CINTA CEO TAMPAN

CINTA CEO TAMPAN
MASA LALU


__ADS_3

Bryan yang sudah rapih bergegas turun menuju ruang makan, dia berpura-pura tidak mendengar percakapan Natasha dan Mia. Bryan segera mengambil benda pipih yang berada dikantongnya, "Cari tahu semua informasi tentang Natasha, saya tidak ingin ada yang terlewat sedikitpun," Bryan menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Natasha.


Bryan segera mematikan panggilannya ketika melihat Natasha dan Mia menuju tempatnya berada, "Kamu sudah di sini?" tanya Natasha terkejut saat melihat Bryan sudah menunggunya di sana.


"Aku sudah menunggumu, sampai kapan kita menunda sarapannya? Aku sudah lapar," ucap Bryan sambil memegang perutnya.


Natasha dan Mia hanya tertawa melihat tingkah laku bosnya itu, "Loh siapa yang memasak?" tanya Rina yang baru saja masuk kedalam dapur.


Dia terkejut saat melihat meja makan yang sudah terisi dengan makanan untuk mereka sarapan, "Natasha dan Pak Bryan yang memasak Bu," ucap Mia sambil menggelayut manja di bahu Rina.


"Ya ampun nak, kenapa kalian harus repot-repot membuat sarapan? Kalian itu tamu, sudah seharusnya kami tuan rumah yang menjamu kalian," ucap Rina yang merasa tidak enak dengan Natasha.


Dia banyak mendengar tentang kebaikan yang di berikan Natasha kepada Mia, Natasha berjalan menghampiri Rina yang masih merasa tidak enak denganya.


"Jangan sungkan Bu, ini semua sebagai ucapan terima kasih dari saya karena sudah di ijinkan untuk berlibur dan menginap di sini," ujar Natasha.


Rina merasa terharu dengan ucapan Natasha, benar apa yang dikatakan Mia tentangnya. "Bisakah kita makan? Aku sungguh lapar," ucap Bryan memecah keheningan yang sempat terjadi.


Rina tidak dapat menahan tawanya, "Silakan makan duluan, Ibu mau bersih-bersih sekalian mau buatkan Bapak bubur dulu," pamit Rina meninggalkan mereka bertiga.


Bryan langsung mengambil makanan yang ada di hadapannya, tanpa sungkan dia langsung menyantap makanan tersebut.


"Mia, setelah sarapan kita bawa Bapakmu ke dokter," usul Natasha di tengah-tengah acara sarapannya.


Mia yang sedang menyantap sarapannya berhenti sejenak dan menatap tajam ke arah Natasha, "Tidak usah repot-repot Sya, nanti biar aku dan Ibu saja yang bawa," ucap Mia yang menatap dalam sarapan di depannya.


Mia sadar, dia tidak akan pernah bisa menang jika menyangkut kepentingan keluarganya. Karena bagi Natasha, Mia adalah keluarga satu-satunya yang dia miliki.

__ADS_1


Setelah sarapan selesai Mia membantu Natasha untuk merapikan piring-piring yang berserakan, "Jangan lupa ayahmu harus kita bawa ke dokter dahulu," ucap Natasha yang bergegas pergi untuk mengganti bajunya terlebih dahulu.


Mia pergi ke kamar sang ayah untuk membicarakan ajakan Natasha dengan ibunya, "Bu," panggil Mia setelah masuk ke dalam kamar sang ayah.


Rina yang sedang menyuapkan sarapan sang suami menatap ke arahnya, "Ada apa Mia?" tanyanya tanpa melihat ke arah sang anak.


Mia terlihat gugup, dia bingung bagaimana cara menyampaikan pesan Natasha. Rina yang sudah selesai memberikan sarapan menatap Mia dengan penuh tanya, "Kamu mau bilang apa Mia?" tanya Rina sekali lagi.


"Anu Bu, hmmm," ucap Mia yang masih gugup.


Dia tahu pasti sang ibu akan menolak ajakan Natasha akan tetapi, dia juga tidak bisa menolak permintaan Natasha.


"Anu apa Mia? Kalau bicara yang jelas jangan buat ibu bingung," ucap Rina sedikit kesal.


Mia menundukkan kepalanya, "Natasha mengajak untuk membawa ayah berobat dan sekarang dia sedang siap-siap," ujar Mia takut.


