CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
TERIMA KASIH


__ADS_3

Sam terkejut saat melihat kedatangan Bryan, "Kalian, " ucap Sam dengan wajah terkejut.


"Selamat datang Pak, silakan duduk," ucap Tomi sambil menarik kursi di depannya.


"Apa maksud semua ini?" tanya Sam bingung karena setahu dirinya Tomi-lah yang membeli saham miliknya.


Tomi yang mengerti akan kebingungan yang di hadapi Sam, "Yang membeli saham milik Bapak adalah Pak Bryan," ucapan Tomi membuat Sam dan juga Natasha terkejut.


"Apa!" Sam bangkit dari kursi miliknya dan menggebrak meja di depannya.


"Kenapa terkejut tuan?" tanya Bryan tanpa rasa takut sedikitpun.


"Kenapa anda tidak bilang jika yang membeli saham saya adalah dia?" tanya Sam dengan mengeraskan nada suaranya.


Tomi bangkit dari kursi yang di dudukinya, "Bukankah saya sudah bilang Bos saya tertarik dengan saham yang anda jual dan ini Bos saya," ujar Tomi dengan senyum yang terus mengembangkan.


Sam terdiam saat mendengar jawaban Tomi, dia lupa untuk mencari tahu siapa Bos yang di maksud oleh clientnya itu.


"Apa ada masalah jika saya yang membeli saham milik anda?" pertanyaan Bryan membuat Sam kembali terdiam, dia tahu jika Bryan adalah salah satu pemilik perusahaan terbanyak di negaranya.


Semua perusahaan yang di pegangnya akan berkembang pesat karena, rekan dari perusahaan itu yang tidak sedikit. Terlebih jika Bryan yang membeli saham miliknya dia menjadi tidak mudah untuk tetap mencampuri urusan perusahaan xxx, Natasha yang juga terkejut hanya terdiam melihat perdebatan di depannya.


"Saya datang ke sini bukan untuk mencari ribut dengan anda tetapi, saya hanya ingin mengambil yang sudah menjadi hak saya," sambung Bryan yang langsung bangkit dari kursinya.


Sam mengepalkan tangannya, "Saya membatalkan penjualannya dan saya tidak akan pernah menjual saham saya kepada anda," ujar Sam membuat Bryan yang semula akan keluar ruangan menjadi terhenti dan berbalik ke arah Sam.


"Anda mau coba-coba bermain dengan saya? Saya akan pastikan hidup anda akan menderita jika anda tetap membatalkan penjualan saham milik anda," ucap Bryan tepat di depan wajah Sam.

__ADS_1


Wajah Sam terlihat memerah saat mendengar ancaman Bryan, "Sialan aku di kelabui bocah itu," geram Sam saat melihat Bryan yang pergi meninggalkan ruangan.


Tomi yang di perintah Bryan segera mengeluarkan beberapa surat untuk bukti jika saham perusahaan xxx milik Sam sudah berpindah ketangannya. Sam mau tidak mau menandatangani perjanjian yang telah di buat Tomi dan Bryan, apalagi saat membaca satu persatu isi surat itu.


"Benar-benar kalah tetapi, aku tidak akan tinggal diam. Tunggu pembalasanku," gumam Sam sambil menandatangani perjanjian itu.


Tomi pamit undur diri setelah semua tugasnya telah selesai, "Terima kasih atas kerjasamanya dan jangan lupa untuk segera tinggalkan ruangan ini," ucap Tomi yang bergegas menuju ruangan dimana Bryan dan Natasha berada.


Sam kembali terduduk di kursi miliknya dengan perasaan lesu sebab dia berharap jika pembeli saham miliknya bukanlah Bryan, dia sudah mencari informasi tentang siapa Bryan dan Sam menemukan jika Bryan adalah anak dari Jonathan.


Sam kenal betul siapa itu Jonathan terlebih pria itu beberapa kali bertemu dengannya saat mengunjungi sang keponakan, "Aku akan mencari cara lain agar semua saham milik Raihan jatuh ke tanganku," ucap Sam sambil tertawa.


