CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
TERUNGKAP 1


__ADS_3

Bryan tiba di salah satu restoran ternama bersama dengan Cintya, gadis itu dengan manja mengajak sang untuk makan siang bersama. Bryan awalnya tidak ingin pergi kemanapun, namun dia berpikir kembali jika ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.


"Mau pesan apa?" tanya Bryan sambil membulak-balik buku menu di depannya. Tidak ada satupun menu yang membuatnya berselera, namun dia harus menutupi semuanya terlebih dahulu.


Rasa di dalam hati Bryan sudah berkecambuk, dia ingin mengungkapkan semua tentang gadis yang selama ini dipercaya untuk menjaga hatinya. Rasanya semua pengorbanan yang Bryan berikan sia-sia, entah apa yang membuatnya gelap mata hingga tidak dapat melihat kasih sayang tulus yang dia berikan.


"Ada yang ingin aku katakan," ucap mereka bersamaan.


Cintya tertawa, namun tidak dengan Bryan. Pria itu dengan dingin tidak menanggapi ucapan gadis di depannya, rasa muak dan benci sudah mengisi hatinya saat ini.


"Kamu duluan saja," perintah Bryan. Dia kembali memasukkan makanan miliknya yang sudah tersedia di meja, dengan malu-malu Cintya mengungkapkan isi hatinya dan bertanya kapan dirinya akan menemui kedua orang tua Cintya.


Bryan belum ingin menjawab, namun senyuman licik terukir di wajah tampannya. Awalnya dia ingin membongkar semua rencana Cintya, namun saat gadis itu bertanya akan keseriusan dan meminta bertemu dengan orang tuanya Bryan menjadi memiliki ide lain.


"Nanti aku cari waktunya, karena beberapa hari ini kerjaan di kantor sedang menumpuk," bohong Bryan. Dia ingin merencanakan sesuatu, sambil memakan makan siangnya Bryan mulai mengatur rencana.


Jam istirahat telah selesai Bryan kembali di sibukkan dengan beberapa dokumen yang harus di tanda tanganinya, tidak butuh waktu lama semua pekerjaannya selesai. Pria itu ingin pergi ke mall terlebih dahulu, dia mencari barang untuk melancarkan idenya.


Beberapa barang telah dia dapatkan, namun saat akan keluar dari mall itu Bryan tidak sengaja menabrak seorang gadis hingga terjatuh. Saat Bryan ingin membantu dirinya, gadis itu langsung bangun dan berlari. Entah apa yang membuatnya terburu-buru, namun Bryan tidak memperdulikan dan berlalu pergi.


Bryan tidak memperdulikan gadis itu yang hanya ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana dia menjalankan rencananya dengan sangat baik, dia sudah tidak sabar untuk membuka topeng sang kekasih.


Hari yang di tunggu Bryan tiba, pria itu sedang merapikan pakaiannya di depan cermin. Dia juga memerhatikan kotak kecil yang sudah dirinya persiapkan, "Cukup sampai di sini," ucapnya lalu berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Jonathan yang sedang duduk sedikit bingung saat melihat Bryan, karena tidak biasanya sang anak berpakaian rapih jika sudah malam dan dia juga tidak mungkin menerima tawaran pekerjaan jika langit sudah menggelap.


"Mau kemana kamu?" tanya Mita yang datang membawakan secangkir teh hangat untuk suami tercinta.


Bryan menghampiri sang ibu dan duduk di sebelahnya, kedua tangan Bryan memeluk tubuh ibundanya.


"Doakan aku Mom, semoga rencanaku lancar." Bryan mengecup pipi sang ibu dengan lembut, Mita mengelus kepala sang anak dengan sayang.


"Doa Mom selalu menyertaimu nak, tapi kamu tidak sedang terlibat masalah kan?" tanya Mita curiga, sebab tidak, biasanya Bryan meminta restu kepadanya.


Jonathan tersenyum saat mendengar perkataan Bryan, dia tahu apa yang akan di lakukan oleh sang anak. Pria paruh baya itu diam-diam menaruh beberapa mata untuk mengetahui gerakan sang anak, namun dia tidak tahu jika Bryan akan melakukan aksinya hari ini.


