
"Kamu yakin dengan keinginanmu?" tanya Jonathan sambil terus fokus melihat jalanan di depannya.
"Entahlah, ayahku tidak mengizinkannya," ujar Raihan lesu.
Raihan menatap jalanan di sampingnya, perjalanan yang di tempuh lumayan cukup memakan waktu. "Ayo turun," ajak Jonathan ketika mereka tiba di tujuan.
Raihan yang sebenarnya malas mau tidak mau mengikuti sahabatnya menuju ruang kepala sekolah, "Permisi Pak," ucap Jonathan.
Mereka berdua memasuki ruangan untuk meminta izin untuk menjalankan tugas yang di berikan sang dosen, "Ada apa ya?" tanya wanita paruh baya yang menjabat kepala sekolah.
"Saya Jonathan dan ini Raihan," Jonathan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Kami dari universitas terbuka yang di utus untuk mengisi seminar di sekolah ini Bu," sambung Jonathan yang menjelaskan tentang kedatangannya.
"Ah iya saya sudah mendapat kabar dari Pak Ilham kalau kalian yang akan mengisi seminar di sini, mari saya antar ke aula," ajak Ibu kepala sekolah.
Raihan dan Jonathan mengikuti Ibu kepala sekolah menuju ruangan yang akan di gunakan oleh mereka berdua untuk mengadakan seminar, serta memperkenalkan universitas terbuka tempatnya menuntut ilmu.
Bukan mereka tidak mampu bersekolah di universitas ternama akan tetapi, mereka berdua bertekad jika ingin memulai semuanya dari bawah tanpa bantuan kedua orang tuanya. Selepas kuliah mereka membuka cafe yang dirintis bersama, tidak ada sedikit perasaan mengeluh dengan aktivitas yang mereka jalani.
"Ini ruangannya," ujar Ibu kepala sekolah saat membuka sebuah pintu ruangan yang di mana sudah banyak murid menunggu kedatangan mereka.
"Saya tinggal, jika ada apa-apa temui saya di ruangan," sambungnya dan bergegas pergi setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari kedua mahasiswa di depannya.
Raihan dan Jonathan mulai memasuki ruangan, banyak terdengar suara yang memuji ketampanan mereka berdua.
"Selamat pagi semuanya," sapa Jonathan yang memulai acaranya.
"Pagi Kak," jawab para siswa dan siswi yang berada di dalam ruangan itu.
"Okeh, tak kenal maka tak sayang. Tapi jangan coba mengenal karena takut ada rasa sayang," candaan Jonathan mengawali perkenalan mereka berdua, sorak dan tawa dari para siswi perempuan terdengar di dalam ruangan.
__ADS_1
"Kok malah pada ketawa, memang benar kalau kalian kenal dengan kita berdua hati-hati nanti bisa sayang," ujar Jonathan yang masih terus menggoda para siswi di sana.
"Perkenalkan nama saya Jonathan, ingat ya Jonathan. Awas jangan sampai salah, kalian boleh panggil saya Jo. Dan ini di sebelah saya seorang teman yang tidak kalah tampan dari saya namanya Raihan, panggil saja dia Rai," sambung Jonathan.
Raihan menyapa para siswa dan siswi dengan sedikit canggung, mengingat dirinya tidak seperti sang sahabat yang bisa mudah bergaul dengan banyak orang.
"Halo semua, selamat pagi. Nama saya Raihan dan biasa di panggil Rai," sapa Raihan.
Kedua mata Raihan tidak sengaja melihat gadis yang tertabraknya tadi pagi saat menuju kampus, "Benar itu dia," gumam Raihan saat menatap gadis itu.
Martha yang awalnya tidak menyimak dua pemuda di depannya, sedikit terkejut saat melihat Raihan berada di depannya.
"Itu pemuda yang tadi pagi menabrakku," bisik Martha yang duduk di sebelah Ina. Ina menoleh saat mendengar suara Martha yang memberi tahu, "Serius Tha?" tanya Ina yang juga terkejut.
Martha tadi pagi mau tidak mau bercerita tentang luka yang ada di tubuhnya, Ina mendesaknya agar menceritakan apa yang terjadi kepadanya.
Jonathan memulai tugasnya dengan sesekali di selingi oleh candaan, itu semua di lakukan agar mereka tidak terasa jenuh saat mendengarkan. Tanpa terasa waktu yang di berikan untuk Jonathan dan juga Raihan telah selesai, mereka akan kembali lagi besok untuk mengadakan games mengingat waktu yang di berikan hari ini sangat singkat.
