CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
RINDU YANG TERPENDAM


__ADS_3

Mia langsung masuk ke dalam rumah, dia ingin melihat bagaimana keadaan sang ayah.


"Ayah," panggil Mia saat melihat pria paruh baya yang hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya.


Joni paman sekaligus ayah angkat Mia menengok ke arah pintu saat mendengar suara yang memanggil namanya, "Mia," jawab Joni yang langsung menangis saat melihat anak angkatnya itu.


Joni dan Rina sudah lama menikah tetapi, meraka tidak mendapatkan buah hati dari pernikahan mereka. Sehingga pada saat kedua orang tua Mia meninggal dunia, Joni dan Rina langsung mengangkat Mia untuk menjadi anaknya.


Mia langsung berjalan menghampiri Joni dan duduk di sebelah pria paruh baya itu, "Ayah kita ke dokter yuk," ajak Mia saat di dekat pria itu hanya ada beberapa obat yang dibeli sang ibu di warung terdekat.


Joni menggelengkan kepalanya, "Tidak usah, sebentar lagi juga ayah pasti sehat," ucap Joni yang masih tidak ingin pergi berobat ke dokter.


Mia menatap jam yang berada di ruangan itu, "Ibu, Ayah sudah makan belum?" tanyanya saat tidak melihat piring bekas makan di dekatnya.


Rina menghela nafasnya, "Tadi Ibu sudah bujuk ayah kamu untuk makan tetapi, dia ingin menunggu kamu dahulu," Rina menceritakan alasan sang suami yang selalu menolak makan.


Mia menatap kedua mata sang ayah, "Makan ya Yah, biar cepat sehat dan kita bisa tinggal bersama lagi," Mia mencoba membujuk sang ayah agar menuruti permintaannya.


Mia terus menerus membujuk sang ayah agar mau sedikit mengisi perutnya, Joni mau tidak mau menuruti permintaan anak semata wayangnya.


Joni tidak pernah merasa jika Mia bukanlah anak kandungnya, "Ayah sudah kenyang Mia," ucap Joni ketika perutnya sudah tidak dapat menampung banyak makanan.


Mia memberikan minum kepada sang ayah, Natasha yang menyaksikan percakapan keduanya sedikit terharu.


"Duduk dahulu yuk," ajak Bryan yang tiba-tiba berada di belakang Natasha.


Bryan awalnya hanya menyaksikan Natasha yang terus menatap kedua orang di depannya, Bryan tahu perasaan yang pasti di rasakan oleh Natasha.

__ADS_1


"Nanti saja, aku sedang melihat Mia yang begitu perhatian terhadap ayahnya. Andai aku bisa seperti itu," ucap Natasha yang tanpa sadar sudah mengeluarkan air matanya.


Bryan yang melihat tubuh Natasha bergetar langsung menarik tangan gadis itu, tanpa basa-basi Bryan memeluk tubuh Natasha yang terus menangis dalam pelukannya.


"Do'akan semoga kedua orang tuamu bahagia di sana, aku janji akan menjaga kamu di sini," Bryan sedikit tersentuh saat Natasha mulai menceritakan tentang orang tuanya di sela-sela tangis.


"Aku selalu tidak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya dunia luar, ayah selalu melarang aku untuk keluar rumah," Natasha menceritakan tentang sang ayah yang selalu melarangnya keluar rumah agar bisa terhindar dari segala bahaya yang selalu mengintai keluarganya.


Bryan menuntut Natasha untuk duduk di sebelahnya, dan tanpa ragu Natasha mulai menceritakan tentang siapa dirinya.


"Maafkan aku Bryan, bukan maksud aku membohongi kamu tetapi, ada hal yang harus membuat aku harus menutup rapat semua informasi tentang diriku," ucap Natasha yang membuat Bryan semakin bingung dengan ucapan wanita di depannya.


"Maksud kamu apa Sya?" tanya Bryan yang masih bingung.


"Kamu tahu perusahaan xxx itu milik siapa?" Natasha dengan perlahan mulai membuka jati dirinya, dia sudah merasa nyaman saat dekat dengan Bryan.


"Punya Sam," jawab Bryan enteng. "Memang ada apa Sya dengan perusahaan xxx?" sambung Bryan yang ikut bertanya kepada Natasha.


