
Bryan segera keluar kantor setelah pesannya kepada Natasha di balas oleh wanita itu, dengan perasaan bersemangat Bryan mengendarai mobilnya sambil bersenandung ria.
"Aku tidak sabar ingin memberitahu Dad soal siapa Natasha dan pasti Dad akan terkejut dengan berita ini," Bryan sambil membayangkan wajah sang ayah yang pasti akan sangat bahagia setelah mengetahui Natasha adalah anak sahabatnya.
Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan tidak butuh waktu lama pria itu kini telah tiba di tempat sang kekasih berada.
Bryan telah sampai di parkiran perusahaan xxx, pria itu segera turun dari mobilnya dan dengan setia dia menunggu hingga sang kekasih yang berkata sedang menuju ke tempatnya tiba.
Tidak berselang lama wanita yang di tunggu kedatangan terlihat sedang berjalan ke arahnya, "Maaf menunggu," ucapnya.
Bryan menggelengkan kepalanya, "Aku juga belum lama sampai. Jadi tidak perlu merasa tidak enak," jawab Bryan yang tidak berbohong sepenuhnya karena dirinya memang belum lama tiba di sana.
"Kita mau makan di mana?" tanya Natasha ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil Bryan.
Natasha memasang sabuk pengamannya lebih dahulu, "Mom mengundang kamu untuk makan siang di rumah. Katanya kangen sama kamu," bisik Bryan tepat di telinga Natasha hingga membuat wanita itu memundurkan kepalanya.
Jantung Natasha selalu berdegub lebih kencang saat berdekatan dengan Bryan, pria itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan sang kekasih.
"Kita beli sesuatu dulu ya buat mamah kamu," usul Natasha saat mobil yang di kendarai Bryan akan melintasi sebuah toko roti ternama.
Natasha sudah hapal dengan jalanan menuju rumah Bryan, karena wanita itu beberapa kali pernah ke sana atas perintah sang tuan rumah.
"Mom lebih suka roti di sini," ucap Bryan saat mereka berdua telah tiba di sebuah toko roti yang tidak jauh dari rumah Bryan.
Natasha memilih satu persatu roti yang di sukai oleh Mita, "Sepertinya sudah cukup karena kita akan terlambat jika terlalu lama di sini," sindir Bryan yang sudah lelah berjalan memutari toko roti tersebut.
Natasha terkekeh saat melihat wajah Bryan yang sedang cemberut, "Iya maaf. Ini sudah kok," ujar Natasha menuju kasir.
"Ini Mba," Natasha memberikan kartu debit miliknya untuk membayar semua roti yang di belinya.
Bryan mengambil kembali kartu milik Natasha yang hampir di gunakan, "Kenapa di ambil?" tanya Natasha heran.
Tanpa menjawab pertanyaan Natasha, Bryan berlalu meninggalkan wanita itu yang masih berada di kasir.
__ADS_1
"Apa aku salah?" gumam pelan Natasha, dia kembali melihat ke depan setelah sang kasir selesai menghitung belanjaan miliknya.
"Kamu marah?" tanya Natasha yang sudah masuk ke dalam mobil Bryan, dia juga memberikan kartu milik pria itu yang di gunakan untuk membayar belanjaannya.
"Kamu pegang kartu itu, jika membutuhkan sesuatu gunakan saja," Bryan langsung menjalankan mobilnya kembali.
Natasha sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut tapi saat melihat wajah Bryan, wanita itu mengurungkanniatnya.
"Selamat siang Tuan," sapa satpam yang bertugas di rumah Bryan.
Dengan cekatan pria paruh baya itu segera membuka gerbangnya, Natasha keluar dengan perasaan sedikit gugup. Memang bukan pertama kalinya dia datang ke rumah itu tetapi, setiap Natasha datang ke rumah Bryan kerja jantung miliknya menjadi lebih cepat.
Dengan perlahan Natasha mengikuti Bryan dari belakang, Bryan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Mita yang sudah di beritahu jika Natasha akan makan siang bersama, wanita paruh baya itu segera menghampiri sang calon menantu.
