CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
INGATAN JONATHAN DAN MASA LALU BRYAN


__ADS_3

Ingatan Jonathan kembali lagi saat dirinya merasa geram dengan niat buruk Sam, sekuat tenaga pria itu mencoba untuk memisahkan sang anak dengan gadis pujaannya. Bukan bermaksud jahat tetapi, dia tidak ingin anak kesayangannya terluka nanti.


"Terus selidiki gadis itu, jika dia berulah baru kita turun tangan," ucap Jonathan yang memerintahkan sang asisten kepercayaannya untuk terus memantau gerak-gerik Cintya. Dia tidak ingin sedetik pun kehilangan informasi tentang gadis itu, katakan jika Jonathan jahat terhadap sang anak. Semua dilakukan demi masa depan Bryan, Jonathan tidak akan membiarkan siapapun berniat buruk kepada keluarganya.


"Baik Pak," ucap sang asisten yang langsung pergi melanjutkan pekerjaannya.


Jonathan kembali sibuk dengan beberapa map yang ada hingga suara ponsel miliknya berdering, tertera nama si penelepon yang langsung membuatnya mengalihkan pandangan dari benda pipih itu.


Malas adalah kata pertama yang ada dalam hati Jonathan, sebab yang menghubunginya saat ini adalah Sam. Lelaki yang saat ini sangat dia benci apalagi setelah dirinya mendengar sendiri percakapan mereka, itu membuat Jonathan semakin tidak menyukai keluarga itu.


Tidak berselang lama ketukan di pintu kembali memecah perhatiannya, Jonathan sedang meneliti surat kerjasamanya dengan perusahaan Raihan. Pria itu belum tahu jika perusahaan xxx adalah perusahaan sang sahabat yang sangat di rindukannya saat ini, setiap hari Jonathan tidak henti-hentinya mencari tahu keberadaan sang sahabat.


Entah Jonathan kurang teliti atau mungkin memang Raihan pandai menyembunyikan identitas, sehingga tidak satupun yang mengetahui keberadaannya kecuali Sam.


"Dad," panggil Bryan. Pemuda itu langsung masuk dan duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan sang ayah, Jonathan segera menghampiri keberadaan anak kesayangannya.


"Ada apa? Tumben ke sini?" Jonathan tahu maksud kedatangan Bryan keruangannya yang tiba-tiba, pasti dia akan menanyakan soal kelanjutan hubungannya dengan Cintya.


"Jangan pura-pura tidak tahu Dad," ujar Bryan yang membuat Jonathan menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Dad tidak akan setuju sampai kapanpun, jadi Dad harap kamu bisa menuruti semuanya jika tidak ingin kehilangan yang kamu punya," ujar Jonathan.

__ADS_1


Pria paruh baya itu langsung berjalan ke meja kerjanya kembali, dia tidak menghiraukan rengekan sang anak.


"Ayolah Dad, apa yang membuatmu tidak merestui hubungan kami?" Bryan mengikuti sang ayah dan duduk di hadapan pria itu.


"Kamu tidak perlu tahu alasan mengapa Dad tidak setuju dengan gadis itu," cakap Jonathan yang membuat Bryan terus bertanya.


"Kenapa Dad? Aku butuh penjelasan, bukan seperti ini." Bryan sudah merasa lelah untuk mencari restu dari sang ayah, bagaimanapun dia tidak ingin jika memiliki hubungan tanpa restu dari orang tua.


Bryan sangat menyayangi kedua orang tuanya terlebih kepada sang ayah, dia yang selalu ada di balik kesuksesan dirinya. Bryan hanya ingin tahu kenapa sang ayah bersikeras menolak hubungannya yang baru beberapa bulan terjalin itu, di-a yakin jika sang ayah sedang menyembunyikan sesuatu darinya


"Nanti kamu akan tahu sendiri Nak," ucap Jonathan lembut.


Bryan yang tidak mendapatkan jawaban dari sang ayah bergegas keluar, dia mencoba mencari tahu sendiri apa yang sedang terjadi sebenarnya. Setahu dirinya sang ayah sempat menyetujui hubungannya dengan Cintya namun beberapa hari lalu pria itu memaksa untuk mengakhiri hubungan dengan gadis pujaannya.