"Rai ke kantin dulu yuk, laper dan haus nih," ajak Jonathan.
"Iya Rai tadi pagi kamu kenapa kok agak panik gitu pas sampai kampus?" tanya Jonathan saat mereka tiba di kantin.
Raihan dan Jonathan memilih salah satu bangku yang tersedia di sana, "Nanti aku ceritakan. Sekarang kamu mau pesan apa?" tanya Raihan.
Jonathan menunjuk beberapa stand makanan, "Kamu tidak salah Jo? Banyak sekali?" gerutu Raihan.
Jonathan hanya tertawa mendengarkan Raihan yang terus mengomel sambil berjalan membelikan pesanannya, "Kamu tidak salah Jo makan sebanyak ini?" tanya Raihan membawa beberapa makanan pesanan milik Jonathan.
"Aku lapar Rai ternyata mengurus murid-murid lumayan melelahkan," ujar Jonathan sambil memakan makanan miliknya.
"Ah iya aku lupa, tadi pagi ada apa dengan kamu Rai?" sambung Jonathan. Pemuda itu masih penasaran dengan apa yang terjadi, Raihan menceritakan apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
Pada saat Raihan mengakhiri ceritanya, kedua mata miliknya melihat gadis yang sedang di ceritakan.
"Jo," panggil Raihan sambil mengguncang lengan sahabatnya yang sedang menyantap makanannya.
Jonathan sedikit kesal karena makananan miliknya menjadi terjatuh saat Raihan mengguncang lengannya, "Ada apa sih? Jatuh kan makanan aku," ketus Jonathan yang langsung mengambil makanan lainnya.
"Lihat dulu sini, itu cewek yang tadi pagi sempat aku tabrak," Raihan menunjukkan gadis yang di maksudnya.
Martha sedang memesan makanan untuk makan siangnya, mengingat jika jam istirahat telah tiba. Raihan melihat Martha tanpa berkedip, wajah manis dan cantik gadis itu adalah anugerah yang di berikan oleh Tuhan untuknya.
Di tambah kedua lesung pipi yang menambah nilai tersendiri bagi para pemuda yang melihatnya, banyak yang menyukai Martha akan tetapi, dirinya merasa harus bersekolah lebih utama di bandingkan dengan berpacaran.
"Kamu yakin itu gadis yang tadi sempat kamu tabrak Rai?" tanya Jonathan untuk memastikan apa yang di lihat sahabatnya.
"Iya aku yakin itu dia, lihat saja bajunya sedikit kotor. Tadi saat aku ingin mengantarnya ke rumah sakit kamu menelepon," jawab Raihan yang juga menjelaskan tentang kejadian tadi pagi. "Terus sekarang aku harus bagaimana?" sambung Raihan.
Jonathan terdiam memikirkan apa yang seharusnya di lakukan oleh Raihan, "Ah aku punya ide," ucap Jonathan yang membuat Raihan tersedak saat meminum minumannya.
"Bisa tidak jangan membuat aku kaget," Raihan mengomeli Jonathan karena membuatnya tersedak. "Aku punya ide malah di omeli," gerutu Jonathan.
"Iya kan bisa pelan-pelan, tidak harus membuatku terkejut juga," protes Raihan.
"Maaf, maaf. Aku cuma mau memberikan saran padamu Rai," ujar Jonathan.
"Kamu punya saran apa memang? Jika itu membuatku malu, aku tidak mau," ucap Raihan yang merasakan jika sang sahabat itu memiliki ide jahil untuknya.
"Kamu datangi dia dan meminta maaf saja, mudah bukan?" tanya Jonathan yang memberikan ide untuk Raihan.
"Hah, jadi aku harus temui dia?" Raihan sedikit tidak menyetujui saran dari Jonathan, karena dirinya sudah meminta maaf saat pagi tadi. "Aku sudah minta maaf saat tadi pagi Jo, masa harus minta maaf lagi?" sambung Raihan.
"Apa salahnya jika kamu minta maaf lagi?" ujar Jonathan sambil pamit untuk pergi ke toilet sebentar.
__ADS_1
"Apa aku harus meminta maaf lagi?" gumam Raihan sambil mengaduk minuman di depannya.
Terima kasih atas supportnya, mohon like, komen, rate dan vote nya ya. Salam sehat selalu dari aku😊😊😊😊😊