CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
CACA DAN BYAN 1


__ADS_3

Bryan mengantarkan gadisnya terlebih dahulu setelah seharian ini mereka berada di luar, Raka yang mendapat giliran terakhir tidak memperdulikan karena dia tahu jika banyak pertanyaan yang ingin pria itu ketahui tentang masa lalu sang bos.


"Ada yang ingin saya tanyakan tapi saya harap kamu menjawab dengan jujur," ujar Bryan sambil tetap fokus menatap jalanan di depannya.


"Apa yang ingin Bapak ketahui tentang Ibu, jika memang saya tahu akan saya ceritakan." jawab Raka yang sudah bisa menebak apa yang ingin Bryan tanyakan padanya.


"Saya hanya sedikit penasaran dengan kebiasaannya, seperti yang kamu bilang tadi soal berbelanja ke mall ... Apa saja yang kamu tahu tentang kebiasaan Natasha?" tanya Bryan sambil terus fokus menatap jalan di depannya.


"Bagaimana kalau kita bercerita di salah satu cafe 24 jam di ujung jalan sana!" usul Raka yang ingin berbicara lebih santai sembari menyesap segelas kopi panas.


"Ide bagus, kamu tahu juga tentang cafe itu?" Bryan melihat Raka mengganggukkan kepalanya.


Dengan segera pria itu membelokkan mobilnya ke cafe yang di tuju, mereka turun dan memesan segelas kopi saat masuk kedalam.


"Mau di mulai darimana Pak?" tanya Raka setelah mendudukkan dirinya di salah satu kursi kosong.


"Apa yang kamu tahu tentang masa kecil Natasha? Karena aku seperti sudah lama mengenal dia ...." Bryan kembali teringat dengan pertemuan pertama yang membuat dia mengingat gadis masa lalunya .


"Setahu saya, Bu Natasha itu dari kecil hanya tinggal di rumah bersama bi Sumi ... Makanya setiap dia pergi dengan saya ketika dewasa tidak akan cukup waktu sebentar jika sudah berbelanja," Bryan mendengar cerita Raka dengan seksama.


Kopi pesanan mereka tiba, Raka membasahi bibirnya dengan kopi kesukaannya itu.


"Kamu sering ke sini?" tanya Bryan saat melihat pelayan yang mengantarkan minuman mereka menyapa pemuda di depannya dengan ramah.


"Tidak sering juga sih, kalau lagi suntuk dengan pekerjaan atau Bu Natasha mengajak saya pasti kesini." jelas Raka yang membuat rasa cemburu di hatinya sedikit berkobar.


"Tidak usah cemburu Pak, saya kan sudah bilang jika saya dan Bu Natasha tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas atasan dan bawahan," sambung Raka membuat hati Bryan sedikit bernafas lega.

__ADS_1


"Kenapa Natasha tidak pernah pergi dengan kedua orang tuanya? Bukankah bagus jika dia juga di kenal oleh kolega sang ayah?" tanya Bryan.


Pria itu ikut menyesap kopi panas milknya, kedua pandangan matanya sedang menunggu jawaban dari pemuda di depannya.


"Seperti yang Bapak tahu, kedua orang tua Bu Natasha tidak ingin jika anaknya terjadi sesuatu sebab dia sudah mengetahui banyak musuh di belakangnya." Raka sesekali mengecek ponsel miliknya berharap mendapatkan balasan dari Mia saat dirinya mengucapkan selamat tidur kepada gadis itu.


"Lalu apa sewaktu kecil Natasha pernah bermain di salah satu taman di kota?" rasa penasaran Bryan tentang gadis kecilnya dan Natasha sangatlah besar.


"Kalau tentang masa kecil Bu Natasha coba tanya bi Sumi, dia lebih kenal dekat karena dari bayi Bu Natasha di urus olehnya," jawab Raka.


Mereka melanjutkan membicarakan tentang masalah pekerjaan yang beberapa terakhir ini membuatnya sedikit pusing, entah dari mana beberapa perusahaan membatalkan kerjasama dengan perusahaan miliknya.


Tanpa terasa malam semakin larut, Bryan mengantarkan Raka kembali kerumahnya yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.


"Terima kasih atas traktiran hari Pak, dan selamat malam." Raka bergegas pergi meninggalkan Bryan yang juga langsung meninggalkan rumah pemuda itu.


"Apakah dia dan ...." pikiran Bryan kembali ke beberapa tahun silam.


