CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
RAIHAN DAN MARTHA II


__ADS_3

"Jadi aku harus minta maaf dengannya lagi?" tanya Raihan saat Jonathan kembali mendudukan dirinya.


"Haruslah, siapa tahu bisa jadi pacar nantinya," goda Jonathan.


Pemuda itu sangat mengetahui sifat sahabatnya, Raihan bukanlah tipe pemuda yang gampang menyatakan cinta. Pengalamannya menjadikan pelajaran untuknya kedepan, dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali.


Kejadian di mana sang kekasih yang harus pergi meninggalkan dirinya seorang diri, Raihan yang sedang berduka menjadi tambah terluka saat mengetahui kenyataan pahit di depannya.


"Sudah jangan kebanyakan melamun, lebih baik kamu temui dia dan minta maaflah yang benar," sela Jonathan saat melihat wajah sendu Raihan.


"Iya nanti akan aku usahakan, semoga saja dia mau memaafkan aku," jawab Raihan.


Mereka berdua bergegas meninggalkan kantin menuju tempat di mana mereka mengadakan seminar tadi, karena acara itu belum sepenuhnya selesai. Raihan mulai terbiasa dengan tugasnya bersama Jonathan, itu membuat sahabatnya sedikit merasa lega.


"Bagaimana? Kamu jadi kan?" tanya Jonathan saat merapikan barang-barang yang habis di pergunakan saat acara tadi.


"Bagaimana apa nya?" Raihan sedikit bingung dengan pertanyaan Jonathan.


"Jangan bilang kamu lupa Rai?" Jonathan menaikkan sebelah abisnya dan menatap wajang sang sahabat.


Raihan yang mendapatkan tatapan tajam dari Jonathan hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, "Iya aku lupa."


Jonathan menggelengkan kepalanya, "Mau sampai kapan kamu seperti ini?" pertanyaan Jonathan membuat Raihan diam seribu bahasa sebab dia tahu maksud dari sang sahabat.


Raihan berjalan meninggalkan Jonathan yang masih sibuk membereskan peralatan miliknya, "Akhirnya selesai juga. Ayo pulang," ajak Jonathan.


Pemuda itu melihat sekitar mencari keberadaan Raihan, "Kemana ini anak? Pergi tidak bilang-bilang," dengus Jonathan sambil berjalan keluar ruangan.


Jonathan memperhatikan setiap ruangan yang di lewatinya, dia mencari keberadaan Raihan mungkin berada di salah satu ruangan kelas yang dia lewati.


"Nah itu dia," ucapnya saat melihat Raihan yang sedang berbicara dengan seorang gadis di depannya.


"Aku mau minta maaf soal kejadian tadi pagi, untuk menebus semuanya ayo aku antar kamu ke rumah sakit sekarang," ujar Raihan.


Martha awalnya sedikit terkejut saat melihat pemuda yang menabraknya tadi pagi, "Aku sudah tidak apa-apa jadi tidak perlu pergi ke dokter," Martha menolak ajakan Raihan.

__ADS_1


"Astaga kamu aku cariin, kalau mau pergi bilang dong," ujar Jonathan yang tiba-tiba datang di antara Raihan dan juga Martha.


Raihan menengok ke arah di mana Jonathan berada, "Maaf ...," ucapnya.


Hening yang tercipta hingga Jonathan memulai percakapan antar mereka bertiga, "Boleh tahu siapa namamu?" tanya Jonathan yang membuat Raihan melihat ke arahnya.


"Buat apa tahu namaku?" Martha menjawab dengan sedikit ketus karena dia tidak ingin asal berbicara dengan orang asing apalagi melihat kedua pemuda di depannya.


"Siapa tahu kita bisa berteman," ujar Jonathan yang kembali berbicara dengan Martha.


Ina yang baru selesai meminjam buku di perpustakaan datang menghampiri mereka bertiga, gadis itu menatap kedua mahasiswa di depannya.


"Mereka siapa?" bisik Ina karena tidak mengengenal pemuda di depannya.


"Dia yang menabrak aku tadi pagi dan yang satu temannya mungkin," ucap Martha sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Martha, tunggu dong." Ina berlari mengejar Martha yang berjalan lebih dahulu.


