
Natasha menunggu Bryan di dalam ruangan miliknya sambil memeriksa beberapa berkas di meja kerjanya, jam sudah menunjukkan pukul lima sore namun pria itu belum menunjukkan batang hidungnya.
Dengan cekatan gadis itu mengambil benda pipih di dalam tasnya, mencoba menelepon untuk menanyakan keberadaan sang kekasih. Belum sempat panggilan tersambung, Bryan muncul dari balik pintu yang setengah tertutup.
"Kamu menungguku?" tanya Bryan dengan percaya diri menghampiri Natasha yang masih setia dengan kursi kebesarannya.
Natasha menopang dagunya dengan kedua tangan, sambil terus memperhatikan Bryan yang berjalan ke arahnya.
"Aku sedang menunggu pangeran yang datang menjemput dengan kuda putihnya," jawab Natasha meledek sang kekasih.
Bryan bergaya layaknya seorang pangeran yang sedang menjemput permaisuri, pria itu berlutut di depan Natasha yang sudah lebih dahulu memutar kursi agar dapat menghadap ke arah Bryan.
"Mari tuan putri, hamba datang untuk menjemput anda." Bryan memberikan telapak tangannya supaya di genggam gadis di depannya, dengan wajah malu Natasha menerima uluran tangan pujaan hatinya.
"Sudah-sudah aku tidak tahan lagi," ucap Natasha yang langsung tertawa terbahak-bahak.
Bryan memperhatikan wajah cantik gadis di hadapannya, pantas saja sang ayah selalu mencari keberadaan Natasha untuk di jodohkan dengannya.
"Yuk nanti Mom menunggu," ajak Bryan yang membuat Natasha bangun dari kursinya.
__ADS_1
Natasha menyambar tas yang ada di hadapannya dan berlalu meninggalkan ruangan kerja miliknya, berjalan berdampingan menuju lift hingga tanpa terasa mereka sudah tiba di lantai bawah. Perusahaan itu sudah sepi hanya tinggal beberapa karyawan yang sedang lembur, dan satpam yang selalu bergantian menjaga keamanan kantor.
"Beli sesuatu dahulu tidak?" tanya Natasha saat masuk kedalam mobil milik Bryan.
"Tidak usah, Mom tadi pesan langsung kesana saja," jawab Bryan.
Pria itu langsung menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran kantor Natasha, Bryan mengemudikan mobil dengan santai sebab sudah menunjukkan jam pulang kantor. Jalanan yang awalnya sepi menjadi sedikit ramai saat jam pulang kantor tiba, ditengah keheningan Bryan menanyakan tentang konsep pernikahan mereka nanti kepada gadis di sebelahnya.
"Saat upacara pernikahan nanti kamu mau seperti apa?" tanya Bryan saat mobil yang di kendarainya telah berada di tengah jalan.
Natasha berpikir sejenak sebab dia hanya menginginkan sebuah pernikahan yang tidak terlalu mewah, dia tidak ingin merasa larut dalam kesedihan saat acara pernikahannya nanti.
Bryan yang mendengar suara Natasha berbeda segera mengalihkan pandangannya, terlihat wajah sedih Natasha yang membuat Bryan langsung menggenggam tangan sang kekasih.
"Kamu kenapa?" tanya Bryan dengan lembut.
"Aku hanya jadi teringat kedua orang tuaku, mereka tidak akan melihat anaknya menikah dan bahagia." air mata yang Natasha coba bendung tidak dapat tertahan lagi, dengan perlahan air mata itu turun dengan sendirinya.
Bryan mencoba meyakinkan Natasha bahwa kedua orang tuanya akan menyaksikan hari bahagia sang anak dari alam sana, dia juga berjanji akan menjaga hati dan raga gadis di sebelahnya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu sedih, ada aku di sini dan kedua orang tuaku juga akan menjadi orang tuamu juga." Bryan mengusap kepala Natasha pelan.
Natasha sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di hidupnya hanya saja rasa rindu terkadang selalu datang tiba-tiba, apalagi sebentar lagi dirinya akan memulai hidup baru dengan seorang pria yang di cintainya.
Mobil milik Bryan telah sampai, dengan segera pria itu langsung bergegas membukakan pintu untuk sang kekasih. Mita dan Jonathan sangat bahagia saat mengetahui calon menantunya sudah tiba, dengan lembut Mita menarik Natasha untuk duduk di sebelahnya.
"Bryan tidak macam-macam sama kamu kan sayang?" tanya Mita curiga saat melihat wajah Natasha yang sedikit murung saat datang.
Bryan yang merasa di curigai oleh sang ibunda mencebikkan bibirnya, dia segera menepis tudingan Mita.
"Aku tidak ngapa-ngapain ya Mom," ujar Bryan yang langsung menggeser tempat duduk sang ibu.
Mita bangkit dari kursinya dan bergegas menuju dapur, dia ingin menyiapkan makan malam yang memang sudah dirinya persiapkan. Natasha yang merasa tidak enak segera bangun dan menyusul Mita, Bryan menghela nafas saat melihat wanitanya pergi menyusul sang ibu.
"Sini Mom aku bantu," Natasha mengambil alih beberapa piring yang akan di bawa Mita.
Terlihat percakapan antara Mita dan Natasha yang membuat Jonathan bernafas lega, pria paruh baya itu bersyukur karena kedekatan dua orang kesayangannya.
Maaf cuma bisa update sedikit karena lagi banyak urusan dan tugas, semoga bisa cepet selesai ya dan bisa intens kasih cerita buat kalian. Jangan lupa like, komen dan ratenya ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1