Rina menghela napasnya, "Ya sudah kamu sekarang juga siap-siap, kita bawa Bapak ke dokter," ucap Rina yang membuat Mia terkejut.


"Kita juga tidak bisa menolak niat baik seseorang bukan? Tidak ada salahnya jika kita menerimanya, toh ini semua rezeki dari Tuhan yang di berikan untuk keluarga kita lewat Natasha," papar Rina.


Mia sedikit terharu dengan ucapan sang ibu, Mia jadi teringat dengan sosok ibunya yang seperti Rina.


Itulah sebabnya Mia sangat menyayangi Rina seperti dia menyayangi ibu kandungnya, "Doakan selalu ibumu, semoga mereka bahagia di surganya," sambung Rina yang paham dengan perubahan wajah anak angkatnya itu.


Mia akan selalu sedih bila mengingat sosok kedua orang tuanya, apalagi Mia sangat dekat dengan sang ibu hingga sempat tidak mau menerima kenyataan jika sang ibu sudah menghadap Tuhan.


"Sudah siap semua?" tanya Natasha saat melihat Mia sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya, Mia menoleh ke arah suara Natasha berada.

__ADS_1


"Ibu sedang membantu ayah ganti baju Sya, kamu sendiri sudah siap Sya?" tanya Mia yang melihat baju Natasha masih sama dengan saat pagi tadi.


"Memang ada yang salah dengan bajuku?" tanya Natasha sambil melihat baju yang di kenakannya, Bryan yang sudah selesai bersiap segera menghampiri Natasha.


"Kamu pakai baju apapun tetap cantik," puji Bryan membuat wajah Natasha memerah seketika.


"Apa sih, malu tahu di lihat sama Mia dan ibunya," ucap Natasha sambil memukul lengan Bryan pelan.


Bryan terkekeh melihat wajah Natasha yang memerah, tidak berselang lama Rina dan Joni keluar dari kamarnya.


"Yuk kita berangkat," ajak Natasha saat melihat Rina dan Joni yang sudah rapih.


Bryan berjalan lebih dahulu untuk memarkirkan mobil miliknya, Mia membantu Rina untuk memapah tubuh Joni yang masih terasa lemas. Natasha berjalan mendahului mereka bertiga, dia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk mereka bertiga.


"Ke rumah sakit xxv saja ya Bryan, kamu tahukan?" tanya Natasha.


Bryan mengambil benda pipih miliknya, dia mencari rumah sakit yang tidak jauh dari tempat merek berada. "Rumah sakit zzz saja, lebih dekat dari sini," usul Bryan yang di setujui oleh Rina dan juga Mia.


"Aku sudah menghubungi dokter di rumah sakit xxv, lagipula aku lebih percaya di sana daripada rumah sakit lain," ujar Natasha. Mereka tidak ada yang tahu jika pemilik rumah sakit xxv adalah Natasha, Bryan mengerutkan keningnya.


"Kamu kenal dokter di rumah sakit xxv?" tanya Bryan.


Setahu dirinya rumah sakit xxv adalah rumah sakit terbaik dan terlengkap yang ada, tanpa ragu Natasha menganggukkan kepalanya, "Sudah ayo berangkat, nanti keburu pulang dokternya," perintah Natasha agar Bryan segera melajukan mobil miliknya. Bryan mulai melajukan mobil miliknya, mereka berangkat menuju rumah sakit pilihan Natasha.


Rina yang duduk di belakang bersama dengan Mia dan Joni sedikit tidak nyaman, bagaimana mungkin Natasha mau membawa sang suami berobat ke rumah sakit terbaik yang ada.


Mia memperhatikan wajah sang ibu yang merasa keberatan dengan usul Natasha, "Ada apa Bu?" tanyanya.

__ADS_1


"Ibu merasa tidak enak dengan Natasha, itu kan rumah sakit lumayan mahal Mia. Ibu uang darimana?" bisik Rina yang pasrah jika harus menghabiskan seluruh tabungannya untuk membawa sang suami berobat ke rumah sakit.


Mia tersenyum dengan ucapan sang ibu, "Ibu tenang saja, serahkan semuanya kepada yang kuasa dan percaya Natasha tidak akan seperti itu," ucap Mia menenangkan perasaan Rina. Hingga tanpa mereka sadari, mereka sudah tiba di rumah sakit yang ditujunya.


__ADS_2