
Jonathan duduk termenung, dia mengingat bagaimana dirinya membantu Raihan untuk bisa mendapatkan cinta Martha. Perjuangan yang tidak akan pernah bisa di lupakan begitu saja, apa lagi setelah pertemuannya dengan Rino dan juga Wendi.
"Sungguh aku sangat merindukanmu, merindukan sikap konyolmu demi bisa bersama dengan gadis pujaanmu." Jonathan menatap album photo di mana Raihan, Wendi dan juga Rino berphoto bersama, tawa dan canda selalu menghiasi wajah mereka.
"Kamu yakin Rai suka dengan gadis yang seperti itu?" tanya Rino dengan sedikit mengejek.
"Kenapa kalau aku suka dengan gadis seperti itu? Dia gadis yang baik dan juga mandiri, terlebih dia tidak mudah di dekati oleh pria jadi tidak salahkan jika aku tertarik kepada?" Raihan sedikit merajuk karena terus di ejek oleh ketiga sahabatnya.
Jonathan hanya tertawa menyaksikan perdebatan antara kedua sahabatnya, "Sudah-sudah biarkan saja jika Raihan menyukai gadis itu, bukankah kamu juga sedang menyukai gadis seperti itu?" sindir Wendi sambil meminum minuman miliknya.
Rino yang mendengar ucapan Wendi segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, "Berisik kamu," ujar Rino yang langsung mendapatkan gelak tawa dari Raihan dan juga Jonathan.
Wendi menepis tangan Rino dengan kasar, "Apa sih Rin. Kan memang benar" ucapnya dengan berpura-pura marah.
"Tapi jangan buka di sini juga Wen," Rino menyesap kopi miliknya yang sudah sedikit dingin.
"Iya, bagaimana kuliah kalian? Semenjak lulus sekolah kita jarang bertemu," tanya Jonathan.
"Baik dan sangat baik, andai kita satu kampus juga pasti seru tuh," jawab Wendi sambil membayangkan bagaimana mereka saat satu sekolah dulu.
Tidak ada yang bisa menyaingi pesona ke empat pemuda itu, banyak para gadis yang ingin menjadi kekasih salah satu dari mereka.
"Tidak usah ingat masa lalu Wen, sekarang juga masih sama bukan?" ujar Rino sambil menunjuk para gadis yang sedang menatap ke arah mereka berempat.
Gelak tawa mengisi meja mereka hingga tanpa di sadari hari beranjak malam, satu persatu mereka meninggalkan tempatnya dan berpamitan untuk pulang.
"Rai, aku pulang duluan ya. Besok jangan lupa tugas yang tadi kita kerjakan di bawa untuk di serahkan ke dosen," Jonathan mengingatkan Raihan sebelum dirinya pergi.
Raihan memasuki mobilnya dan mulai meninggalkan parkiran kafe dimana dirinya berada tadi, namun di saat perjalanan pulang Raihan tidak sengaja bertemu dengan Martha yang sedang di ganggu oleh beberapa preman.
Raihan berjalan keluar dari mobilnya dan mulai menyelamatkan gadis itu, "Hey mau apa kalian?" teriak Raihan yang membuat seluruh preman menatap ke arahnya.
"Berani sekali kamu ganggu mangsa kami," ejek salah satu preman sambil berjalan ke arah Raihan.
Tanpa banyak bicara Raihan mulai melawan satu persatu preman yang berada di sana, hingga membuat semua preman berlari meninggalkan dirinya dan Martha.
"Terima kasih," ucap Martha dengan gugup.
__ADS_1
Gadis itu baru pertama kali mendapatkan perlakuan seperti ini, sehingga membuatnya sedikit takut. "Tidak perlu takut, mereka sudah pergi." Raihan mencoba menenangkan Martha agar tidam takut padanya.
Raihan mengajak Martha untuk ikut menuju mobilnya, "Minum dahulu." Raihan menyerahkan sebotol air mineral yang dia ambil di dalam mobil.
"Kenapa kamu bisa di ganggu para preman tadi?" tanya Raihan saat melihat wajah Martha sudah sedikit tenang.
Martha menutup botol air mineral yang di pegangnya, "Tadi aku habis dari rumah teman dan tidak tahu jika di sini ada preman nakal." Martha mengingat kembali saat dirinya bertemu dengan para preman tadi.
"Disini memang rawan daerahnya, kalau begitu aku antar kamu pulang saja." Raihan menawarkan dirinya untuk mengantarkan Martha pulang kerumahnya.
Martha mencoba menolak bantuan Raihan, "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," tolaknya sambil berjalan meninggalkan Raihan yang sedang menatapnya.
Martha menghentikan langkahnya dan itu membuat Raihan sedikit tersenyum, "Aku lupa bilang, terima kasih atas bantuannya," ujar Martha yang kembali berjalan semakin menjauh dari pandangan Raihan.
