
"Nih minum dahulu," ucap Bryan tiba-tiba sambil memberikan segelas ice coffe kesukaannya.
"Terima kasih," jawab Natasha.
"Bagaimana keadaan Pak Joni Mia?" tanya Bryan setelah mendudukkan dirinya di sebelah Natasha.
Natasha meminum sedikit demi sedikit ice coffe pemberian Bryan, "Semoga bisa lebih tenang," gumam Natasha pelan.
"Ya ampun, kok kamu cuma beli minuman buat aku doang. Buat Mia mana?" tanya Natasha setelah sadar jika sang kekasih hanya membelikan minum untuk dirinya saja.
Bryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Lupa," kekehnya.
Mia tertawa melihat tingkah laku bosnya itu, "Tidak usah repot-repot Sya, nanti aku beli sendiri," ucap Mia yang merasa sedikit tidak enak kepada mereka berdua.
Mia kembali larut dengan pikirannya, "Kamu kenapa Mia?" tanya Natasha saat melihat kekosongan di kedua matanya, Mia tidak merespon pertanyaan Natasha.
"Sudah sayang tidak apa-apa, biarkan Mia berpikir sejenak. Kamu juga jangan banyak terlalu memikirkan semuanya," ucap Bryan.
Natasha yang belum terbiasa mendengar panggilan sayang dari Bryan membuat kedua pipinya meronta, dia merasa sangat di perhatikan setelah mereka berdua sepakat untuk berpacaran terlebih dahulu.
Perhatian yang di berikan Bryan membuat hati Natasha menjadi luluh dan belajar membuka hatinya untuk orang lain, beruntung pria yang bisa mendapatkan hati dari wanita cantik seperti Natasha.
Di saat mereka asik dengan lamunannya masing-masing, pintu ruangan dimana Joni sedang di periksa terbuka.
Itu semua membuat Natasha dan Mia terlonjak kaget, "Bagaimana Bu?" tanya Mia saat wanita paruh baya itu keluar dari ruangan sambil mendorong kursi roda yang di gunakan Joni.
Natasha memegang kedua tangan Bryan, "Aku boleh minta tolong?" tanya Natasha, Bryan menganggukkan kepalanya.
"Tolong bawa yang lain untuk makan dan minum di kantin bawah, nanti aku menyusul," sambung Natasha.
Bryan mengerti akan maksud dari Natasha, "Kita minum-minum dahulu yuk di kantin bawah," ajak Bryan.
Mia melihat wajah Natasha untuk meminta penjelasan padanya, "Nanti aku jelaskan, sekarang aku mohon kalian tunggu di kantin dahulu ya. Ada yang harus aku bicarakan dengan Dokter Hilmi," ujar Natasha yang langsung masuk ke dalam ruangan Dokter Hilmi.
"Dok," panggil Natasha setelah mengetuk pintu ruangan sang Dokter.
Hilmi yang sedang mencatat kesehatan Joni melihat siapa yang masuk kembali ke ruangannya, "Bu Natasha, silakan duduk," ucap Hilmi sopan.
Natasha mendudukkan dirinya di bangku depan Hilmi dengan wajah yang cemberut, "Sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku Bu, memang sudah setua itu kah aku?" ketus Natasha yang langsung mendapatkan gelak tawa dari pria di depannya.
__ADS_1
"Kamu itu kan pemilik rumah sakit ini, mana mungkin aku panggil tidak sopan," kekeh Hilmi yang langsung mendapatkan lemparan pulpen oleh gadis di depannya dengan sigap Hilmi mengambil pulpen itu.
"Santai manis, ada apa kamu kesini?" tanya Hilmi sambil terus menggoda Natasha, Hilmi dan Natasha adalah sahabat sejak mereka duduk di bangku sekolah tingkat pertama.
Hilmi juga tahu tentang semua yang terjadi dengan keluarga wanita cantik di depannya, "Aku mau tanya tentang kesehatan Pak Joni, apa ada yang serius?" tanya Natasha langsung.
Hilmi menarik napasnya, dia perlahan menjelaskan tentang kesehatan Joni.
"Pak Joni menderita penyakit flek paru-paru dan beruntungnya flek yang diderita Pak Joni masih tahap awal, kita akan coba dengan pengobatan dasar dahulu. Jika masih belum ada perubahan baru kita beri pengobatan lanjutan dan tolong ingatkan agar Pak Joni mau konsisten meminum obat agar dia bisa sembuh dari penyakitnya, kamu tahu sendiri Sya flek paru-paru bisa berbahaya jika tidak di tangani dengan segera," Hilmi memberikan hasil rontgen paru-paru milik Joni.
Natasha sedikit bisa bernafas lega setelah mendengar hasil penuturan Hilmi, bagaimanapun dia ingin pengobatan yang terbaik untuk keluarga Mia.
"Lalu apa yang harus kita lakukan agar kesehatannya bisa pulih?" tanya Natasha.
"Berikan dia obat secara teratur dan selama enam bulan ini dia harus rutin meminum obatnya jika ingin sembuh," jelas Hilmi tentang penyakit paru-paru yang di derita Joni.
"Mumpung masih bisa di obati dan sebisa mungkin pasien harus rajin cek up kesehatannya," sambung Hilmi sambil menyenderkan kepalanya di kursi miliknya.
