CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
MENCOBA


__ADS_3

Raihan yang telah tiba di kampusnya langsung menuju parkiran, pemuda itu ingin mengambil mobilnya yang dia tinggal saat pergi bersama dengan Jonathan tadi.


"Kamu yakin tidak pulang bareng aku saja?" tanya Jonathan saat menurunkan sahabatnya.


"Tidak, aku ada perlu dahulu sebentar," ucap Raihan yang langsung pergi menuju mobil miliknya.


Dengan perlahan pemuda itu mengendarai mobilnya, bayangan gadis SMA yang sempat di tabrak tadi pagi terlintas di pikirannya.


Mobil yang di kendarai Raihan melintasi jalanan ibukota, "Kenapa pakai macet segala sih," keluh Raihan karena mobilnya tidak dapat melaju akibat jalanan yang mendadak ramai.


Raihan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, "Pantas saja macet. Jam pulang kantor toh," ucapnya sambil menghela nafas.


Raihan menyalakan radio yang berada di mobilnya untuk mengusir kejenuhan, lagu dari penyanyi favoritnya terdengar mengisi ruang di dalam mobil. Perlahan-lahan mobil di depannya berjalan, Raihan juga ikut melajukan mobilnya.


"Mampir ke restoran dulu deh," ucap Raihan saat merasakan perutnya yang sedikit lapar.


Kedua mata Raihan melirik kiri dan kanan jalan untuk mencari restoran yang terdekat, "Nah itu dia," ujar Raihan yang melihat restoran tidak jauh dari tempatnya sekarang.


Raihan segera memasuki parkiran yang tersedia di sana, di saat akan memasuki restoran ponsel miliknya berdering.


"Iya halo, ada apa?" tanya Raihan pada seseorang yang menghubunginya.


Terlihat wajah Raihan yang sedikit lesu, "Iya aku pulang," Raihan kembali berjalan menuju mobilnya.


Dia membatalkan untuk makan di restoran itu sebab sang mamah menelepon untuk menyuruhnya pulang lebih awal, sang ibu tahu jika Raihan tidak akan langsung pulang setelah bertengkar dengan sang ayah.


Di saat Raihan akan menjalankan mobilnya, tanpa sengaja kedua matanya melihat Martha yang akan membuang sampah restoran tersebut.


"Itu bukannya ...?" Raihan berpikir apakah dirinya salah mengenali atau memang itu gadis yang seharian ini mengisi pikirannya.


"Apa dia bekerja di sini?" gumam Raihan yang merasa sedikit heran karena setahu dirinya gadis itu masih berstatus pelajar.


Raihan yang penasaran ingin turun kembali dari mobilnya akan tetapi, dia teringat perkataan sang ibu yang menyuruhnya pulang dahulu.


"Nanti saja deh aku coba datang lagi," ucap Raihan sambil meninggalkan restoran.


Hari telah berganti, selama tiga hari pula Raihan dan juga Jonathan mengisi acara di sekolah itu dan selama itu pula Raihan terus mencoba untuk mendekati Martha. Dia masih penasaran dengan gadis itu apalagi setelah memastikan jika gadis yang dilihatnya kemarin di restoran adalah dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu?" tanya Jonathan yang duduk di depannya saat beristirahat di kantin sekolah.


Pemuda itu menatap gelas di depannya, "Tidak apa-apa," jawab Raihan sambil meminum minuman yang sudah sedikit tidak dingin.


"Yakin kamu tidak apa-apa?" Jonathan terus mencari tahu ada apa dengan sahabatnya yang tiba-tiba murung seperti itu.


Raihan hanya dapat menggelengkan kepalanya, bukan tidak ingin menceritakan apa yang sedang di rasakannya namun dia tidak ingin menjadi bahan tertawaan oleh sahabatnya itu.


"Iya aku tidak apa-apa," ucapnya.


Kedua mata Raihan tidak sengaja melihat gadis yang beberapa hari ini mengisi hati dan pikirannya, entah kenapa dia bisa jatuh hati pada gadis yang selalu saja menolaknya untuk berkenalan.


"Kejarlah jangan di pandang terus," ledek Jonathan saat melihat Raihan yang menatap Martha dari kejauhan.


"Susah sekali dia di dekati," lirih Raihan.


Dia sudah mencoba untuk mendekati gadis itu dengan berbagai macam cara, sampai dirinya pernah mencoba mendatangi kembali restoran dimana dirinya pernah melihat Martha.


"Mau aku bantu?" Jonathan menawarkan diri untuk membantu sang sahabat.


