
"Apa yang harus aku lakukan," ucap Natasha sambil menatap langit-langit kamarnya.
Dia terus memikirkan bagaimana cara agar saham itu tidak jatuh di tangan yang salah, di saat Natasha akan mencoba memejamkan mata suara ketukan membuatnya harus segera terbangun kembali.
Natasha berjalan menuju pintu untuk mengetahui siapa yang datang di saat dirinya ingin beristirahat, "Bryan," ucap Natasha terkejut saat melihat Bryan sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Tanpa menunggu izin dari Natasha, pria itu langsung bergegas masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau apa?" tanya Natasha saat melihat Bryan menjatuhkan diri di kasur miliknya, Natasha segera menghampiri Bryan yang sedang asik memainkan ponsel.
"Kamu ngapain ke sini? Sudah malam tidak enak sama yang lain Bryan," ucap Natasha di hadapan sang kekasih.
Bryan memasukkan ponselnya ke dalam saku, "Kamu ada masalah apa? Cerita sama aku jika ada masalah," ujar Bryan sambil menarik tangan Natasha agar duduk di sampingnya.
Natasha terdiam saat mendengar pertanyaan Bryan, "Ada sedikit masalah di kantor," Natasha kembali teringat pesan yang di kirim oleh asisten kepercayaannya.
Bryan menyentuh pipi Natasha, "Masalah apa? Mungkin aku bisa bantu," ujar Bryan sambil menatap wajah bingung Natasha.
"Raka tadi mengirimkan pesan kalau Sam sedang menjual saham bagian miliknya dari Papah, aku takut jika perusahaan Papah akan jatuh di tangan yang salah," jelas Natasha.
Bryan mengerti akan masalah yang sedang di hadapi oleh sang kekasih, "Aku akan bantu kamu sebisa mungkin dan aku pastikan perusahaan itu akan seutuhnya milikmu," ucap Bryan yang membuat hati Natasha seketika lega.
"Kamu serius mau bantu aku? Aku tidak mungkin membeli saham milik Sam, dia pasti akan mencari tahu siapa yang akan membeli saham miliknya," lirih Natasha.
Wanita itu sudah sangat mengenal siapa Sam sebenarnya, dia hanya takut Sam memiliki rencana lain untuk menghancurkan perusahaan sang Papah yang telah dirintisnya dari nol.
"Kamu tenang saja biar ini menjadi urusanku, kamu hanya perlu memikirkan aku saja," ucap Bryan yang langsung menarik Natasha hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak perlu takut, selama masih ada aku kamu akan baik-baik saja," sambung Bryan.
Natasha menganggukkan kepalanya yang masih dalam dekapan Bryan, entah sejak kapan mereka sama-sama mulai saling mencintai.
"Aku percaya sama kamu," Natasha melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi milik Bryan.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau membantuku selama ini, terima kasih sudah mau mencintaiku setulus hati. Eh tapi tunggu memang kamu cinta aku ya?" sambung Natasha yang sedang pura-pura berpikir, Bryan yang merasa sangat tertipu langsung menggelitik perut Natasha.
"Aku sudah serius kamu malah bercanda," ujar Bryan yang masih menggelitik perut Natasha. "Ampun, iya aku serius jadi sekarang lepaskan dulu ya sayang," ujar Natasha yang meminta untuk Bryan menghentikan tangannya.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat, besok kita harus kembali ke kota," ucapan Bryan membuat kedua alis Natasha mengerut.
"Bukannya lusa baru pulang?" protes Natasha, dia masih ingin merasakan udara segar yang masih terasa di sana.
"Ternyata aku baru ingat jika ada urusan penting lusa, jadi mau tidak mau besok kita harus pulang," ucap Bryan yang tidak sepenuhnya berbohong.
Pria itu ingin segera membantu Natasha untuk mendapatkan haknya kembali, Bryan sudah memiliki ide bagaimana caranya untuk bisa membeli saham yang dijual oleh Sam. Sebelum semuanya terlambat, Bryan harus bisa lebih dahulu mendapatkannya.
"Aku keluar dahulu, kamu harus langsung tidur," pesan Bryan sebelum benar-benar meninggalkan kamar Natasha. Dengan langkah cepat Bryan segera masuk ke kamar miliknya yang berada di sebelah kamar Natasha, dia mengambil ponsel yang berada di saku celananya.
"Tolong cari tahu berapa harga saham di perusahaan xxx yang di jual oleh Sam," ucap Bryan kepada orang kepercayaannya dan tanpa menunggu jawaban dari lawannya Bryan langsung mematikan panggilannya.