"Nanti akan memberitahukan Mia agar selalu mengingatkan untuk cek kesehatan Pak Joni," ujar Natasha yang membuat Hilmi menautkan kedua alisnya.
"Siapa Mia? Aku baru dengar nama Mia," selidik Hilmi karena setahu dirinya Natasha tidak pernah memiliki sahabat maupun teman yang bernama Mia.
"Hati-hati Sya, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu," Hilmi mencoba mengingatkan sahabatnya agar semua yang telah di lakukannya tidak sia-sia.
"Tenang saja, aku sudah mencari tahu segalanya tentang Mia dan kamu tahu aku tidak sebodoh itu dalam berteman bukan?" ucap Natasha percaya diri.
Bukan karena dirinya tidak percaya kepada Mia akan tetapi, dia hanya tidak ingin semuanya rencananya berantakan.
"Kamu masih ada jadwal hari ini?" sambung Natasha menanyakan jadwal sahabat terbaiknya.
"Ada apa kamu menanyakan jadwalku? Jangan bilang kamu mau minta di antar berkeliling kota ini seperti biasa," ujar Hilmi yang sudah hafal dengan kebiasaan Natasha jika berkunjung ke rumah sakit xxv.
"Aku hanya ingin mengenalkan kamu sama seseorang," jawab Natasha yang membuat Hilmi penasaran.
Hilmi melepas jaket putih miliknya terlebih dahulu, "Ayo," ajak Hilmi langsung menarik pelan tangan Natasha.
Selama perjalanan menuju kantin Natasha dan Hilmi tidak berhenti bercerita mengingat masa-masa saat mereka bersekolah, hingga semua tatapan para karyawan dan suster rumah tersenyum melihatnya.
"Itu Dokter Hilmi cocok ya sama Bu Natasha," ucap salah satu karyawan yang sedang membeli makanan tepat di belakang Bryan.
__ADS_1
Bryan sedikit cemburu saat mendengar bisik-bisik karyawan di belakangnya, mereka semua tidak ada yang tahu jika Natasha adalah miliknya. Kedua mata Bryan menangkap dua orang yang sedang tertawa riang sedang menuju ke meja miliknya, tanpa di sadari rasa cemburu Bryan semakin bertambah.
"Aku ke toilet sebentar," pamit Bryan saat Natasha baru tiba di meja yang mereka tempati.
"Kamu mau kemana?" tanya Natasha sambil memegang tangan Bryan.
Hilmi sedikit terkejut saat melihat Natasha memegang tangan seorang pria, "Sya," panggil Hilmi.
Bryan melihat wajah Natasha dan Hilmi secara bergantian, "Aku bisa jelaskan, kamu ikut aku," ajak Natasha menjauh dari meja yang di duduki Mia.
"Mereka kenapa?" tanya Hilmi, Mia yang sedang memperhatikan kepergian Natasha terlonjak kaget saat sadar Hilmi bertanya kepadanya.
"Pak Dokter silakan duduk," suruh Rina saat keadaan sedikit canggung setelah kepergian Natasha.
Di tempat lain Natasha mengajak Bryan untuk masuk ke ruangan miliknya, dia melupakan tujuan utama mengajak Hilmi pergi ke kantin.
"Kamu kenapa?" tanya Natasha saat mereka berdua duduk di sofa yang berada di ruangan Natasha.
"Aku tidak apa-apa," jawab Bryan sambil memegang pelipisnya.
"Jangan bilang kamu cemburu dengan Hilmi?" tuduh Natasha tepat sasaran, Bryan mengalihkan pandangan menatap wajah Natasha.
Tanpa menunggu persetujuan Natasha, Bryan mulai mendekatkan wajahnya hingga nafas mereka saling bertemu. Bryan menyentuh wajah Natasha dengan jarinya, hingga tanpa Natasha sadari bibir miliknya bertemu dengan bibir milik Bryan.
Ciuman yang awalnya sedikit kasar akibat rasa cemburu kini perlahan menjadi lembut, rasa cemburu di hati Bryan sedikit menghilang saat dirinya merasakan perasaan yang Natasha berikan.
Mereka melepaskan ciumannya, "Kamu mau aku jelaskan atau tidak?" tanya Natasha sambil memeluk tubuh Bryan.
Pria itu menganggukkan kepalanya, "Aku mau tahu ada hubungan apa kamu dengan Dokter itu," rasa cemburu Bryan kembali hadir saat menyebut namanya.
"Jangan cemburu, aku dan Hilmi itu bersahabat sejak masih sekolah menengah tingkat pertama. Dia juga satu-satunya sahabat yang aku miliki sampai saat ini dan dia juga tahu semua tentang keluargaku," ucap Natasha sambil melihat Bryan yang berada di sebelahnya.
Tidak ada kebohongan yang tersirat dikedua mata Natasha, "Jadi jangan cemburu lagi ya," sambung Natasha yang kembali mengeratkan pelukannya.
"Maaf aku sudah salah paham," ucap Bryan saat mendengar penjelasan dari sang kekasih.
"Kita harus kembali ke kantin lagi yuk, tidak enak dengan Mia dan Hilmi," ajak Natasha. Bryan segera bangkit dari duduknya, "Ayo," sahut Bryan.
Mereka kembali menuju kantin untuk meminta maaf atas kesalahan pahaman yang terjadi, Bryan tersenyum saat sedikit demi sedikit mengetahui semuanya tentang Natasha.
__ADS_1