"Kamu tidak meminta doa kepadaku?" tanya Jonathan. Dia berpura-pura memasang wajah sedih hingga Bryan datang menghampiri, pria itu membisikan sesuatu di telinga sang ayah.


Mita yang melihat sedikit tersenyum, dia jarang melihat kedekatan keduanya. Mereka sama-sama terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak memiliki waktu untuk berkumpul bersama,namun itu tidak mengurangi rasa sayang yang ada.


"Jadi gitu Mom tidak di ajak, kalian selalu saja asik berdua sedangkan Mom ...." Mita berpura-pura merajuk agar kedua lelaki tersayang datang menghampiri dan memeluknya erat.


"Ini urusan pria Mom, jadi maafkan aku kalau wanita di larang ikut campur," goda Bryan.


Jonathan menepuk pundak Bryan, "Cepat selesaikan dan Dad berharap kamu akan mau dengan penawaran Dad setelah ini," ujar Jonathan.


Bryan langsung bergegas pergi meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung, dia tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti rumah beserta isinya. Anak buah Jonathan maupun Bryan mulai mengikuti dari belakang, mereka tidak ingin sampai terjadi sesuatu terhadap bosnya.

__ADS_1


Mereka juga tahu siapa yang sedang mereka hadapi, salah satu manusia paling terkenal licik dan jahat. Sam adalah pria yang sangat menakutkan bagi mereka yang lemah, tidak untuk Jonathan dan Bryan. Baginya Sam hanyalah kutu yang harus di basmi keberadaan, itulah sebabnya dia rela mengorbankan cintanya daripada keutuhan keluarganya.


Saat mobil milik Bryan masuk ke dalam halaman rumah Sam yang sangat luas, Cintya sudah menunggunya di depan pintu dengan tampilan yang sangat cantik dan menawan.


"Jika kamu dan ayahmu tidak berbuat jahat, mungkin aku akan memikirkan untuk memberi sepenuhnya hatiku," ujar Bryan sebelum keluar dari mobilnya.


Cintya datang menghampiri Bryan ketika pria itu keluar dari mobil miliknya, dia menyerahkan buket bunga mawar untuk sang kekasih. Dengan senang hati Cintya menerima bunga pemberian Bryan, dan segera mengajak untuk masuk kedalam.


Gadis cantik itu terus menggelayut di lengan Bryan, sedikit risih mengingat tujuannya datang kerumah besar yang di huni oleh musuh sang ayah. Bryan memang baru tahu beberapa hari terakhir, sebab jika bertanya kepada ayahnya hanya penasaran yang di dapat.


Bryan mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga milik Cintya, sambil menunggu sang punya rumah turun dari kamarnya yang berada di lantai atas. Sam turun tidak lama setelah sang istri memanggilnya jika calon menantu sudah tiba, dengan senyum licik Sam menuruni tangga dan menghampiri di mana Bryan berada.


"Sayang, kenapa Bryan tidak di ajak ke ruang makan?" tanya Sam yang datang menghampiri mereka berdua.


Cintya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Nunggu Papi dahulu."


Cintya mengajak Bryan ke ruang makan mengikuti sang ayah yang sudah berjalan lebih dahulu, namun saat langkahnya hampir tiba Bryan meminta izin untuk ke toilet terlebih dahulu. Cintya mengiyakan dan menunggu sang kekasih di ruang makan, "Kamu harus bisa Bryan," ucapnya saat menghadap cermin yang berada di dalam sana.


Bryan sedikit gugup, sebab ini adalah pertama kalinya dia berbuat seperti itu. Dengan sedikit percaya diri yang dia punya, Bryan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Selama ini sang ayah selalu berada di belakangnya, namun untuk saat ini dia menginginkan berdiri sendiri tanpa bantuan Jonathan.


Holla guys pasti bingung ya sama cerita aku? Aku buat cerita ini tuh alurnya maju mundur cantik bagai syahroniπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


soalnya kalau alur maju terus takut nabrak, berbeda di karya pertama yang alurnya maju dan rada datar kayak hati🀧🀧🀧🀧🀧

__ADS_1


sebentar ini kok jadi curhat ya, maaf curcol dikit. Nikmati alur yang ada dan dukung terus ceritaku ya, salam sayang dari aku buat semuanya πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2