
Mobil yang di kendarai oleh Bryan tiba di rumah sakit xxv, dengan sigap para karyawan dan suster rumah sakit menghampiri mobil Bryan.
"Mari Bu biar saya bantu," ucap salah satu perawat yang membantu Joni untuk duduk di kursi roda.
Bryan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu sebelum menyusul Natasha, "Langsung bawa ke ruangan Dokter Hilmi," perintah Natasha.
Suster yang mendorong kursi roda Joni menganggukkan kepalanya, "Baik Bu," ucapnya.
"Memang kita tidak mendaftar dahulu Sya?" tanya Mia heran, karena setahu dirinya saat datang berobat ke rumah sakit xxv mereka harus mendaftarkan diri terlebih dahulu.
Natasha tertawa mendengar pertanyaan Mia, "Tidak perlu mendaftar, aku sudah mendaftarnya kemarin," jelas Natasha agar Mia tidak bingung.
"Kamu dan Ibu duluan saja, ikutin suster itu," sambung Natasha yang menyuruh Mia untuk ikut mengantarkan sang ayah bertemu dokter.
"Kamu mau kemana?" tanya Mia.
Tidak berselang lama Bryan datang dan langsung menghampiri Natasha yang sedang menunggunya di lobby rumah sakit, "Kamu sedang apa di sini?" tanya Bryan.
Natasha sedikit gugup, dia bingung ingin menjawab apa. "Maaf Bu, bisa ke ruangan sebentar," ucap salah satu karyawan rumah sakit yang membuat Bryan dan Mia menatapnya dengan penuh tanya.
"Aku akan menjelaskannya nanti, kamu sekarang susul Ibu. Setelah urusanku selesai aku akan menyusulmu," Natasha menyuruh Mia untuk menemani sang Ibu yang sedang berada di ruang periksa.
Mia menganggukkan kepalanya, "Ya sudah aku susul Ibu dahulu, nanti kamu menyusul ya Sya," ucap Mia yang langsung bergegas menuju ruangan dimana sang ayah sedang di periksa.
"Kamu mau ikut aku atau mau menunggu di sini?" tanya Natasha saat ingat jika dirinya sedang bersama Bryan.
Bryan terdiam sejenak memikirkan pilihannya, "Aku ikut kamu saja boleh?" tanya Bryan.
Natasha langsung menarik tangan Bryan agar mengikutinya, hingga mereka tiba di salah satu ruangan. Bryan menarik tangan Natasha, di ingin penjelasan kenapa wanita itu di panggil ke ruangan petinggi rumah sakit xxv.
__ADS_1
"Kenapa kita ke sini? Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan petinggi rumah sakit xxv?" tanya Bryan curiga.
Natasha terkekeh mendengar pertanyaan Bryan, sedikit membuatnya kesal tetapi, dapat membuatnya tertawa juga.
"Masuk saja dahulu, nanti juga kamu akan tahu," Natasha langsung masuk tanpa memperdulikan Bryan yang masih menanti jawabannya.
"Selamat datang Bu Natasha, maaf jika jamuannya kurang berkenan," ucap pria paruh baya yang langsung hormat dengan Natasha.
"Tidak usah seperti itu Pak Ridwan, anggap saja saya juga pasien di sini jadi tidak perlu sungkan seperti ini," ujar Natasha tulus.
Itulah mengapa Natasha tidak pernah mau datang ke rumah sakit xxv, dia akan menyerah segala urusannya kepada sekertaris yang juga menjadi asisten kepercayaan.
"Jadi rumah sakit xxv punya kamu Sya?" tanya Bryan.
Natasha terkekeh saat Bryan sedikit terkejut dengan kenyataan di depan, "Ibu Natasha memang pemilik rumah sakit xxv, dia selalu menyembunyikan identitasnya dan hanya kami para petinggi rumah sakit xxv yang mengetahui," jelas Ridwan membuat Bryan semakin takjub dengan wanita pilihannya.
"Ada beberapa hal yang mengharuskan aku menutup semua identitasku, sekarang kamu tahu siapa aku jadi aku mohon kamu juga harus bisa merahasiakannya hingga semua dapat terbalaskan," ucap Natasha dengan tatapan yang penuh amarah.