"Tunggu," panggil Raihan. Martha membalikkan badannya, "Ada apa lagi?" tanyanya sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.
"Ayo aku antar, takut nanti preman itu kembali lagi," ujar Raihan yang sedikit menakuti Martha.
Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum menyetujui ajakan Raihan, "Baiklah aku ikut," jawabnya setelah berperang dengan pikiran dan hatinya.
Raihan mengajak Martha untuk masuk ke dalam mobilnya, banyak percakapan yang terjadi di sana. Raihan menjadi tahu seperti apa Martha itu, dia sedikit mengenal tentang kesukaan Martha.
Pemuda itu masih terus terbayang wajah Martha saat dirinya mengantarkan untuk pulang ke rumahnya, "Kenapa aku jadi kepikiran dia?" sambung Raihan saat mulai menjauh dari rumah Martha.
Semenjak saat itu Raihan dan Martha menjadi semakin dekat hingga, Raihan memberanikan diri untuk menjadikan gadis itu kekasihnya. Raihan satu persatu mulai mewujudkan semua mimpinya, dukungan dari sang kekasih membuatnya menjadi lebih bersemangat.
"Wih yang punya pacar sibuk terus," ujar Jonathan saat tidak sengaja bertemu dengan Raihan di kantin.
Semenjak sang sahabat memutuskan untuk menjadikan gadis itu kekasihnya, sikap Raihan perlahan berubah menjadi lebih baik.
"Tidak juga, aku hanya mencoba menjadi yang terbaik untuk saat ini Jo," jawab Raihan sambil mendudukan dirinya di salah satu bangku yang kosong di kantin.
"Tapi aku bahagia melihat perubahanmu saat ini," ucap Jonathan yang merasa bangga saat melihat sahabat terbaiknya bisa menyusul ketinggalan kemarin.
"Do'akan saja yang terbaik Jo," pinta Raihan sambil meminum minuman miliknya.
"Aku akan selalu mendukungmu Rai, dan aku berharap jika dia adalah jodoh terbaik yang di kirim tuhan untuk sahabatku ini," ucap Jonathan yang membuat Raihan menatapnya dengan perasaan haru.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Jo, kamu adalah sahabat terbaikku yang selalu mendukungku," Raihan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Jonathan untuk memeluk tubuh sang sahabat.
"Semoga nanti kita bisa semakin dekat dengan menjodohkan anak kita kelak ya Jo," sambung Raihan yang memiliki harapan dapat mempererat persahabatan mereka lewat anak-anak nanti.
"Sepertinya bakal ada yang gerak cepat nih," ledek Jonathan yang membuat Raihan melepaskan pelukannya.
Pemuda itu memukul lengan sang sahabat hingga terdengar keluhan dari mulutnya, "Sakit Rai ... Tapi aku setuju dengan idemu untuk menjodohkan anak-anak kita kelak," Jonathan ikut membayangkan jika dirinya memiliki seorang anak dan menjodohkannya dengan anak dari pemuda di depannya.
Jonathan yang sedang duduk di ruang kerjanya sedikit terkejut saat mendengar ketukan di pintunya.
"Masuk," perintah Jonathan. Terlihat sang istri yang masuk membawakan segelas jahe hangat untuk sang suami, "Ada apa?" tanya Mita saat melihat wajah sang suami.
"Aku hanya teringat janjiku bersama Raihan dahulu," ucap Jonathan sambil berjalan menghampiri Mita yang mendudukan dirinya di sofa.
"Minum dahulu," ucap Mita sambil memberin secangkir jahe hangat untuk sang suami.
Mita tidak ingin jika Jonathan sampai sakit, apalagi banyak pekerjaan yang selalu menyita waktunya.
"Terima kasih sayang," ucap Jonathan yang mengambil alih cangkir di tangan Mita.
Terlihat wajah malu di muka Mita, dia sangat tahu bagaimana Mita akan selalu tersenyum dan terlihat menggemaskan jika sudah digodanya.
"Tenang saja Tuhan sudah memberikan jalan, buktinya kita sudah bertemu dengan anak perempuan Raihan," ucap Mita sambil memeluk tubuh sang suami.
Entah perasaan apa yang di alaminya, menikah sudah berpuluh tahun tidak menyurutkan rasa cinta di antara keduanya.
Cinta terkadang hanya butuh pengertian
Cinta terkadang hanya butuh perhatian
Cinta terkadang hanya butuh kejujuran
Cinta datang karena perasaan nyaman
Cinta datang karena perasaan aman
Cinta juga datang karena terbiasa bersama
__ADS_1
Maaf lama updatenya karena kesibukan dunia nyata yang ternyata lebih melelahkan, jangan pernah bosen buat mampir di sini dan jangan lupa untuk tekan like nya, vote, komen dan rate nya ya. Miss you all