CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
MUNDUR


__ADS_3

"Maaf ya tadi ada masalah sedikit," ujar Natasha saat tiba kembali di kantin.


Hilmi melihat ke arah Natasha dan Bryan yang berpegangan tangan, "Sya," panggil Hilmi.


"Ah iya aku lupa, kenalkan ini Hilmi dan Hilmi ini Bryan pacarku sekaligus bos di kantorku," ujar Natasha memperkenalkan Bryan kepada Hilmi.


Hilmi sedikit terkejut saat Natasha memperkenalkan Bryan kepadanya, "Kalian sudah pesan makanan?" tanya Natasha mencoba mengalihkan keterkejutan Hilmi sahabatnya.


"Sudah Sya, cuma belum sampai," jawab Mia.


Natasha mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang kosong, "Aku pesankan makanan untuk kamu dahulu," ucap Bryan.


Sepeninggal Bryan, Hilmi bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Natasha. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu Sya," ujar Hilmi pelan.


Natasha yang sedang membaca pesan dari Raka segera mengalihkan pandangannya, "Kamu mau tanya apa?" tanya Natasha.


Dia memasukkan ponsel miliknya terlebih dahulu, "Sejak kapan kamu berpacaran?" pertanyaan Hilmi membuat Natasha mengerutkan keningnya.


"Maaf Sya bukan aku ingin ikut campur tetapi, kenapa kamu tidak pernah bercerita?" sambung Hilmi yang merasa sedikit kecewa.


Natasha mengerti apa yang di rasakan Hilmi, "Bukan maksud aku menutupinya dari kamu tetapi, aku belum dapat waktu yang pas saja," ujar Natasha dan dia berjanji akan menceritakan semuanya nanti.


Tidak berselang lama Bryan datang dengan makanan di tangannya, Hilmi yang tidak enak duduk bersebelahan dengan Natasha pamit undur diri.


"Aku kembali ke ruangan dahulu ya, nanti temui aku untuk obat Pak Joni," pesan Hilmi sebelum benar-benar meninggalkan mereka semua yang sedang makan siang bersama.


"Pak Dokter tidak ikut makan siang Sya?" tanya Mia heran, karena saat datang bersama Natasha tadi wajah Hilmi terlihat lebih ceria sebelum mengetahui tentang hubungan kedua orang di hadapannya.


"Nanti saja aku bawakan dia makanan sekalian mengambil obat diruangannya," ucap Natasha.

__ADS_1


Wanita itu menggeser makanan yang di bawa Bryan ke hadapannya, "Terima kasih sayang," ucapnya manja.


Di tempat lain Hilmi masih memikirkan tentang Natasha, dia tidak menyangka jika selama ini rasa cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Hilmi tidak pernah menyesali pernah dengan wanita itu, jika bukan jodoh mau bilang apa.


"Sepertinya aku memang harus mundur Sya," ucap Hilmi sambil bersandar di bangku miliknya.


Bayang-bayang semasa sekolah terlintas dipikirannya, "Andai aku jujur padamu sejak lama Sya," sesal Hilmi.


Hilmi sudah menyukai Natasha saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas, rasa cinta yang tumbuh begitu saja di hati Hilmi pada awalnya hanya di anggap angin lalu olehnya. Hingga tanpa Hilmi sadari rasa cinta itu terus ada dan bertambah hingga saat ini, pria itu memejamkan kedua matanya berharap masih ada harapan untuknya mendapatkan Natasha.


Tidak lama pintu ruangan Hilmi di buka oleh Natasha, Hilmi yang sedang melamun terkejut saat tiba-tiba Natasha masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa tidak ketuk pintunya dahulu Sya?" tanya Hilmi yang membuat kening Natasha berkerut.


"Aku dari tadi sudah ketuk pintu loh, tapi kamu tidak jawab jadi ya aku masuk saja," ujar Natasha yang langsung memberikan makanan kepada Hilmi.


"Ini makan dahulu, aku tahu kamu pasti belum makan kan?" tanya Natasha sambil membuka kantung makanan yang di bawanya, dengan seksama Hilmi memperhatikan wajah Natasha yang selalu dirindukannya.


