
"Dia adalah pemilik asli perusahaan ini dan saya mohon kalian untuk menyembunyikan rahasia ini dari siapapun, karena Bu Natasha tidak ingin ada yang tahu siapa sebenarnya dia," jelas Raka yang membuat kedua wanita didepannya sedikit terkejut saat mendengarnya.
"Jadi perusahaan ini bukan milik Pak Sam?" tanya Nay yang akhirnya membuka suara setelah pikirannya sedikit menerka siapa wanita tadi.
Tidak berselang lama Natasha kembali masuk kedalam ruangannya, "Ayo masuk," ajak Natasha saat melihat Bryan masih berdiri di depan ruangan miliknya.
Dengan perlahan Bryan masuk kedalam ruangan yang luasnya hampir sama dengan ruangan miliknya, Bryan menatap ruangan itu dengan seksama hingga kedua matanya melihat dua orang wanita yang sedang duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf membuat kalian menunggu lama," ucap Natasha yang merasa tidak enak kepada kedua karyawannya.
Bryan yang menyusul Natasha minta di jemput oleh wanita itu sehingga mau tidak mau dia harus meninggalkan mereka semua, "Raka tolong ambilkan minuman untuk mereka," sambung Natasha yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari sang asisten.
Bryan ikut duduk di sofa yang berada di sebelah Natasha, dengan sambil terus meminta kabar kepada anak buahnya untuk terus memantau penjualan saham milik Sam. Natasha tidak tahu jika Bryan ikut membantunya, yang berada di pikiran Natasha saat ini adalah bagaimana perusahaan sang Papah bisa kembali seperti semula.
"Boleh saya lihat laporan itu?" tanya Natasha, Reni dan Nay memberikan map yang berisikan laporan tentang penjualan serta pengeluaran perusahaan.
Natasha melihat banyak kejanggalan tentang laporan yang di berikan Sam kepada Raka beberapa hari yang lalu, Raka yang sudah kembali dengan beberapa minuman kaleng di tangannya.
"Jawab saja apa yang kamu ketahui, Bu Natasha akan sangat mengerti jika terjadi masalah di perusahaan ini," ucap Raka yang membuat Natasha melihat kearahnya.
Dengan sedikit perasaan takut Reni menceritakan apa yang sebenernya terjadi, "Beberapa hari lalu Pak Sam meminta laporan keuangan perusahaan empat bulan lalu, karena saya berpikir jika Pak Sam adalah pemilik perusahaan ini jadi saya memberikan tanpa meminta pendapat dari Pak Raka. Maafkan saya Pak, Bu," ucap Reni yang merasa bersalah karena telah terhasut dengan ucapan Sam.
"Untuk apa dia meminta laporan keuangan?" tanya Bryan menyelidik, Reni mencoba menelan ludahnya secara paksa.
"Saya tidak tahu untuk apa, dia hanya bilang kalau laporan yang diberikan oleh Pak Raka tidak sengaja terbuang padahal dia belum sempat memeriksanya," jelas Reni tanpa terlihat berbohong sedikitpun.
__ADS_1
Natasha yang mendengar penjelasan Reni terdiam sejenak, dia memikirkan langkah apa yang akan di ambilnya saat ini.
"Saya tahu siapa Sam, dan saya percaya dengan kalian karena selama ini kalian berdua tidak pernah mendapat peringatan dari perusahaan ini. Lagi pula saya selalu memantau pekerjaan kalian melalui CCTV yang terdapat di seluruh ruangan," ujar Natasha yang membuat Reni dapat bernapas lega.
"Lalu kenapa Sam bisa bilang jika terjadi penurunan penjualan beberapa bulan terakhir yang mengakibatkan dia menjual seluruh saham miliknya?" tanya Bryan membuat Natasha terkejut sebab pria itu tahu tentang semua yang sedang terjadi dengan perusahaan miliknya.
"Tunggu, kamu tahu darimana semua informasi penting itu?" Natasha menatap wajah Bryan dengan banyak pertanyaan terlebih mereka baru satu kali berkunjung ke sana.
"Aku tahu semua rencana busuk Sam dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi sayang," jawab Bryan sambil menatap kedua mata Natasha.
Raka merasa lega karena ternyata bukan hanya dia yang berusaha menjaga Natasha dan perusahaan miliknya, Bryan membuyarkan lamunan mereka dengan suaranya.
"Tolong di jawab pertanyaan saya," ucap Bryan yang kembali dingin.