"Aku harus bisa mendapatkan saham itu bagaimanapun caranya," sambung Bryan setelah menaruh ponselnya di samping tempat tidur.
Dia merebahkan tubuhnya dan memikirkan ide apa yang cocok untuk membalaskan dendam atas kematian keluarga Natasha, dia juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan akhir.
Dia mengirim pesan kepada Tomi untuk segera menemuinya ketika dirinya sudah berada di rumah nanti, dengan senang hati Tomi akan melaksanakan tugasnya. Bryan segera memejamkan kedua matanya, dia tidak sabar mendengar kabar baik dari Tomi.
Natasha yang tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam, bangun lebih pagi dan menyiapkan barang-barang yang akan di bawanya pulang.
"Loh Sya kamu mau kemana?" tanya Mia yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Natasha, dia melihat Natasha sedang merapikan baju miliknya ke dalam koper.
"Bryan mengajak kembali hari ini, katanya ada urusan penting dan aku harus ikut," jelas Natasha yang membuat Mia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tunggu dulu, kalau kamu pulang berarti aku juga harus pulang dong?" tanya Mia saat tersadar jika dia juga harus ikut kembali dengan bos dan sahabatnya itu.
Natasha menghendikkan bahunya, "Entah, kamu tanya saja langsung," jawab Natasha yang terus fokus membereskan batang-barangnya.
Mia pamit untuk menyiapkan sarapan untuk mereka semua, selama berjalan menuju dapur Mia terus memikirkan apakah dia ikut pulang bersama Natasha atau tidak.
__ADS_1
"Nanti saja deh coba minta izin, siapa tahu cuma Natasha yang harus pulang," kekeh Mia.
Wanita itu langsung menjalankan tugasnya membuatkan beberapa lauk untuk mereka semua sarapan terlebih Natasha dan Bryan yang akan pulang hari ini, Mia yang sedang fokus di kejutkan dengan kedatangan Rina tiba-tiba.
"Ya ampun Bu, aku terkejut," ucap Mia sambil mengelus dadanya.
"Maaf tadi ibu dengar kamu bilang Natasha mau pulang hari ini? Bukannya lusa kalian baru pulang?" tanya Rina heran sebab dirinya merasa sangat berterima kasih atas apa yang sudah Natasha berikan selama ini.
"Tadi sih kata Natasha, Pak Bryan sedang ada urusan mendadak jadi dia harus segera pulang," jawab Mia yang terus fokus membuatkan sarapan kesukaan Natasha.
"Ya sudah, Ibu tinggal dahulu ke dalam lihat keadaan Bapak," pamit Rina meninggalkan Mia yang tengah sibuk dengan bahan masakan di depannya.
Tidak butuh waktu lama, masakan kesukaan Natasha telah matang dan siap untuk di hidangkan. "Beres tinggal panggil Natasha dan Pak Bryan," Mia berjalan menghampiri Natasha yang sedang menelepon seseorang.
"Nanti saya hubungi lagi, tolong kamu jaga dahulu sebelum aku kembali," ucap Natasha saat menyadari jika Mia sudah berada di belakangnya.
"Ada apa Sya, kenapa muka kamu tegang gitu?" tanya Mia saat melihat perubahan wajah Natasha.
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang seperti Sam, tidak tahu di untung dan berterima kasih," geram Natasha.
Bagaimana tidak, Raka memberi kabar jika sudah ada tiga orang yang menawar saham milik Sam.
"Maksud kamu siapa Sya? Coba kamu jelaskan pelan-pelan," ujar Mia yang membuat Natasha menghela napasnya.
Dengan perlahan Natasha menceritakan apa yang sedang terjadi dengan perusahaannya, "Sumpah Sya, manusia seperti itu harus segera di beri pelajaran sampai dia jera," Mia ikutan marah saat mendengar apa yang terjadi dengan perusahaan sahabatnya.
Mia memberi dukungan agar Natasha bisa mengatasi semua masalah yang terjadi dengan segera, "Lebih baik sekarang tenangkan pikiranmu dulu," ujar Mia.
Dia segera mengajak Natasha untuk sarapan, "Kita sarapan yuk, aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu," ucapan Mia yang membuat wajah Natasha kembali bersinar.
"Benarkah kamu membuatkan makanan kesukaanku?" tanya Natasha yang tidak percaya jika Mia membuatkan makanan kesukaannya.
Mia menganggukkan kepalanya, "Yuk," ajak Mia.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju ruang makan bersama, dengan di selingi sedikit canda dan tawa mengingat akan kisah mereka sewaktu sekolah dulu.