"Apa aku bisa membantu? Aku akan menjaga rahasia ini sampai kamu siap untuk menjelaskan semuanya," ucap Bryan.
"Terima kasih kamu sudah mau mengerti aku, nanti akan aku ceritakan semuanya," ujar Natasha. "Ah aku sampai lupa, ada apa Pak Ridwan mau bertemu dengan saya?" sambung Natasha yang baru teringat tujuannya datang ke ruangan itu.
Ridwan berjalan kembali ke mejanya, "Silakan duduk dahulu Bu," ucap Ridwan menyuruh Natasha untuk duduk di bangku yang berada di hadapannya.
Ridwan memperlihatkan rekaman yang berada di bagian keuangan, dimana Sam sedang meminta uang yang lumayan banyak kepada ketua bagian keuangan rumah sakit.
Natasha sedikit mengepalkan tangannya saat melihat rekaman itu, "Bagaimana dia bisa tahu jika rumah sakit ini masih adalah milik Papah?" tanyanya yang membuat Ridwan menundukkan kepalanya, dia tahu Natasha sudah berusaha keras untuk menutupi semua identitasnya.
"Saya tidak tahu Bu, mungkin sebelum Bapak meninggal dia pernah tidak sengaja membocorkan masalah rumah sakit karena saya pernah melihat Bapak datang dengan pria itu," ucap Ridwan sambil menunjuk wajah Sam yang ada di rekaman.
__ADS_1
"Jadi kamu menutup identitas hanya karena dia?" tunjuk Bryan ke arah rekaman yang sudah berhenti.
Natasha menatap kedua mata Bryan, "Iya, aku menutup semua identitasku demi hidup yang lebih panjang. Dia lah penyebab semua terjadi dan aku berjanji tidak akan memaafkan dia walaupun dia bersimpuh di hadapanku," murka Natasha.
Bryan sedikit terkejut saat melihat Natasha yang begitu marah setelah melihat rekaman itu, "Saya mau jangan sampai orang itu menginjakkan kaki di rumah sakit ini lagi dan saya tidak sudi uang yang saya punya di ambil olehnya," geram Natasha.
Bryan yang menyadari perasaan yang di rasakan Natasha saat ini, "Lebih baik kamu tenangkan diri dahulu, jangan terlalu memikirkan semuanya sendiri," ucapan Bryan sedikit membuat Natasha meredakan emosinya.
"Baik Pak kalau ada apa-apa tolong beritahu saya atau asisten saya," pesan Natasha yang mendapat anggukan kepala dari Ridwan.
"Saya akan selalu menjaga semuanya Natasha karena kalian hidup saya menjadi lebih baik," ucap Ridwan melihat Natasha dan Bryan yang berlalu meninggalkan ruangannya.
Ridwan jadi kembali teringat saat dirinya masih sedang dilanda kegelisahan akibat keuangan yang sedang terpuruk, hingga dia bertemu dengan ayah Natasha.
Raihan memberikan pekerjaan yang layak untuk Ridwan dan dengan kerja kerasnya dia bisa berada di posisi ini, "Terima kasih banyak Pak," ucap Ridwan sambil menatap photo Raihan yang menghiasi meja kerjanya.
Natasha berjalan menuju ruangan dimana Mia dan keluarganya berada, "Aku ke toilet sebentar ya, nanti aku menyusul," pamit Bryan setelah mendapat persetujuan dari wanita di sampingnya.
Natasha melanjutkan perjalanannya, "Gimana keadaan Bapak Mi?" tanya Natasha saat melihat Mia sedang duduk di bangku yang berada di depan ruangan.
"Sedang di periksa, oh iya Pak Bryan kemana Sya?" tanya Mia sambil melihat sekeliling Natasha.
"Tadi dia pamit ke toilet dulu," jawab Natasha yang langsung mengambil benda pipih di dalam tasnya.
"Oh iya Sya tadi kalian darimana?" tanya Mia penasaran, Natasha menghentikan jarinya yang sedang mengirim pesan untuk Raka.
Natasha ingin Raka segera menemuinya setelah dirinya kembali nanti, "Itu soal data Bapak Joni ternyata ada yang kurang," ucap Natasha berbohong.
Bukan tidak percaya kepada Mia tetapi, dia ingin menyembunyikan identitasnya agar tidak banyak orang yang mengetahuinya.
__ADS_1