CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
PERJUANGAN RAIHAN


__ADS_3

Raihan adalah salah satu penerus perusahaan terbesar kedua di negaranya, namun dia tidak ingin selalu merepotkan sang ayah sehingga Raihan mencoba untuk mendirikan perusahaan miliknya sendiri. Rendy Wiratama adalah salah satu pemilik perusahaan terbesar kedua di negaranya, dia adalah ayah dari Raihan Wiratama.


"Kenapa kamu tidak mau meneruskan usaha Ayah Raihan?" tanya Rendy saat Raihan mengutarakan keinginannya.


"Maafkan aku Ayah, aku hanya ingin seperti Paman Sam yang juga bisa maju dengan usahanya sendiri tanpa bantuan siapapun. Aku kelak ingin memiliki istri yang menerima aku apa adanya bukan aku yang mereka kenal sebagai salah satu penerus perusahaan Ayah," ujar Raihan.


Rendy menghela nafasnya, dia tahu bagaimana sifat sang anak yang sedikit keras jika sudah menginginkan sesuatu.


Raihan meninggalkan ruangan sang ayah, "Mau sampai kapan kamu seperti itu Rai? Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu," teriak Rendy.


Raihan tidak memperdulikan ucapan sang ayah, dia bergegas pergi menemui sang paman.


Raihan pergi menuju kampus, dia ingin bercerita dengan sahabatnya Jonathan. Raihan mengendarai mobilnya dengan perasaan sedih hingga tidak sengaja hampir menabrak gadis berseragam SMA yang akan menyebrang jalan, "Aduh gimana ini," ucap Raihan panik.


Pemuda itu segera turun dari mobilnya dan memeriksa apa yang terjadi, "Kamu tidak apa-apa?" tanya Raihan saat melihat seorang gadis duduk sambil melihat lututnya yang terluka.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa," ucapnya.


Kedua mata Raihan tidak sengaja melihat lutut milik gadis di depannya, "Aku antar ke rumah sakit saja ya," ajak Raihan.


Saat Raihan ingin mengajak gadis itu untuk kerumah sakit, ponsel miliknya berdering.


"Iya ada apa?" tanya Raihan yang langsung mengangkat panggilan dari sahabatnya, terdengar helaan nafas dari Raihan yang terdengar.


"Iya aku segera kesana," sambung Raihan sambil memasukkan ponsel milknya kedalam saku celananya.


"Maaf saya tidak bisa mengantarkan kamu ke rumah sakit, kamu bisa pergi sendiri?" tanya Raihan sambil memberikan beberapa lembar uang untuk sang gadis berobat.


Tanpa banyak bicara, gadis itu pergi meninggalkan Raihan yang terus meminta maaf padanya.


Gadis itu pergi dengan menahan perih di bagian lututnya, "Memang dia pikir siapa? Memang sudah minta maaf tapi seharusnya dia bertanggung jawab bukan hanya memberi uang saja," gerutu Martha.

__ADS_1


Iya gadis yang hampir tertabrak Raihan bernama Martha, gadis yang akan menjadi istrinya kelak.


Martha adalah gadis manis yang harus berjuang demi menyambung kehidupannya, dia harus rela di tinggalkan oleh kedua orang tuanya yang meninggal ketika bencana alam melanda tempat tinggalnya.


"Kamu kenapa?" tanya Ina ketika gadis itu tiba di sekolahnya, Ina melihat Martha yang berjalan sedikit tertatih.


Ina melihat tubuh Martha dari ujung rambut hingga ujung sepatu, kedua mata Ina tidak sengaja melihat luka di lutut gadis itu. "Kenapa bisa sampai seperti ini Martha? Apa yang terjadi?" Ina begitu khawatir saat melihat luka di lutut sahabatnya.


"Tidak apa-apa, tadi terjatuh saat perjalanan ke sini." Martha mencoba menutupi apa yang terjadi dengannya, dia tidak ingin sang sahabat mengetahui jika dirinya sempat kecelakaan saat perjalanan menuju sekolah mereka.


Martha dan Ina bersekolah di salah satu sekolah swasta, Martha tergolong anak yang pintar sehingga dia mendapatkan beasiswa di sekolahnya.


"Kita obati lukamu dahulu ya Martha," ajak Ina.


