
Acara makan malam telah selesai, Bryan mengantarkan Natasha pulang ke rumahnya. Selama perjalanan Bryan selalu menanyakan tentang kesiapan gadis di sebelahnya, dia sudah tidak sabar untuk menjadikan Natasha sebagai pelabuhan terakhirnya kelak.
"Kamu yakin tidak ingin mengadakan pesta?" Bryan kembali memastikan jika sang kekasih tidak merubah pikirannya.
Natasha menatap wajah Bryan, "Memang kamu keberatan jika hanya acara pemberkatan saja?" tanya Natasha.
Bryan yang sedang fokus mengemudikan mobilnya sesekali menatap gadis cantik nan imut di sebelah kirinya, dia bukan keberatan hanya saja biasanya wanita akan menginginkan suatu pesta saat acara pernikahannya nanti tapi tidak dengan Natasha. Gadis itu berbeda, dengan segala pemikiran yang di luar akal sehat bagaimana tidak. Dia dapat merubah keputusannya sesaat, namun setiap keputusan yang di ambil selalu terbaik.
Di tempat lain, Raka yang sedang membutuhkan tanda tangan Natasha datang kerumahnya sang bos. Sebab sebelum Natasha pergi tadi, Raka melupakan tugasnya.
Terdengar ketukan pintu di luar, Mia yang sedang memasak di dapur bergegas keluar untuk melihat. Saat gadis itu membukakan pintu, dengan terkejut Mia langsung menutupnya kembali.
Detak jantung Mia menjadi bergerak lebih cepat, terlebih saat melihat pria yang sebenarnya sudah lama dirindukannya. Raka sedikit terkejut saat pintu yang baru saja di buka tertutup kembali, pria itu kembali mengetuk pintu di depannya hingga menampilkan sosok gadis yang dahulu selalu mengisi pikirannya.
"Selamat malam," ucap Raka saat pintu di depannya kembali terbuka.
Raka menelan ludahnya susah payah, sebab gadis yang selama ini ingin dihilangkan dari ingatannya kembali hadir.
"Ma - malam," jawab Mia gugup.
Ini adalah pertama kalinya mereka kembali bertegur sapa setelah hubungan yang mereka jalani harus kandas akibat kesalahpahaman, Mia hanya bisa menundukkan kepalanya saat Raka terus menatap dirinya.
"Maaf Bu Natasha ada?" tanya Raka saat merasa kesunyian yang terjadi terlebih gadis di depannya tidak mengajak untuk duduk.
"Eh iya maaf, silakan masuk." Mia tersadar akan lamunannya dan dia segera menyuruh Raka untuk menunggu sang sahabat di ruang tamu.
"Sebentar lagi sampai kok," sambung Mia yang datang dengan segelas minuman di tangannya.
Dia pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, Raka hanya memperhatikan kepergian Mia dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
Mia yang sedikit haus kembali keluar dari kamar untuk mengambil minum terlebih dahulu, saat melintasi ruang tamu dia masih melihat Raka yang tetap setia menunggu kepulangan Natasha.
__ADS_1
"Masih belum pulang ya?" tanya Mia yang tiba-tiba datang menghampiri Raka.
Raka yang sedang bermain games di ponselnya melirik saat mendengar suara Mia, dia langsung mengakhiri permainannya.
"Tadi katanya sih sudah hampir sampai, ah iya kamu apa kabar?" ujar Raka mulai memberanikan diri untuk menyapa gadis di depannya.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja ... Kamu sendiri gimana? Lama ya tidak jumpa," jawab Mia yang sebenarnya sedang merasakan debaran di hatinya.
Bagaimana tidak, walaupun sudah lama hubungan yang terjalin itu harus kandas namun di hati Mia masih terukir jelas nama sang kekasih. Begitu pun dengan Raka, dia masih sangat menyimpan dengan baik posisi Mia di hatinya. Hanya karena ego membuat mereka harus menahan perih hingga bertahun lamanya, tidak ada yang mau menjelaskan tentang permasalahan di hubungan mereka.
Raka yang ingin kembali bertanya tentang masalah hubungan mereka kembali mengurungkan niatnya saat mendengar suara klakson mobil milik Bryan, dengan segera Mia berjalan membukakan pintu serta pamit kepada Natasha untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sudah lama Ka?" tanya Natasha yang baru datang dan langsung mendudukan dirinya di sofa kosong.
Bryan yang datang bersama dengan Natasha juga ikut mendudukan dirinya di sebelah sang kekasih, dengan santainya pria itu mengambil berkas yang sudah berada di atas meja.
