CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
TELAH TIBA


__ADS_3

Raka mulai membantu Bryan menyiapkan beberapa keperluan untuk acara pernikahannya yang tinggal menghitung hari, mereka dengan cekatan mulai mempersiapkan gaun serta tempat acara akan berlangsung.


Natasha yang sedang memilih gaun di buat pusing oleh sang calon suami, sebab ada saja permintaan dari pria itu.


"Mbak saya mau gaun untuk calon istri saya seperti ini," tunjuk Bryan ke photo yang dia bawa.


Pelayan yang melayani mereka mencatat setiap permintaan pelanggan dengan detail, "Ada lagi Pak?" tanyanya sambil memperlihatkan beberapa contoh model lain yang berada di katalog.


"Sudah Mbak ... Sepertinya sudah cukup, saya harap butik ini tidak mengecewakan," ujar Bryan sambil berlalu menghampiri Natasha yang sedang mencoba beberapa gaun di sana.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Natasha saat melihat wajah Bryan yang berubah lebih ceria, tidak seperti saat berbicara dengan pelayan di butik tadi.


"Cantik!" satu kata yang langsung keluar dari mulut Bryan saat melihat gadis di hadapannya menggunakan gaun berwarna biru muda.


Tubuh Natasha terlihat sangat cocok dengan gaun yang di gunakan, itu membuat Bryan tidak dapat mengedipkan kedua matanya.


"Apa sih ...." ungkap Natasha malu, kedua pipinya merah merona saat mendengar pujian dari sang calon suami.


Hari semakin larut, Bryan dan Natasha memutuskan untuk makan malam di luar terlebih dahulu.


"Bagaimana persiapannya?" tanya Bryan kepada seseorang yang juga datang ketempat dimana mereka makan malam.


"Sudah sembilan puluh persen Pak," jawab Raka yang juga memberikan beberapa photo sebagai bukti jika persiapan acara mereka sudah hampir selesai.


"Apa ada yang kurang?" Bryan sambil melihat beberapa lembar photo yang Raka bawa, terlihat rasa puas tercipta di wajah tampan Bryan.


Dia mempersiapkan semuanya dengan sangat matang, terlebih dengan statusnya seorang anak kolongmerat sehingga tidak menyulitkan dirinya untuk mendapatkan hasil yang sesuai.


"Tidak ada yang kurang Pak, hanya saja ada beberapa makanan tambahan selebihnya semua sudah aman terkendali," jawab Raka dengan penuh percaya diri.


"Baiklah, baiklah ... Semua saya serahkan kepada kamu, saya harap semua berjalan sesuai rencana," pintanya.


Bryan mengajak Raka untuk ikut menyantap makanan yang sudah tersedia di hadapannya, namun semua itu di tolak olehnya.

__ADS_1


"Tidak Pak, terima kasih ... Saya mau melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum selesai," ucap Raka yang langsung pamit untuk kembali melanjutkan tugasnya


Hari berganti hari, tanpa terasa hari yang di tunggu tiba. Dimana sepasang kekasih mengikat janji suci di hadapan sang pencipta, ucapan serta doa untuk sang mempelai terdengar mulai dari awal acara hingga puncak acara.


Wajah Bryan yang semula tegang bercampur gugup berubah dalam waktu singkat, rasa haru dan bahagia menjadi satu.


"Aku bahagia sekarang sudah bisa memiliki kamu sepenuhnya, aku berharap semua abadi sampai maut yang memisahkan," ucap Bryan sambil mencium kedua tangan Natasha.


Airmata yang semula Natasha tahan, seketika turun. Dengan segera gadis itu mencoba untuk menghapusnya, Bryan yang melihat pun ikut memberikan jarinya untuk menghilangkan airmata sang istri.


"Aku juga bahagia, andai mereka ada di sini mungkin ...." Natasha seketika langsung tersedu-sedu mengingat kedua orang tuanya yang akan bahagia saat melihat dirinya menikah dengan lelaki pujaannya.


"Aku yakin mereka sudah bahagia dan melepasmu dengan ikhlas, semoga aku selalu bisa membahagiakan kamu sampai kapanpun itu," janji Bryan sambil memeluk tubuh Natasha dengan erat.


Hari yang bahagia dengan di penuhi rasa haru, namun tidak untuk Sam. Pria paruh baya itu masih saja mencari cara agar semua rencananya berjalan dengan baik termasuk saat ini. Dia menyelinap masuk kedalam salah satu bagian tamu undangan, dan di sanalah pria itu memulai aksi kecilnya.


"Kita akan lihat sebahagia apa kamu keponakan cantikku," ujar Sam yang sudah mengetahui jika Natasha adalah anak dari Raihan.


