutmu aku akan membencinya?" Aku bertanya kepadanya. Dia mengangkat bahu, melihat ke kejauhan.


“Bukankah semua wanita seperti itu? Selalu cemburu pada orang lain,” ucapnya membuatku sedikit tersenyum. Dia sangat lucu, seolah dia tahu segalanya tentang perempuan.


"Tidak, tidak semuanya seperti itu," kataku sambil tertawa kecil. Dia tersenyum tapi tidak mengatakan apapun.


"Lagi pula kenapa aku harus cemburu pada seseorang yang ... sudah mati dan kamu mencintainya?" kataku. Dia mengangguk. Perlahan, aku menyandarkan kepalaku di pundaknya dengan sedikit takut, tapi dia tidak melakukan apa-apa.

__ADS_1


"Ceritakan padaku tentang dia," kataku. Aku ingin tahu tentang mereka. Aku ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak akan pernah, pikirku. Dan aku tidak pernah berpikir tentang cinta. Dia sedikit tertawa mendengar permintaanku dan itu membuat hatiku meleleh.


"Betapa canggungnya ini. Istriku bertanya tentang seseorang yang aku cintai," ujarnya membuatku tersenyum. Aku menunggu dia melanjutkan perkataannya.


"Aku pertama kali melihatnya di SMA. Aku melihatnya di hari pertama dan sebenarnya sangat tidak menyukainya. Dia terlalu .. terlalu manis. Dia bergaul dan membantu semua orang. Dia sangat cantik, sangat kuat. Dia selalu terlihat ceria dan semua orang menyukainya.


Dulu, aku tidak seperti ini, tidak seburuk ini. Aku melakukan semua ini hanya agar aku bisa melupakannya, dan perlahan rasa bersalahku sedikit berkurang.


Saat itu, aku ingin menikahinya. Kami tidak memiliki hubungan seperti pacaran, tapi kami punya komitmen untuk menikah. Untuk apa pacaran kalau kami bisa langsung menikah, ya kan?


Aku mengatakannya pada orang tuaku. Setelah itu orang tuaku membicarakannya dengan orang tuanya. Tapi, orang tuanya tidak setuju dengan hubungan kami. Mereka tidak ingin anaknya bahagia. Dia mengalami banyak hal, sama sepertimu. Dia juga dipukuli, tapi aku tidak tahu. Aku baru tahu, setelah dia meninggal. Aku mengetahuinya dari orang lain ..." Dia berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam. Aku mengusapkan jempolku di punggung tangannya untuk menghiburnya dan dia membiarkanku.


"Dia selalu berjuang demi hubungan kami. Terkadang dia terlihat sangat sedih dan murung. Padahal biasanya dia selalu ceria. Ketika aku bertanya dia kenapa, dia bilang itu karena sekolah dan situasi kami saat ini. Aku tidak tahu kalau dia dipukuli setiap hari setelah pulang sekolah ... Dia tidak berdaya. Itu semua karena aku, seharusnya aku tidak perlu meminta untuk menikah. Karena aku, dia harus berbaring di sana, selamanya," ujarnya.


Aku memeluknya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak pernah tahu bahwa dia telah mengalami semua ini. Pasti sangat sulit untuknya. Dia tidak membalas pelukanku, tapi aku tidak peduli.


"Semuanya akan baik-baik saja. Ini semua bukan salahmu," ucapku dan dia hanya terdiam.


"Tapi, kenapa kita pergi ke sana hari ini?" ucapku sambil melepaskan pelukanku.


Dia membuang muka, seolah tak suka dengan pertanyaanku.

__ADS_1


"Karena, hari ini adalah hari di saat dia meninggal dan sudah berbaring di sana selama dua tahun," jawabnya. Aku merasa sangat menyesal telah menanyakannya.


Beberapa saat kemudian, aku meraih tangannya untuk berdiri dan dia mengikutinya. Kami berjalan ke ruang tengah. Aku harus melakukan sesuatu. Satu-satunya cara yang mungkin dapat membuatnya kembali percaya pada Allah sehingga dapat meringankan rasa sakit dihatinya.


__ADS_2