Pemuda itu tahu kelemahan dari Raihan adalah percaya diri yang kurang, jika di lihat wajah Raihan cukup tampan apalagi banyak sekali para mahasiswi di kampusnya mencoba mendekati.


Dia bukan ingin menolak bantuan Jonathan akan tetapi, dia tidak yakin jika gadis itu mudah untuk di dekati.


"Sudahlah Jo, aku juga tidak tertarik dengannya," sanggah Raihan.


Pemuda itu bangkit dari kursi yang di dudukinya, "Hey mau kemana Rai?" teriak Jonathan.


Raihan tidak memperdulikan panggilan sahabatnya, pemuda itu terus berjalan meninggalkan kantin menuju mobil miliknya.


"Tunggu aku lah Rai," ucap Jonathan yang datang dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari mengejar Raihan.


"Habis kamu Jo," tuduh Raihan yang langsung membuka pintu mobilnya.


"Kok aku Rai?" Jonathan sedikit bingung dengan sikap Raihan yang tiba-tiba berubah seperti itu.


Jonathan masih memikirkan perubahan sikap sahabatnya yang menjadi sedikit lebih sensitif saat menyinggung tentang Martha, "Mau pulang tidak?" panggil Raihan dari dalam mobil.

__ADS_1


Pemuda itu membuka kaca mobilnya untuk bisa leluasa memanggil sahabatnya yang masih terdiam mematung di luar, Jonathan sedikit tersentak saat mendengar panggilan Raihan yang kedua kalinya.


"Iya ayo," jawab Jonathan yang langsung membuka pintu mobil Raihan.


Selama di perjalanan Jonathan menyusun laporan saat dirinya dan juga Raihan mengadakan seminar selama beberapa hari kemarin, "Rai kita mampir ke Coffee shop yang biasa yuk!" ajak Jonathan saat dirinya tidak dapat fokus menyusun laporan milik mereka.


"Mau ngapain mampir ke sana?" tanya Raihan yang sesekali melihat sahabatnya berbicara.


"Ngerjain tugas ini lah Rai, dari tadi aku susah fokus mengetik," keluh Jonathan yang tidak bisa mengetik akibat guncangan mobil saat bertemu dengan jalanan rusak.


Tanpa menjawab pertanyaan Jonathan, Raihan melajukan mobilnya menuju tempat mereka biasa berkumpul.


"Jangan lupa hubungi Rino dan Wendi jika kita sedang berada di coffe shop tempat biasa." perintah Raihan.


Jonathan mengambil ponsel miliknya dan mulai mengetikan sesuatu di benda pipih itu, "Sudah tinggal tunggu mereka saja nanti," ujar Jonathan yang memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Raihan terus saja memikirkan bayang-bayang Martha hingga pemuda itu sedikit terkejut saat Jonathan memanggilnya, "Kamu sedang mikirin apa sih Rai?" tanya Jonathan ketus sebab dirinya yang sedang bercerita dari tadi tidak di dengarkan oleh pria di sebelahnya.


"Aku dengar kok kamu bilang apa, nanti saja kita bahasnya di coffe shop sambil santai," sanggah Raihan yang tidak sepenuhnya berbohong.


Dia mendengar ucapan Jonathan namun lama kelamaan bayangan Martha mulai memenuhi pikirannya.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang mereka tumpangi telah tiba di salah satu coffe shop favoritnya dari sejak duduk di bangku sekolah menengah atas hingga saat ini.


"Sekalian pesan saja buat Rino dan Wendi," ucap Raihan sebelum dirinya pamit untuk ke toilet sebentar.


Sepeninggalan Raihan ketoilet, Jonathan melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda tadi.


"Hai bro," sapa Rino dan juga Wendi yang datang bersamaan.


"Ai, kemana aja kalian?" tanya Jonathan sambil menjabat tangan sahabatnya selain Raihan.


"Biasa tugas kampus numpuk," jawab Rino yang langsung mendudukan dirinya di salah satu bangku.


"Ah iya Raihan mana?" tanya Wendi yang menyadari salah satu sahabat terbaiknya tidak berada disana.


"Kangen dengan aku?" tanya Raihan yang baru selesai dari toilet.

__ADS_1


Rino dan Wendi yang mendengar suara orang Raihan langsung berdiri dan menghampiri sahabatnya karibnya itu. Setelah lulus sekolah Rino dan juga Wendi memilih untuk melanjutkan pendidikan di kampus yang berbeda dengan Raihan maupun Jonathan, karena tujuan dan cita-cita dari mereka yang berbeda.


Cinta selalu datang di saat yang tidak tepat, namun cinta hadir pada orang yang tepat.


__ADS_2