Di dalam surat itu tertulis, KAMU BOLEH MENYEMBUNYIKAN SEMUANYA DARIKU TAPI KAMU TIDAK AKAN SANGGUP BERLARI JAUH DARI KEJARANKU. Setelah menaruh surat itu Sam langsung bergegas meninggalkan tempat acara, sebab jika dia masih terus berada di sana bukan tidak mungkin dirinya akan di ketahui keberadaannya oleh anak buah Jonathan maupun anak buah Bryan yang sedang berjaga.


"Apa kamu lelah?" tanya Bryan saat melihat Natasha yang sedang memijat kaki kanannya.


"Tidak terlalu, hanya aku tidak terbiasa menggunakan heels setinggi ini," kekeh Natasha yang langsung mendapatkan cubitan di kedua pipinya.


"Kamu tuh ya, ada saja yang membuat aku ingin segera mengurungmu di dalam kamar," ucap Bryan.


Natasha yang mendengar langsung terkejut dengan ucapan sang suami, "Ish apa sih masih banyak tamu juga." Natasha memukul lengan Bryan sambil menunjuk para tamu yang masih lalu lalang di hadapannya.


Satu persatu tamu yang datang mulai pamit undur diri, tanpa terasa tempat yang semula ramai perlahan sepi. Bryan mengajak Natasha untuk beristirahat di kamar miliknya, namun betapa terkejut saat Natasha yang sedang membersihkan sisa makeup di wajahnya menemukan kertas di atas mejanya.


Gadis itu mulai membuka surat itu perlahan dan membacanya dalam hati, Bryan yang sedang berada di toilet langsung bergegas keluar saat mendengar sang istri berteriak.


"Ada apa?" tanyanya saat melihat wajah panik Natasha.

__ADS_1


Dengan sedikit bergetar, Natasha memberikan surat yang dia temukan kepada Bryan.


"Kurang ajar, beraninya dia masuk kedalam kamarku!!!" kesal Bryan sambil mencengkram kertas yang di pegangnya.


Bryan bergegas keluar kamar dengan tergesa-gesa, dia memanggil seluruh anak buah yang berada di rumahnya.


"Siapa yang mengizinkan dia masuk kedalam kamar saya?" teriakan Bryan membuat Jonathan ikut datang.


"Ada apa Bryan?" tanyanya.


Jonathan tahu jika ada sesuatu yang terjadi dengan sang anak, sebab dia tidak akan semarah itu jika tidak ada hal yang mengganggunya.


"Dad tahu ... Dia masuk kedalam kamarku dan menaruh ini!" Bryan memberikan kertas yang di temukan oleh Natasha kepada sang ayah.


Dengan perlahan Jonathan membuka dan membaca surat itu dengan seksama, rautnya langsung berubah seketika.


"Habisi dia tanpa ampun," perintah Jonathan sambil berlalu pergi meninggalkan semua orang yang sebenarnya masih bingung dengan maksud sang bos.


"Saya mau besok sudah ada berita tentang perusahaan miliknya bangkrut seketika," ujar Bryan.


Salah satu anak buah Bryan mengerti akan perintah sang bos segera pamit untuk mengatur rencana, "Tidak semudah itu kamu hancurkan semuanya Sam." geram Bryan.


Pria itu kembali menuju kamarnya untuk menenangkan sang istri yang terlihat syok saat membaca surat itu, benar saja Natasha hanya menatap pantulan dirinya di cermin.


"Tidak usah kamu takut dan pikirkan karena ada aku di sini," ucap Bryan sambil memeluk tubuh Natasha dari belakang.


Pria itu juga memberikan beberapa ciuman di puncak kepala gadis yang beberapa jam lalu telah sah menjadi istrinya, dengan segera rasa was-was Natasha menghilang dan tergantikan dengan rasa aman serta nyaman saat berada dekat Bryan.


JODOH, MAUT, REZEKI DAN TAKDIR HANYA TUHAN YANG TAHU. KITA SEBAGAI MANUSIA HANYA BISA MENERIMA DENGAN IKHLAS DAN BERHARAP JIKA ITU SEMUA ADALAH YANG TERBAIK UNTUK KITA


Aku kembali, setelah sekian lama menghilang hari ini aku mulai memberanikan diri untuk melanjutkan cerita ini. Ah iya maaf untuk bab ini aku kasih sedikit dulu berharap semoga mood dan urusan cepat selesai, dan juga maaf jika cerita ini tidak seperti yang kalian inginkan. Kemungkinan besar hanya beberapa bab lagi akan menemukan endingnya, walaupun terkesan terburu-buru dan tidak konsisten.


Terima kasih banyak sudah mau baca dan dukung cerita ini, love you so much

__ADS_1


__ADS_2