"Kamu hanya butuh tanda tangan saja kan?" sambung Bryan yang sambil melihat-lihat berkas di tangannya.
Bryan tersenyum saat teringat tentang informasi yang dia cari tentang Raka, dari informasi yang di dapat Bryan juga tahu jika Raka pernah menjalin hubungan dengan sahabat sang kekasih.
"Ini sudah semua, ada lagi yang bisa di bantu Raka?" tanya Natasha saat selesai menandatanganinya seluruh berkas yang di bawa Raka.
"Mia kemana ya?" tanya Bryan tiba-tiba membuat Natasha mengerutkan keningnya, sebab tidak biasanya pria itu mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Ada apa kamu mencari Mia?" selidik Natasha.
Bryan tertawa saat melihat wajah cemburu Natasha, dia sudah bisa menebak apa yang akan di katakan sang kekasih.
"Tidak sayang, aku pikir Raka datang ke sini juga ingin bertemu dengan seseorang," ujar Bryan yang membuat Raka tersedak saat meminum minuman miliknya.
"Uhuk, uhuk." Raka menepuk pelan dadanya yang terasa sesak akibat tersedak minumannya.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja Raka," Natasha memberikan sekotak tissue kepada Raka.
Raka sedikit bingung saat mendengar perkataan Bryan, dia sudah mengira jika pria di hadapannya itu mengetahui hubungan dirinya dengan Mia.
"Sayang kamu tidak mau memberikan minuman kepadaku kah?" tanya Bryan dengan nada sedih hingga membuat Natasha terbahak-bahak.
"Ah iya aku sampai lupa kalau kamu juga tamu di sini," ucapnya sambil mencoba menahan tawa yang masih terdengar walau tidak terlalu keras.
Natasha berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum sang kekasih, dengan santainya Bryan kembali buka suara perihal hubungan Mia dengan Raka.
"Saya sudah tahu semuanya, lalu sekarang saat bertemu kembali apa masih tersimpan perasaan itu?" pertanyaan Bryan membuat Raka terdiam membisu sebab dia sendiri belum bisa menyakini hatinya saat ini.
"Saya masih belum mengerti tentang perasaan ini Pak, tapi ..." Raka sedikit bingung, jujur di dalam hati terdalamnya masih ada rasa yang pernah dia berikan kepada gadis itu.
"Jika masih tersimpan rasa itu maka kejarlah, yakinkan dia jika rasa yang dulu pernah ada masih tersimpan rapih di sini." Bryan menunjuk dimana hatinya berada.
Dia hanya ingin sedikit membantu asisten sang kekasih, apalagi setelah mengetahui hubungan yang terjalin kedua dan penyebab perpisahan keduanya pun dia tahu. Oleh sebab itu Bryan ingin membantu kesalahpahaman yang terjadi dapat baik sebagaimana mestinya, dan dapat melihat kedua orang terdekat sang kekasih juga ikut merasakan bahagia.
"Terima kasih sarannya Pak, nanti saya akan pikirkan lagi," ucapan Raka terhenti saat melihat Natasha yang sedang berjalan ke arah mereka.
Setelah di rasa cukup, Raka pamit undur diri. Dia akan melanjutkan beberapa tugas yang belum di selesaikan, Natasha mengantarkan asistennya sampai depan rumah.
"Kalian tadi bahas apa kok serius sekali?" tanya Natasha yang kembali duduk di sebelah Bryan.
"Tidak ada yang penting, hanya menanyakan beberapa masalah di kantormu." Bryan sedikit berbohong karena jika dia berkata yang sejujurnya tidak menutup kemungkinan akan terjadi pemaksaan di antara Raka dan Mia. Mereka akan di paksa untuk kembali bersama, sebab beberapa hari lalu Natasha mengutarakan keinginannya agar Raka dan Mia dapat menjalin suatu hubungan.
SAAT RASA RINDU DATANG, AKU SELALU BERHARAP KAMU HADIR
**NAMUN** SAAT RASA KECEWA DATANG, AKU SELALU BERHARAP KAMU PERGI
Assalamualaikum, halo semuanya. Aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak up, banyak urusan yang terjadi di tahun lalu. Ah iya aku mau mengucapkan selamat tahun baru, semoga apa yang kalian semua cita-citakan dapat terwujud, selalu di beri kesehatan dan rezeki yang berlimpah. Minta doanya juga ya supaya aku sehat terus dan bisa bikin cerita sesuai keinginan kalian, jangan lupa like, komen, rate dan vote nya ya. Terima kasih masih setia membaca ceritaku🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1