Bryan yang mendengar pernyataan Natasha sedikit terlonjak kaget, "Kalau memang itu perusahaan peninggalan papah kamu, kenapa kamu tidak keluar dan menjadi bos di sana. Kenapa harus melamar pekerjaan di tempatku?" tanya Bryan yang semakin penasaran dan juga bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Natasha menarik nafasnya, dengan perlahan dia mulai menceritakan semuanya secara perlahan.


"Orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan aku tahu siapa yang melakukannya karena pada saat papah dan mamah akan di makamkan secara tidak sengaja aku mendengar Om Sam sedang menelepon seseorang," Natasha sedikit berat saat menceritakan tentang kematian orang tuanya.


Bryan yang mulai mengerti membawa Natasha ke dalam pelukannya, "Menangislah jika kamu ingin menangis dan jika kamu tidak sanggup untuk bercerita sekarang biarkan semua akan terungkap seiring waktu berjalan," ucap Bryan sambil mengelus rambut wanitanya.


Beberapa ciuman di puncak kepala Natasha rasakan, Natasha juga merasakan ada rasa aman dan nyaman saat dekat dengan Bryan.

__ADS_1


"Sekarang lebih baik kamu istirahat dahulu, jangan memikirkan apapun," pesan Bryan kepada Natasha.


Natasha menganggukan kepalanya, wanita itu pamit untuk pergi menuju kamarnya yang telah di sediakan.


Natasha mulai mengistirahatkan tubuhnya, bayang-bayang masa lalu yang selalu hadir membuatnya sedikit takut.


"Sya," panggil Mia sambil mengetuk pintu yang Natasha tempati. Natasha yang belum terlelap tidur segera membukakan pintu untuk sahabatnya itu, "Ada apa Mia?" tanya Natasha.


Mia memberikan segelas teh hangat untuknya dan beberapa makanan khas yang telah di buatkan oleh sang ibu, "Ini Ibu menyuruh aku untuk memberikannya."


Natasha mengambil nampan yang berisi teh dan cemilan untuknya, "Terima kasih," ucap Natasha.


"Kamu mau masuk dulu?" sambung Natasha. Tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, Mia bergegas masuk ke dalam kamar Natasha.


"Sya, bagaimana hubunganmu dengan Pak Bryan?" tanya Mia yang langsung duduk di tepi kasur.


Natasha ikut mendudukkan dirinya di samping Mia, "Baik-baik saja, dia termasuk pria yang sangat baik dan pengertian," puji Natasha.


Mia merasa lega setelah mendengar jawaban dari gadis di sampingnya, "Lalu apa kamu sudah menceritakan siapa kamu sebenarnya?" Mia hanya ingin tidak ada yang di tutupi oleh sahabatnya, karena bagaimanapun mereka sudah memiliki sebuah hubungan yang pasti.


Natasha menghela nafasnya, "Aku baru bercerita tentang perusahaan peninggalan papah, tapi saat aku menceritakan tentang Sam ...," Natasha selalu sedih dan juga marah saat mengingat nama Sam.


Nama yang telah membuatnya harus menanggung rindu yang teramat dalam kepada kedua orang tuanya, Mia yang paham langsung membawa tubuh Natasha ke dalam pelukannya.


"Sekarang kamu tidak sendiri Sya, ada aku dan juga Bryan. Lupakan semua masalahmu, kita buka lembaran baru dan buktikan pada lelaki itu kalau kamu yang pantas mendapatkannya bukan dia," Mia ikut geram saat mendengar cerita Natasha dulu.


Gadis itu ingin ikut membalas apa yang telah lelaki itu perbuat kepada sahabatnya tetapi, Natasha selalu melarang dan juga menasihatinya agar bisa memaafkan walau pedih.

__ADS_1


Mia melepaskan pelukannya, "Jangan sedih lagi, ada aku yang selalu berada di sampingmu. Kamu pasti bisa untuk melalui semuanya," Mia pamit untuk kembali ke dalam kamarnya.


Natasha kembali menutup rapat pintu kamarnya, tanpa di sadari Bryan yang akan masuk ke dalam kamarnya tidak sengaja mendengar percakapan mereka. "Aku akan bantu kamu untuk membalaskan dendam demi kedua orang tuamu Sya," ucap Bryan yang langsung berlari menuju kamarnya saat tahu jika Mia akan keluar dari kamar Natasha.


__ADS_2