
Mia kembali di sibukkan dengan beberapa laporan yang harus selesai secepatnya, tapi pikirannya kembali teringat saat pertama kali bertemu dengan Raka tadi. Sekian lama gadis itu mencoba mengubur semua cerita tentangnya, namun hari ini semua usahanya ternyata sia-sia.
Pria yang beberapa tahun mengisi hatinya dan mencoba di lupakan olehnya kembali hadir kembali, "Kenapa harus hadir di saat aku mulai melupakannya?" oceh Mia saat merasakan ingatan masa lalu bersama Raka menari-nari di dalam sana.
Mia sudah mulai bisa menerima kenyataan yang ada, jika dirinya bersama Raka tidak dapat bersatu. Itu semua yang membuat hubungan mereka harus kandas, terlebih saat dirinya mengetahui jika pria yang di cintainya telah berkhianat.
Gadis itu tidak pernah tahu jika wanita yang bersama dengan Raka tempo hari hanyalah suruhan sang Mamah, Jeni tidak ingin anak kesayangannya harus menjalin hubungan dengan gadis seperti Mia.
Awalnya Mia tidak perduli akan semua itu, sebab Raka selalu menyakinkan jika semua akan baik-baik saja hingga kejadian itu harus terjadi. Jeni menjodohkan sang anak dengan seorang gadis anak temannya, mereka telah merencanakan pesta pernikahan dalam waktu dekat. Itu sebabnya Mia mau tidak mau harus segera mengakhiri hubungannya dengan Raka, dia tidak ingin jika hubungan ibu dan anak itu menjadi buruk karenanya.
Malam semakin terasa lama saat ingatannya kembali kemasa lalu, saat pertama kali melihat wajah Raka setelah beberapa bulan menghilang. Mia menjadi tidak bersemangat mengerjakan tugasnya, rasa yang pernah hilang hadir kembali saat ini.
"Kenapa kamu harus hadir kembali di saat aku mulai bisa melupakan semuanya," ucap Mia sambil merebahkan diri dan menatap langit-langit kamarnya.
Ingatan saat kebersamaan terukir jelas di dalam ingatannya, dimana dirinya selalu menjadi prioritas utama sang kekasih. Semua Raka lakukan karena rasa cinta yang teramat dalam terhadap Mia, dia juga tahu seberapa besar cinta yang dimilikinya untuk pria itu.
Bryan dan Natasha sedang menatap beberapa kartu undangan di depannya, mereka mulai memilih undangan untuk acara mereka nanti. Di saat sedang memilih Bryan menceritakan apa yang dia ketahui tentang Mia dan Raka, dia juga awalnya tidak tahu jika mereka berdua pernah miliki hubungan.
"Sayang kamu tahu tidak kalau Mia dan Raka pernah menjadi sepasang kekasih?" tanya Bryan sambil membulak-balik kartu undangan di tangannya.
Natasha yang juga sedang memilih kartu undangan menghentikan kegiatannya sejenak, dia menatap wajah Bryan dengan penuh tanya.
"Dapat info darimana kamu?" selidik Natasha sebab dia saja yang tinggal satu rumah dengan Mia dan sudah lama menjadi atasan Raka tidak pernah mengetahui hal itu.
Bryan sedikit menceritakan kejadian yang belum lama di ketahuinya, yaitu pada saat dirinya mendatangi ruang kerja Raka. Pria itu awalnya hanya ingin mengambil beberapa berkas yang di butuhkan, namun pandangan kedua matanya teralihkan pada bingkai yang berada di atas meja kerja milik Raka.
__ADS_1
"Kamu ingat tidak saat meminta bantuan untuk mengambil beberapa map yang berada di ruangan Raka?" tanya Bryan yang membuat Natasha berpikir sejenak dan tidak lama menganggukkan kepalanya.
"Iya aku ingat, memang ada apa?" Natasha begitu penasaran dengan cerita Bryan.
"Nah pas aku sedang memilih beberapa map yang kamu minta, aku tidak sengaja melihat photo Raka bersama seorang perempuan karena aku penasaran jadi aku lihat lebih seksama." cerita Bryan yang membuat Natasha mendekap bantal sofa sambil terus mendengarkan cerita sang kekasih.