Nay sedikit menundukkan kepalanya saat melihat tatapan Bryan yang seakan bisa memakannya kapan saja, dengan mengeratkan kedua tangannya Nay mulai menceritakan apa yang Sam telah perbuat.
"Dia mengubah semua laporan penjualan yang sedang saya kerjakan," Bryan memotong cerita Nay.
"Tahu darimana kamu jika Sam merubah semua datanya? Apa kalian bekerja sama untuk menjatuhkan perusahaan ini?" tuduh Bryan yang membuat Nay menatapnya tajam.
"Demi Tuhan tidak ada niat sedikitpun untuk membuat perusahaan ini hancur, saya nyaman bekerja di sini dan asal Bapak tahu tidak ada sedikitpun niat saya untuk menjatuhkan perusahaan yang memberikan saya pekerjaan layak sampai sekarang," Nay sedikit tersinggung dengan ucapan Bryan.
Pria itu dengan santainya menunggu kelanjutan pembelaan dari gadis itu, karena sebenarnya Bryan sedang menguji seberapa besar kinerja mereka di perusahaan Natasha. Nay mencoba menahan emosinya, dia melanjutkan ceritanya.
"Saat kembali dari toilet, saya tidak sengaja melihat Pak Sam sedang duduk di bangku saya. Dia terlihat serius hingga tidak menyadari jika saya sedang mengintipnya dari balik tembok sampai dia menyelesaikan semuanya dan berlalu meninggalkan ruangan saya," sambung Nay.
__ADS_1
Natasha menyenderkan badannya di sofa, mencoba untuk memejamkan matanya. Terlintas semua kenangan saat sang Papah berjuang sekuat tenaga membangun perusahaan itu, "Kenapa harus seperti ini," lirih Natasha yang terdengar oleh Bryan.
Pria itu menggenggam tangan sang kekasih yang duduk disebelahnya, "Aku akan berusaha membantumu untuk mendapatkan hak yang memang milikmu," ucapan Bryan membuat Natasha sedikit merasa bahagia.
Di saat seperti ini Natasha merasa beruntung karena ada Bryan disisinya, "Terima kasih," ucap Natasha tulus.
Bryan menganggukkan kepalanya, "Aku akan selalu ada untukmu," Bryan tanpa malu memeluk tubuh Natasha.
Ponsel milik Bryan berdering hingga harus melepaskan pelukankan untuk mengangkat panggilan itu, tertera nama Tomi di layar ponsel miliknya.
"Ada apa Tom?" tanya Bryan saat mengangkat panggilan Tomi, terbit senyuman lebar ketika Tomi memberi tahu jika rencana mereka berhasil di laksanakan.
Bryan segera mengajak Natasha untuk menemui Tomi yang sudah berada di sana, "Ikut aku dan kalian tunggu di sini sampai kami kembali," perintah Bryan langsung mereka turuti tanpa adanya penolakan.
"Kita mau kemana?" tanya Natasha saat mengetahui jika mereka akan mengarah keruangan milik Sam, wanita itu sedikit tidak percaya diri jika harus membongkar identitasnya saat ini di hadapan Sam.
Bryan mengerti apa yang ada di pikiran Natasha ketika wanita itu berhenti tiba-tiba, "Sam tidak akan tahu siapa kamu. Kita hanya akan mengambil apa yang perlu di ambil," ujar Bryan yang kembali menarik tangan Natasha untuk ikut masuk ke dalam ruangan Sam.
Tomi sudah berdiri di depan ruangan Sam, "Sudah kamu persiapan semuanya?" tanya Bryan sambil membereskan bajunya yang sedikit berantakan.
Tomi menganggukkan kepalanya, "Sudah semua tinggal meminta tanda tangan Beliau," ujar Tomi.
Pria itu langsung mengetuk pintu di depannya, "Permisi Pak," ucap Tomi saat masuk ke dalam ruangan Sam.
"Saya dari perusahaan yang membeli saham milik Bapak," ucap Tomi memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Tidak berselang lama Bryan ikut masuk bersama dengan Natasha, "Kalian," ucap Sam dengan wajah terkejut saat melihat Bryan dan juga Natasha.
Hai semuanya jangan lupa buat like, komen, rate bintang 5 dan vote nya ya jika suka dengan cerita ini. Maaf tidak bisa update setiap hari karena kesibukan yang tidak bisa di tunda karena saya selalu langsung menuangkan ide tanpa outline, jangan pernah bosen ya buat baca karyaku dan jangan lupa mampir di karyaku yang lainnya.