Ina sedikit berlari untuk mengejar Martha yang berjalan dengan cepat, Raihan dan Jonathan hanya bisa menatap kepergian Martha.


"Kamu kenapa Martha?" tanya Ina saat keduanya berada di halte depan sekolah menunggu bus yang akan mengantarkan mereka menuju rumah masing-masing.


"Tidak apa-apa," jawab Martha.


Kedua mata Martha memandang lurus kedepan, dia teringat akan kedua orang tuanya hingga tanpa di sadari bus yang sedang di tunggu tiba.


Ina berjalan lebih dahulu ke dalam bus, namun langkah kedua kakinya terhenti saat merasakan jika sang sahabat tidak berada di belakangnya.


"Martha," panggilan Ina yang langsung membuyarkan lamunan Martha.


"Iya," jawabnya sambil berlari menyusul sang sahabat yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam bus.


"Kakak mahasiswa tadi ngapain?" tanya Ina saat Martha berada di sebelahnya.


Perjalanan yang memakan waktu itu mereka isi dengan obrolan ringan, apalagi Ina sangat penasaran dengan kejadian saat di sekolah tadi.

__ADS_1


"Kan sudah aku bilang dia yang menabrakku tadi pagi dan soal mereka kenapa ada di sekolah mana ku tahu," ujar Martha tidak acuh.


Dia tidak ingin memikirkan pemuda tadi, toh luka di lutut tidaklah terlalu serius sehingga Martha tidak membutuhkan pertolongannya.


"Okelah, ah iya kamu hari minggu pergi bekerja tidak?" tanya Ina yang ingin mengajak sahabatnya untuk mengerjakan tugas bersama.


"Bekerja, memang ada apa?" Ina mengerutkan keningnya saat mendapatkan pertanyaan dari gadis di depannya.


"Kamu beneran lupa?" tanya Ina yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Martha.


"Ya ampun, apa sih yang sedang kamu pikirkan sampai tugas saja lupa," ujar Ina sambil menepuk dahinya.


Martha yang baru ingat jika memiliki tugas dari sang guru hanya terkekeh, "Maaf aku lupa," ucapnya tanpa rasa bersalah.


Bus yang mereka tumpangi telah tiba di depan gang rumah Ina, "Aku turun duluan ya," pamit Ina yang langsung turun saat bis berhenti.


"Jangan lupa hari minggu," sambungnya sambil melambaikan tangan kepada sang sahabat.


"Akhirnya sampai juga," ucap Martha saat bus berhenti tepat di depan restoran tempatnya bekerja.


Gadis itu bergegas masuk ke dalam untuk mengganti seragamnya terlebih dahulu, Martha terlihat ramah dengan para seniornya.


"Selamat siang kakak-kakak," sapanya setelah mengganti baju dan masuk ke dalam dapur.


"Siang Martha, bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Nadin yang menjabat kepala koki di restoran tempat Martha bekerja.


"Baik Bu," jawab Martha yang langsung membantu Nadin menyiapkan sayuran untuk memasak pesanan para tamu di luar sana.


"Iya Bu, hari minggu saya mau izin pulang lebih cepat bisa tidak ya?" tanya Martha di sela-selanya membantu Nadin.


"Boleh saja asalkan itu untuk belajar, kamu tinggal bilang Pak Agus kalau kamu izin pulang lebih dahulu," jawab Nadin sambil mengambil sayuran yang telah terpotong-potong oleh Martha.


"Iya ada kerja kelompok Bu, tapi saya tidak enak selalu izin," ujar Martha yang merasa tidak enak dengan para karyawan lain.


Gadis itu merasa terlalu di istimewa, "Tidak apa-apa Martha mereka pasti mengerti dengan keadaan kamu," ucap Nadin mencoba memberikan pandangannya terhadap para karyawan lain.

__ADS_1


"Baik Bu, saya akan usahakan yang terbaik untuk semuanya. Terima kasih atas semuanya," ujar Martha yang merasa terharu karena bisa bertemu dengan orang-orang yang sangat baik.


__ADS_2