Natasha menengok saat samar-samar mendengar suara Hilmi berbicara kepadanya, "Kamu bilang apa Hilmi?" tanya Natasha penasaran.


"Tidak bilang apa-apa, memang aku bilang apa?" tanya Hilmi balik dengan gugup.


Natasha menghendikkan bahunya dan kembali melanjutkan menyiapkan makanan untuk Hilmi, "Ini makan dahulu," Natasha menggeser makanan yang sudah di siapkannya.


Hilmi dengan senang hati mengambil makanan itu dan mulai memakannya, di tengah-tengah makannya Hilmi menanyakan tentang hubungan Natasha dan Bryan.


"Sejak kapan kamu punya pacar Sya? Setahu aku kamu tidak pernah dekat dengan seorang pria selain aku," tanya Hilmi yang ingin tahu bagaimana pertemuan keduanya.


Natasha menarik napasnya dan mencoba menceritakan semuanya, "Kan kamu tahu sendiri kalau aku tidak pernah mau bekerja langsung di perusahaan Papah jadi aku mencoba melamar pekerjaan di perusahaan lain dan itu perusahaan Bryan," Natasha kembali mengenang saat pertama kali bertemu dengan sang bos yang dingin itu.

__ADS_1


"Berbulan-bulan aku bekerja di sana hingga saat itu Bryan memintaku untuk menemaninya makan siang bersama dengan keluarganya dan entah kenapa keluarganya menyuruhku untuk menikah dengan Bryan tetapi, aku tidak mau menikah cepat kan aku dan Bryan baru kenal," Natasha menjelaskan semuanya kepada Hilmi tanpa ada yang di tutupi.


Hilmi mendengarkan semua cerita Natasha, "Lalu kapan rencana kalian menikah?" tanya Hilmi.


"Mungkin dua atau tiga bulan lagi, itupun jika kami memang berjodoh," ucap Natasha.


Natasha merogoh tas miliknya mencari benda pipih yang dari tadi berdering, wanita itu segera mengangkat panggilannya setelah menemukan benda yang di cari.


"Maaf Hilmi, aku harus membawa Pak Joni pulang untuk beristirahat," pamit Natasha.


"Okeh, ini obat yang harus di minum Pak Joni dan bulan depan dia harus kembali ke sini lagi untuk mengecek kondisinya," pesan Hilmi sambil memberikan kertas resep obat untuk Joni.


"Terima kasih ya makanannya Sya," sambung Hilmi.


Awalnya dia sedikit berat menerima kenyataan jika Natasha sudah menemukan pria tambatan hatinya, apalagi Hilmi menyukai Natasha sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Bukan Hilmi tidak berani mengutarakan isi hatinya tetapi, semua yang di alami Natasha membuatnya harus mengurungkan niatnya.


"Sampai jumpa lagi ya Hilmi, jangan lupa cari perempuan untuk di jadikan pacar," goda Natasha sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Hilmi.


Hilmi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Natasha yang tidak pernah berubah, "Semoga kamu bahagia selalu Sya," ujar Hilmi saat pintu yang Natasha buka sudah tertutup rapat kembali.


Natasha berjalan menuju apotek yang berada di rumah sakit, tanpa menunggu lama obat yang dibutuhkan sudah ada pada Natasha.


"Susul mereka deh, baru langsung pulang," ucap Natasha sambil berjalan menuju kantin.


"Yuk kita pulang, kasian Pak Joni harus istirahat," ajak Natasha yang mendapat anggukan dari Bryan.


Selama perjalanan Natasha terus memikirkan tentang pesan yang di kirim Raka untuknya, Raka memberi kabar jika Sam akan menjual sebagian saham jatah miliknya. Bryan yang melihat wajah bingung Natasha ingin bertanya akan tetapi, niatnya di urungkan mengingat ada orang lain sedang bersama mereka.


Mobil yang di kendarai oleh Bryan tiba di depan rumah Mia, dengan sigap Bryan membantu Joni untuk turun dan menaruhnya di kursi roda.

__ADS_1


Natasha yang sedang bingung langsung ikut masuk ke dalam rumah dan segera pamit masuk ke dalam kamar miliknya, "Apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Natasha sambil menatap langit-langit kamarnya.


__ADS_2