Bryan menghela nafas saat mendengar jawaban dari ujung telepon sana, "Aku tunggu informasinya," ucapnya dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Aku harus siap apapun yang terjadi," ujar Bryan sambil memejamkan kedua matanya. Perasaannya terhadap Cintya belumlah dalam, karena didalam hati Bryan masih tersimpan wajah gadis cilik yang menjadi cinta pertamanya.


Gadis yang pertama kali membuat dunianya berubah, gadis yang selalu tersenyum walau sedang terluka. Ingatan Bryan kembali saat seorang gadis cilik menghampiri dirinya yang sedang berkelahi, gadis cilik itu membantu dan membelanya saat kejadian itu terjadi. Di saat itu pula mereka sering bertemu, bermain bersama hingga tanpa di sadari rasa itu tumbuh seiring waktu.


Pada awalnya Bryan mengira jika perasaannya hanya sebatas rasa sayang kakak kepada adiknya, mengingat umur mereka terpaut lima tahun. Usia Bryan kala itu lebih tua dari usia Caca. Iya gadis cilik itu memperkenalkan dirinya bernama Caca, hari berganti hari dan waktu terus berputar hingga kejadian naas itu terjadi.

__ADS_1


Kejadian yang tidak pernah bisa Bryan lupakan, akibat kelalaiannya gadis cilik itu mengalami kecelakaan. Bryan tidak pernah mengetahui lagi bagaimana kabarnya dan seperti apa wajahnya saat dewasa, bertahun-tahun lamanya Bryan terpuruk hingga sang ayah yang melihatnya menjadi tidak tega.


Jonathan menyuruh sang anak untuk meneruskan pendidikannya di luar negeri mengingat jika hanya dia harapan satu-satunya yang dia miliki, dengan berat hati Bryan mengikuti kemauan sang ayah.


Hari-hari Bryan lalui tanpa sedikipun bisa melupakan Caca, entah apa yang di pikirannya saat itu. Hingga suatu hari dirinya bertemu dengan Cintya, gadis itu menjadi teman sekaligus sahabatnya saat menempuh pendidikan di sana. Ada rasa nyaman yang tiba-tiba datang di hati Bryan, pemuda itu mencoba menepis semua rasa namun hatinya merasa tidak adil jika terus memikirkan gadis cilik yang sudah membawa pergi seluruh hatinya.


Bryan mulai memberikan harapan kepada Cintya, walau hatinya berkata tidak untuk gadis itu. Perlahan hati Bryan mulai bisa menerima kehadiran Cintya, namun saat ini dirinya ragu karena keputusan sang ayah yang begitu tidak bisa di tebak.


Bryan berpikir keras bagaimana cara untuk mengakhiri hubungannya dengan Cintya, dia tidak ingin terus menerus menyakitinya. Sekuat tenaga pemuda itu menepis rasanya terhadap Caca, semakin besar rindu yang terasa kepada gadis cilik itu.


"Bryan, Dad ingin bicara," panggil Jonathan saat sang anak baru tiba di rumah.


Wajah lelah Bryan sangat terlihat, mengingat saat dirinya mengakhiri hubungannya dengan Cintya tadi. Gadis itu tidak rela di campakan begitu saja oleh Bryan, tapi semua keputusan sudah dirinya tetapkan.


"Ada apa Dad," jawab Bryan yang langsung duduk di sebelah sang ibu.


Usapan lembut Bryan rasakan saat pemuda itu menaruh kepalanya di pangkuan sang ibu, Mita terus mengusap kepala sang anak yang terlihat sedikit putus asa.


"Sudah paham dengan maksud Dad?" tanya Jonathan sambil menyesap perlahan kopi buatan sang istri.


Bryan menganggukkan kepalanya, "Maafkan aku Dad sempat tidak percaya. Semua sudah jelas dan aku juga sudah mengakhiri hubungan dengannya," ucap Bryan. Sebenarnya dia juga tidak tega karena bisa saja Cintya berubah, namun setelah mendapatkan informasi semuanya Bryan merasa jijik dengan gadis itu.

__ADS_1


Terima kasih sudah berkenan mampir di ceritaku, jangan lupa like dan komennya ya. See you allπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2