"Taro di tempat biasa ya," ujar Bryan yang memberikan kunci mobil miliknya kepada satpam kepercayaannya.


Bryan masuk ke dalam rumah yang sudah sepi, kedua orang tuanya sudah pasti terlelap tidur. Inilah mengapa Bryan lebih sering menikmati dunia luar daripada di rumah, hanya karena permintaan sang mamah sehingga dirinya masih tetap tinggal di rumah besar.


Pria itu masuk kedalam kamar miliknya yang berukuran lumayan besar, tanpa mengganti baju dan membersihkan diri Bryan langsung tertidur pulas di atas kasur kesayangannya.


Dalam tidurnya Bryan bertemu dengan gadis kecil yang sedang di cari olehnya, dengan semangat Bryan mencoba mengejar gadis ciliknya hingga menuju kesebuah rumah. Pria itu terus masuk sampai ke dalam dan bertemu dengan sebuah pintu yang membuatnya penasaran, perlahan pintu di buka olehnya.


Nampak gadis cilik yang sedang di ikat rambutnya oleh seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik, sang anak terus saja tertawa apalagi saat menceritakan tentang pengalamannya hari kemarin.

__ADS_1


"Mah kemarin aku bertemu dengan kakak-kakak sedang berkelahi, terus aku usir aja mereka," ujar sang gadis dengan semangatnya bercerita kepada sang ibu.


"Loh kenapa kakaknya berkelahi? Pasti kakak itu nakal ya?" tanya sang ibu sambil terus menguncir rambut anak gadisnya.


Kedua tangan sang ibu terus meliuk-liuk, merapikan kembali kunciran sang anak agar terlihat lebih rapih dan cantik.


"Dia tidak nakal Mah, kakak yang lainnya nakal." Gadis itu langsung menatap tidak suka ketika sang ibu berkata jika anak laki-laki yang di belanya di sebut nakal.


"Iya kakak itu tidak nakal tapi kakak yang lain, coba sini cerita sama Mamah memang ada apa dengan kakak itu?" tanya sang ibu.


"Jadi tuh kakak-kakak yang nakal minta makanan kakak itu, tapi karena makanan punya kakak tidak cukup sehingga kakak nakal itu marah-marah." cerita gadis itu terhenti, tanpa Bryan sadari gadis kecil itu tersenyum ke arahnya.


"Bryan," panggilan di luar kamarnya membuat dia harus segera terbangun.


Pria itu langsung melihat jam yang berada di meja sebelah tempat tidurnya, tertera jika hari sudah beranjak siang. Dengan segera Bryan bergegas menuju pintunya setelah ketukan demi ketukan terdengar di sana.


"Ada apa Mom?" tanya Bryan ketika melihat sang ibu sudah tampil cantik dan elegan berada di depan kamar miliknya.


"Mom hanya ingin bilang kalau seminggu ini Mom dan Dad akan pergi keluar kota ada urusan mendadak yang mengharuskan kami pergi kesana," ujar sang ibu yang memberitahu agar anak lelakinya itu bisa menjaga diri selama dirinya tidak ada.


"Ya ampun Mom, aku pikir ada apa ... Aku pasti baik-baik saja, Mom dan Dad tidak perlu khawatir akan itu. Okeh!" jawabnya.


Bryan menutup kembali pintu kamarnya setelah sang ibu berlalu dari hadapannya, dia kembali tertidur di atas kasur kesayangannya sambil memikirkan apa arti mimpinya semalam. Apakah mereka akan bertemu atau mereka sebenarnya sudah bertemu? Pertanyaan demi pertanyaan mengisi pikirannya hingga tanpa terasa kedua mata Bryan kembali terpejam.


Hari libur dia gunakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, apalagi masalah kantornya yang datang silih berganti. Itu membuat waktu istirahatnya menjadi berkurang, dia juga ingin seluruh masalahnya cepat selesai dan membawa Natasha secepatnya ke pelaminan.


MASA LALU YANG HADIR KEMBALI BAGAI ANGIN SEGAR KETIKA DALAM KEKERINGAN, SEBAB TERKADANG MASA LALU YANG AMAT BERARTI MEMBUAT KITA MENJADI SEMANGAT UNTUK SAMBUT HARI ESOK

__ADS_1


Happy reading guys, hari ini aq up🤗🤗


Jangan lupa likenya, vote dan komennya. Terima kasih banyak sudah berkenan mampir, sampai jumpa di bab berikutnya. LOVE YOU ALL


__ADS_2