Martha terdiam sejenak sebelum menyetujui ajakan sahabatnya, "Tidak perlu Ina, sebentar lagi jam pelajaran di mulai dan aku tidak ingin terlambat masuk," tolak Martha.


Dia merasa jika lukanya tidak terlalu sakit sehingga masih bisa untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya, dengan langkah cepat Martha meninggalkan Ina yang terus membujuknya. Ina berlari mengejar Martha yang sudah berjalan lebih dahulu, dan mumbujuk sang sahabat agar tidak merajuk kepadanya.


Ina sebenarnya merasa sedikit kasihan dengan Martha, karena dia harus bekerja dan juga bersekolah di waktu bersamaan. Akan tetapi, dia juga tidak dapat membantu apa-apa mengingat keuangan keluarganya yang juga pas-pasan.


"Tapi ingat minggu depan sudah mulai ujian jadi harus belajar sungguh-sungguh," Ina mencoba mengingatkan agar Martha juga memikirkan tentang masa depannya.


"Itu sudah pasti dong, aku tidak akan mengecewakan kedua orang tuaku nanti," ucap Martha sungguh-sungguh. Hingga tanpa terasa keduanya telah sampai di depan kelas, mereka bersiap untuk memulai menerima pelajaran hari ini.


Di tempat lain, Raihan bergegas menghampiri Jonathan yang sudah lama menunggu di ruang dosen.


"Permisi Pak," ucap Raihan ketika tiba di depan ruangan yang terbuka itu.


"Masuk kamu," perintah sang dosen yang tidak dapat di tolak.


Raihan memasuki ruangan dengan penuh pertanyaan di kepalanya, apalagi terlihat wajah Jonathan yang sedikit takut duduk di bangku sebelahnya.

__ADS_1


"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Raihan sopan saat merasa keadaan mulai sedikit hening.


"Kalian tahu apa yang membuat saya menyuruh untuk datang kesini?" pertanyaan sang dosen membuat keduanya menggelengkan kepalanya.


"Saya ingin meminta bantuan kalian untuk menggantikan saya seminar di salah satu sekolah swasta, saya tahu akan kemampuan kalian jadi saya percaya jika kalian berdua tidak akan menolaknya bukan?" sambung sang dosen yang membuat Raihan dan juga Jonathan terkejut.


"Apa bapak serius?" tanya Raihan yang terkejut, dia merasa tidak sepintar sahabatnya Jonathan.


"Saya tidak seperti Jonathan," sambung Raihan sambil menatap wajah sahabatnya untuk meminta penjelasan.


Tanpa menjawab pertanyaan Raihan, Jonathan menyetujui permintaan sang dosen dan mengajak Raihan untuk pergi menuju kantin.


"Kamu kenapa menyetujui permintaan Pak Ilham, aku kan tidak sepintar dirimu."


Raihan mengutarakan ketidak setujuannya, mengingat nilai yang di dapat selalu dibawah sahabatnya itu.


"Memangnya kenapa? Bukan itu bagus untuk menambah nilaimu?" tanya Jonathan, Raihan terdiam mendengar ucapan sahabatnya.


"Kalau kamu ingin menggapai cita-citamu buktikan kalau kamu mampu dan bisa, buktikan kepada ayahmu kalau kamu akan melakukan yang terbaik," sambung Jonathan.


Jonathan mengetahui semua cita-cita Raihan termasuk keinginannya untuk mendirikan sebuah perusahaan kelak, Raihan tidak ingin selalu ada di balik bayang-bayang sang ayah.


"Tapi kamu harus membantuku ya," pinta Raihan setelah bergulat dengan pikirannya.


"Aku akan membantumu sampai kapanpun, jadi jangan pernah bosan ataupun sungkan meminta bantuanku," ujar Jonathan.


Akhirnya mereka berdua bergegas meninggalkan kampus untuk menuju sekolah yang di tunjuk oleh sang dosen, "Berapa hari kita tugas di sana?" tanya Raihan saat perjalanan menuju salah satu sekolah swasta di negaranya.


"Tergantung berapa lama urusan kita selesai, ya paling lama dua sampai tiga hari. Memang kenapa?" tanya Jonathan sambil terus mengendarai mobilnya.


"Ahhh, perjuangan sekali demi mencapai cita-cita yang di inginkan," keluh Raihan sambil menyandarkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2