
Ep 17
.
.
Kenzo mulai tersadar dari tidurnya, saat perawat dan Malika berbincang ringan.
Kenzo segera bangun dan memakai kaca matanya lalu kemudian duduk mengumpulkan kesadarannya
terlihat perawat sudah selesai memeriksa Malika.
"selamat pagi tuan.. "sapa perawat yang hendak keluar
"Iya pagi.. Sudah selesai ?? Bagaimana keadaan dia ??" Tanya Kenzo.
"Nona sudah jauh lebih baik. Hanya tinggal lemas saja. Selebihnya semua sudah normal."balas sang perawat.
"Terima kasih sus.."Kenzo pun merasa cukup lega. Perawat itu segera keluar dari ruangan rawat Malika.
Tinggal Malika dan Kenzo disana. Malika menatap nanar Kenzo dengan mata berbinar.
Kenzo pun segera mendekati Malika tak lupa ia menerbitkan senyum tipis agar Malika tak lagi bersedih
"Hay.. Kau sudah membaik ??" sapa Kenzo.
Malika mengangguk pelan tanpa melepas tatapanya kearah Kenzo.
"Syukurlah.. aku sangat kawatir sekali.. Kau mau sarapan apa ?? Kalau makanan rumah sakit aku yakin kau tidak suka.."Tanya Kenzo lagi.
__ADS_1
Malika tak menjawab, ia malah menitikkan air matanya. Saat kejadian kemarin terlintas difikirannya. bagaimana tidak, jika saja Kenzo tidak datang tepat waktu, tidak tau akan seperti apa nasib Malika saat ini.
"Malika.. Kenapa kau malah menangis..?? Aku mohon jangan menangis.."ekpresi Kenzo berubah seketika.
Malika sesenggukan sampai tak bisa berbicara, melihat hal itu Kenzo sangatlah tidak tega dan segera meraih tubuh malika dalam pelukannya.
"Tenanglah.. Kau aman sekarang..Tidak apa-apa..Aku mohon jangan menangis.."Ucap Kenzo yang ikut bersedih
Malika sesenggukan dalam dekapan Kenzo. Seolah ingin menumpahkan sesak didalam hatinya didada bidang Kenzo, pria yang terkenal cupu dan sangat pendiam dikampus, namun nyatanya malah begitu hebat menolong Malika yang hendak dilecehkan.
.
.
Dipintu masuk ruangan rawat Malika, Tasya urung masuk. Apalagi saat ia baru mau membuka pintu dan melihat pemandangan mengharukan didalam.
"Sya ?? Kau sedang apa seperti itu ?? Kenapa tidak masuk ??"
"Kemarilah Va, lihatlah itu. Mana mungkin aku bisa masuk jika kondisi sedang tidak mendukung.."Panggil Tasya.
Karna rasa penasaran, Vanesa ikut mengintip. Terlihat jelas Malika menangis dalam dekapan Kenzo.
"Aku sama sekali tidak percaya jika siCupu berubah sejantan itu ?? Aku jadi teringat sinetron siluman rubah deh.."Ucap Tasya.
"Malika terlihat terpukul sekali Sya..Sebenarnya Ari ngapain si Malika ya ?? Aku jadi penasaran sekali."Ucap Vanesa.
"Yang pasti fatal banget, Malika sampai kayak gitu loh.."Balas Tasya.
"apa kita coba introgasi si Ari ??" ajak Vanesa.
__ADS_1
"kau mau diculik juga sama si Ari..?? Sudahlah, kita tunggu Malika lebih baik, nanti kan kita bisa tanya sana dia.."Tutur Tasya.
Vanesa pun akhirnya mengangguk setuju.
"jadi bagaimana ?? Mau masuk atau kita kekampus aja ??" tawar Tasya.
"Tentu saja masuk.. Aku sudah terlanjur beli makanan banyaj untuk mereka berdua .. Tidak akan habis jika kita yang makan.."celoteh Vanesa.
"ya sudah. Kau ketuk saja pintunya."Tasya melipat kedua tangan didepan dada.
"Huh.. Dasar.."Umpat Vanesa.
Ia kemudian mendekati pintu dan mengetuknya beberapa kali.
Balasan untuk masuk terdengar, hingga keduanya masuk bersamaan.
"Malika.."Sapa Vanesa dengan senyumnya ia berlari kecil mendekati Malika yang duduk bersandar ditempat tidur rumah sakit.
"Kalian datang.."Balas Malika sembari memeluk Vanesa dan tasya bergantian.
"Oww akhirnya kau sadar. Semalam kami cukup kawatir karna kau tidak sadar-sadar."Ucap Tasya.
"maaf sudah membuat kalian kefikiran.."balas Malika.
"kau ini bicara apa.. kita teman jadi tidak boleh bicara seperti itu.."Sentak Vanesa. Malika menerbitkan senyumnya. Itulah dua temannya yang begitu mengerti keadaan dan kondisi dia serta selalu ada dalam susah maupun senang tanpa memandang kasta, padahal jika dibandingkan dengan Vanesa dan Tasya, Malika hanyalah orang biasa dan tidak memiliki kekayaan seperti mereka berdua.
.
.
__ADS_1