"Setelah aku selidiki ternyata perempuan yang berada bersama Raka di photo itu adalah Mia," sambung Bryan dengan santai.
Berbeda dengan sang kekasih, Natasha terkejut saat mendengar cerita Bryan.
"Kenapa Mia tidak pernah cerita ya tentang masa lalunya?" tanya Natasha saat merasa penasaran dengan hubungan sahabatnya dan orang kepercayaannya itu.
"Yang pasti mereka pasti punya jawaban sendiri, jadi lebih baik kita urus urusan kita saja ya," ajak Bryan.
Natasha sebenarnya masih penasaran dengan cerita Bryan namun, dia juga tidak ingin membuat pria itu marah dengan sederet pertanyaan darinya.
Natasha membereskan gelas serta beberapa contoh undangan yang tidam terpakai, saat gadis itu fokus mengambil beberapa sampah yang berserakan dirinya di kejutkan oleh kedatangan sang sahabat.
"Belum tidur Sya?" tanya Mia yang baru saja keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas air putih.
"Astaga Mia, kamu bikin kaget saja," jawab Natasha yang terlonjak kaget.
"Iya ini lagi beresin sampah dahulu, kamu sendiri belum tidur?" sambung Natasha yang sambil memasukkan sampah di depannya.
Mia membantu membersihkan sampah yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, dengan segera dia memasukkan sampah bungkus makanan ke dalam tempat yang telah tersedia.
__ADS_1
"Bagaimana persiapan pernikahanmu Sya?" tanya Mia sambil membuka majalah di hadapannya.
"Sudah delapan puluh persen, tinggal sedikit lagi juga beres," jawab Natasha.
Gadis itu langsung duduk di sebelah Mia, dia ingin menanyakan langsung tentang hubungan keduanya.
"Aku boleh tanya sesuatu Mia?" Natasha sedikit memberanikan diri untuk menanyakan secara langsung tentang apa yang ingin dirinya ketahui.
"Memang kamu mau tanya apa Sya? Sepertinya serius?" ujar Mia saat melihat wajah Natasha yang terus saja menatapnya penuh selidik.
Tanpa basa basi lagi Natasha mencari tahu jawabannya dari mulut Mia secara langsung, "Sejak kapan kamu memiliki hubungan dengan Raka?" pertanyaan Natasha sontak membuat Mia terdiam di tempatnya.
"Darimana kamu tahu Sya?" bukannya menjawab Mia malah ikut bertanya bagaimana sahabatnya itu tahu tentang masa lalunya.
"Kenapa kamu malah balik bertanya Mia, aku hanya butuh jawaban jujur darimu." Natasha sebenarnya sangat menginginkan jika Mia dan Raka dapat kembali bersama.
"Itu masa lalu Sya, aku dan Raka memang tidak di takdirkan bersama," jawab Mia dengan setetes air mata yang mulai menggenang di kedua sudut matanya.
Natasha tertawa saat mendengar jawaban gadis di hadapannya, dia memegang kedua pundak Mia dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi acara itu ...?" Mia merasa bersalah saat tidak ingin menunggu keputusan Raka dalam memperjuangkan hubungan mereka.
Rasa bersalah hadir, terlebih setelah mendengar cerita Natasha tentang pembatalan pernikahan oleh Raka dengan gadis pilihan sang mamah. Sebab itu pula, Raka lebih memilih tinggal di luar daripada harus tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya.
***MENCINTAI DALAM HATI LEBIH BAIK DARIPADA HARUS TERUNGKAP SEBAB KITA TIDAK TAHU TENTANG PERASAANNYA, TAPI ALANGKAH LEBIH BAIK KITA MENCOBA UNTUK JUJUR AKAN PERASAAN SENDIRI APAPUN HASIL AKHIRNYA NANTI.
__ADS_1
Jangan lupa ya like, komen, rate nya..... miss you all
tetap terus tunggu cerita aku ya, maaf klw tidak bisa kirim tiap hari sebab ada beberapa hal yang membuat tidak bisa ontime menulis. Pokoknya terima kasih telah berkenan membaca ceritaku, love you so much***.