Sam mulai merapikan barang-barang miliknya, "Andai aku tidak gegabah dalam hal ini. Mungkin tidak akan terjadi," Sam menyesali tidak mencari tahu siapa yang membeli saham miliknya di perusahaan xxx.


Di ruangan milik Natasha dengan setia mereka menunggu pemiliknya, saat pintu ruangan terbuka mereka semua menatap kearahnya.


"Saya harap kalian bisa menjaga rahasia ini, dan jangan sampai ada yang tahu tentang masalah ini," sambung Natasha yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari kedua wanita di depannya.


Nay dan Reni segera pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, "Raka bantu saya untuk terus pantau gerak-gerik Om Sam. Saya tidak ingin kecolongan seperti ini lagi," Natasha kembali mengingatkan kepada asistennya untuk lebih berhati-hati.


Bryan yang ikut masuk ke dalam ruangan Natasha tersenyum kagum dengan pekerjaan sang kekasih, "Saya permisi dahulu Bu, Pak," pamit Raka.


Pemuda itu akan melanjutkan pekerjaannya karena hari ini Sam akan meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, Raka juga harus memastikan jika pria itu benar-benar keluar tanpa meninggalkan apapun di sana.


Setelah Raka keluar, Tomi masuk ke dalam ruangan Natasha. "Ini berkas yang Bapak pinta," ucap Tomi sambil memberikan dua buah map yang ada di tangannya.


Bryan mengambil berkas itu dan memberikannya kepada Natasha, "Kamu baca lalu tanda tangani segera," ujar Bryan.

__ADS_1


Natasha mengambil dan mulai membaca berkas dihadapannya, "Ini ...."


Bryan menganggukkan kepalanya saat melihat keterkejutan Natasha, "Ini hadiah untukmu dan kamu pantas mendapatkannya," ujar Bryan.


Natasha langsung memeluk tubuh Bryan tanpa memperdulikan Tomi yang masih berada di ruangan miliknya, "Terima kasih banyak," ucapnya tulus.


Natasha merasa bangga memiliki seorang kekasih seperti Bryan, "Jika ada apa-apa kamu bilang sama aku." Bryan melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Natasha.


Gadis di depannya menganggukkan kepalanya, "Pasti aku akan bilang sama kamu kalau ada apa-apa," ujar Natasha sungguh-sungguh.


Bryan pamit kembali menuju kantornya karena ada beberapa rapat yang harus di hadirinya, "Kamu mau ikut atau masih mau di sini?" tanya Bryan sebelum benar-benar meninggalkan Natasha.


"Boleh tidak jika aku mengurus semua urusan di sini terlebih dahulu?" tanya Natasha sambil menundukkan kepalanya.


Bryan mengusap kepala Natasha, "Apapun yang ingin kamu lakukan. Lakukanlah, aku akan selalu mendukungmu," ujar Bryan.


Natasha bersyukur memiliki Bryan di sisinya, padahal mereka baru beberapa bulan menjalin hubungan. Apalagi pertemuan keduanya tidak seperti kebanyakan sepasang kekasih, hubungan mereka yang berawal dari permintaan Jonathan menginginkan Natasha untuk menjadi menantunya. Natasha awalnya hanya merasa nyaman saat bersama dengan keluarga Bryan, itulah alasannya mengapa dirinya mau menerima Bryan.


Natasha menatap Bryan yang berlalu meninggalkan ruangan miliknya, "Kamu lihat Pah, Mah, dia baik bukan? Lindungi aku dimanapun kalian berada," Natasha menatap album yang di ambilnya dari laci.


Natasha kembali melihat berkas pemberian Bryan, di tatap berkas itu yang sudah mengatas nama dirinya.


"Aku tidak pernah menyangka jika sekarang semua menjadi milikku, aku janji akan mempertahankan semuanya demi Papah," lirih Natasha.


Dia selalu terbayang akan perjuangan sang Papah saat membangun perusahaan xxx dari awal, tidak ada kata lelah di pikiran sang Papah dan itu membuat semangat Natasha untuk kembali memajukan perusahaan peninggalan Raihan.


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, komen dan ratenya. Mohon maaf jika masih ada kesalahan karena masih dalam tahap belajar 😊😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2