"Mom senang kamu datang lagi untuk makan siang di sini," ucap Mita sambil memeluk tubuh Natasha.
"Ah iya, ini untuk Mam. Semoga suka," Natasha memberikan sekantung roti yang di belinya saat perjalanan tadi.
"Jangan bilang ini semua idenya kesayangan Mom," sambung Mita sambil melirik Bryan yang berdiri tidak jauh dari kedua wanita itu.
"Bukan ide aku Mom," sanggah Bryan.
"Tadi Natasha mau bawakan Mom sesuatu lalu aku ajak saja ke toko roti kesukaan Mom," sambung Bryan sekaligus pamit untuk mengganti bajunya terlebih dulu.
"Ayo ikut Mom," ajak Mita saat Bryan berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Biar aku bantu Mom," Natasha mengambil alih mangkuk yang berisi sup dari tangan Mita.
"Kamu calon menantu idaman Mom," gumam Mita sambil melihat Natasha yang sibuk menata makanan di meja makan.
"Wah ada asisten baru ya Mom?" ledek Bryan saat pria itu telah selesai mengganti bajunya.
__ADS_1
"Hus, enak saja menantu kesayangan Mom di bilang asisten, " jawab Mita yang menimpali becandaan sang anak.
"Wah ada anak Dad datang," ujar Jonathan yang baru keluar dari ruang kerjanya.
Pria paruh baya itu segera menghampiri Natasha yang sedang membantu Mita menata makanan di meja makan, tanpa rasa canggung Jonathan langsung memeluk tubuh Natasha.
"Apa kabar sayang?" tanya Jonathan saat melepas pelukannya. "Seperti yang Dad lihat," bukan Natasha yang menjawab melainkan Bryan.
"Ceh posesif sekali kamu," ejek Jonathan saat melihat wajah cemburu dari anak semata wayangnya.
Natasha hanya tersenyum melihat kelakuan kedua pria di depannya, "Aku lanjut bantu Mom ya," pamit Natasha yang kembali ke dapur untuk membantu Mita.
"Dad," panggil Bryan saat melihat sang ayah fokus dengan benda pipih di tangannya.
Jonathan meletakkan ponsel miliknya saat terlihat wajah serius sang anak, "Ada apa?" tanyanya.
Bryan menghela napasnya terlebih dahulu, pria itu bingung harus bercerita dari mana.
"Natasha anak Om Raihan," ucapan Bryan membuat Jonathan terkejut.
"Kamu serius Bryan? Kamu tidak sedang becandakan?" tanya Jonathan yang sebenarnya percaya jika Natasha adalah putri dari sahabatnya itu.
"Aku sudah membantunya untuk mendapatkan semua saham perusahaan xxx, Dad pasti tahu kan siapa pemilik perusahaan itu?" tutur Bryan yang membuat Jonathan sedikit mengerutkan keningnya.
Di saat Bryan akan menjelaskan kepada sang ayah, terdengar suara Natasha yang memanggil mereka untuk menyantap makan siangnya.
"Nanti akan aku ceritakan, sekarang lebih baik kita datangi mereka dahulu," usul Bryan yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari sang ayah.
Mereka mulai menyantap makan siangnya tanpa ada percakapan, setelah selesai barulah Jonathan membuka suaranya.
"Sya, boleh Dad bertanya sesuatu?" Jonathan bertanya sedikit berhati-hati, pria paruh baya itu takut akan menyinggung perasaannya.
"Mau bertanya apa Dad?" Natasha sedikit bingung karena melihat wajah Jonathan yang sedikit serius, itu membuatnya jadi bertanya-tanya apa yang akan di tanyakan.
__ADS_1
Jonathan mengajak mereka untuk duduk di sofa sambil meminum teh yang di buatkan oleh asisten rumah, "Dad mau bertanya apa?" tanya Natasha yang masih penasaran dengan apa yang ingin di tanyakan oleh pria paruh baya di depannya.