
Jonathan menarik napasnya terlebih dahulu, dia siap atau tidak siap harus tahu yang sebenarnya. Jonathan menyuruh Natasha untuk duduk di sebelahnya, "Ada yang ingin Dad tanyakan kepadamu dan kamu jawab dengan jujur," ucap Jonathan.
Natasha menganggukkan kepalanya, "Aku akan menjawab apa yang Dad tanyakan," jawab wanita itu dengan penuh penasaran.
"Apa benar kamu anaknya Raihan Sya?" tanya Jonathan, Natasha mengerutkan keningnya.
"Dad tahu tentang Papahku?" tanya Natasha heran, wanita itu tidak tahu jika Jonathan dan Raihan adalah sahabat yang sangat dekat.
Jonathan sedikit terkejut saat mendengar pernyataan Natasha, "Jadi benar kamu anaknya Raihan?" ucap Jonathan yang tidak dapat menyembunyikan perasaannya saat ini.
Natasha menganggukkan kepalanya, "Iya Papahku bernama Raihan," Jonathan langsung memeluk tubuh Natasha dengan erat.
"Akhirnya aku bertemu dengan anakmu Rai," ucap Jonathan yang masih memeluk Natasha.
Pria paruh baya itu melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah wanita cantik di depannya, "Sudah lama Dad mencarimu," ujarnya dengan air mata bahagia yang tidak dapat di bendung lagi.
Natasha sedikit bingung dengan ucapan dari ayah sang kekasih, "Maksud Dad apa?" tanya Natasha dengan wajah bingungnya.
Jonathan segera menghapus air matanya, "Ayo ikut Dad," Jonathan bangun dari duduknya dan mengajak Natasha menuju ruang kerja miliknya.
Natasha yang masih sedikit bingung dengan sikap Jonathan mengalihkan pandangan ke arah Bryan, pria itu menganggukkan kepalanya agar Natasha ikut bersama dengan sang ayah.
"Aku ikut Dad dahulu ya Mom," Bryan segera mengikuti kedua orang di depannya.
Natasha memberhentikan langkahnya saat berada di depan sebuah ruangan yang terbuka pintunya, "Ayo masuk." Bryan mengajak Natasha untuk masuk ke dalam ruangan sang ayah, dengan perasaan gugup Natasha mengikuti Bryan yang terus memegang tangannya.
"Duduk dahulu, Dad akan memberikan sesuatu untukmu," ucap Jonathan berjalan menuju meja kerjanya.
Dia membuka sebuah laci yang berada di meja itu, dan dengan perlahan pria itu mengeluarkan sebuah buku album yang membuatnya selalu menangis saat melihatnya.
Jonathan berjalan menghampiri Natasha dan Bryan yang sedang duduk di sofa, "Kamu lihat ini." Jonathan memberikan album yang di pegangnya.
__ADS_1
Dengan perlahan Natasha membuka lembaran album itu satu persatu, hingga tanpa terasa dia meneteskan air matanya kala mengenali wajah yang berada di dalam album itu.
"Papah," ucap Natasha sambil mengusap photo sang ayah.
Wanita itu sangat merindukan sosok kedua orang tuanya, apalagi di saat seperti ini. Natasha sangat membutuhkan dukungan serta semangat dari orang tersayangnya, beruntung saat ini dirinya memiliki Bryan yang dengan setia menemani dalam keadaan apapun.
Natasha mengusap kedua matanya yang basah, "Dad darimana dapat photo ini?" tanyanya sambil menunjukkan sebuah photo di mana sang ayah masih berseragam sekolah menengah pertama.
Natasha sangat mengenali wajah sang ayah karena di rumahnya terdapat beberapa photo Raihan ketika masih kecil.
Jonathan menghela napasnya perlahan, "Dad dan Papahmu adalah sahabat dari kita sama-sama sekolah dasar hingga kuliah," Jonathan sedikit menjeda ceritanya tentang sang sahabat.
"Semuanya berubah dari lima tahun lalu," bayangan saat pertama kali Jonathan bertemu dengan Raihan muncul di perusahaan miliknya.
Raihan yang kala itu sedang merintis perusahaan kecilnya, datang ke perusahaan Jonathan untuk menawarkan kerja sama kepadanya.
"Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretaris Jonathan saat melihat Raihan berdiri di depannya.
"Apa Bapak sudah membuat janji dengan Beliau?" sang sekretaris kembali bertanya, Raihan menggelengkan kepalanya.
"Saya belum buat janji, tolong sampaikan saya ingin bertemu," Raihan meminta tolong kepada sekretaris Jonathan untuk menghubungi pria itu.
Tidak berselang lama, sang sekretaris memperbolehkan Raihan untuk masuk setelah bertanya langsung kepada bosnya itu.
"Hay Rai apa kabar?" tanya Jonathan ketika Raihan masuk ke dalam ruangan miliknya.
"Apa yang membuatmu langsung datang ketempatku?" sambung Jonathan.
Pria itu tahu apa yang sedang di alami oleh sahabatnya sangatlah sulit tetapi, dia tidak ingin membantu jika Sam masih berada di perusahaan milik Raihan.
"Kabarku sedikit tidak baik, dan kamu pasti tahu apa yang membawaku ke sini," ujar Raihan yang langsung duduk di depan Jonathan.
__ADS_1
Jonathan menutup laptop di depannya, pria itu menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Aku selalu tahu apa yang kamu butuhkan tapi bisakah kamu lepaskan Sam karena dia dapat menghancurkan segalanya," pinta Jonathan.
Raihan tahu jika Jonathan dan sang paman adalah rival dalam berbisnis, dia hanya mencoba agar keduanya dapat bekerjasama dengan baik.
"Aku tahu Jo tetapi, apa salahnya jika kita mencoba? Ini usaha yang baru aku rintis dan aku butuh dukunganmu," Raihan terus mencoba membujuk Jonathan agar mau membantunya.
Jonathan sedikit keras agar Raihan dapat membuka mata dengan tindakan yang sering di lakukan Sam, "Maafkan aku Rai," Jonathan mencoba memberi pengertian kepada sahabat yang telah lama tidak di jumpainya itu.
Raihan menarik nafasnya perlahan, "Terima kasih atas waktumu dan maaf mengganggu," Raihan bangkit dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan Jonathan yang terus memanggil dirinya.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Raihan kembali ke perusahaan miliknya. "Bagaimana keputusannya? Apa Jonathan mau membantumu?" tanya Sam yang langsung masuk ke dalam ruangan Raihan.
Raihan menggelengkan kepalanya, "Tidak. Kita harus bangun sendiri dan yakin pasti bisa," ucap Raihan penuh percaya diri.
Selama itu pula Raihan maupun Jonathan tidak pernah bertemu lagi hingga kejadian naas yang merenggut nyawa Raihan terjadi, "Dia datang setelah sekian lama tidak berjumpa.
Mungkin dia ingin menitipkan kamu dengan Dad," ujar Jonathan yang merasa pertemuan terakhir dirinya dengan Raihan adalah sebuah permintaan.
Natasha tidak dapat menyembunyikan perasaannya saat ini, dia menangis tersedu-sedu saat mengingat betapa sang ayah menjaga identitasnya dari kecil.
Bryan menarik Natasha untuk masuk ke dalam pelukannya, pria itu mengusap kepala sang kekasih yang terus menangis di dalam dekapannya.
"Aku janji akan menjagamu dan tidak akan pernah ada yang bisa melukaimu," Bryan berjanji akan menjaga Natasha dari orang-orang yang ingin menyakitinya.
Jonathan dapat melihat ketulusan dari kedua mata sang anak, dia tidak pernah melihat Bryan seperti itu terhadap perempuan di dekatnya termasuk Raisa.
"Kamu tenang saja, Dad percaya kalau Bryan dapat menjaga kamu dengan baik," Jonathan menepuk pundak sang anak. "Itu pasti Dad," jawab Bryan.
Natasha melepaskan pelukannya, "Terima kasih Dad. Papah pasti bahagia karena aku sudah bertemu dengan sahabatnya," ucap Natasha.
__ADS_1
Gadis itu teringat percakapan terakhir dengan sang Papah yang menginginkan agar Natasha mau di jodohkan dengan anak sahabatnya, "Andai Papah ada di sini pasti dia akan sangat bahagia," lirih Natasha sambil menatap photo sang Papah yang berada di layar ponsel miliknya.