
Ep 49
.
.
Setibanya dirumah Kenzo langsung membersihkan diri dilantai bawah. Ia tidak mau jika kedua orang tuannya melihat beberapa.noda darah dipakaiannya.
Setelah selesai, Kenzo langsung Naik keatas. Guna melihat kondisi sang mama yang tadi siang sempat syok.
Tok.tok..tok..
Setelah mengetuk pintu kenzo langsung masuk. Terlihat sang papa yang begitu perhatian mengusap kepala mama Liza yang ternyata sudah tertidur.
"Mama sudah tenang pa ??" tanya Kenzo suaranya terdengar lirih agar tidak mengganggu tidur sang mama.
"Sedikit. Bagaimana ?? Kau temukan pelakunya ??" Tanya Martiuz.
Kenzo mengangguk pelan. "Iya pa. Maafkan aku, dia teman kuliah Kenzo."
"Teman kuliah ?? Ada masalah dia denganmu sampai-sampai restoran mamamu menjadi sasaran ??" Martiuz seolah tak percaya. Sebab selama Kenzo bersekolah tak pernah sekalipun Kenzo memiliki musuh apa lagi bersitegang sampai seperti ini.
Kenzo terdiam seketika. Ia tidak mau sampai papanya malah menyalahkan Malika. Karna sejatinya memang bukan salah Malika, melainkan karna ambisi Ari yang begitu ingin memiliki Malika.
Sentuhan dipundak Kenzo terasa hingga membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Jika karna wanita. Kau harus pertahankan wanita itu."Ucap Martiuz dengan tatapan serius.
"Papa sadar kau sudah dewasa untuk memilih. Dan kau tidak akan dekat dengan wanita jika wanita itu bukan wanita baik-baik."imbuh Martiuz.
"Terima kasih pa.. Akan Kenzo lakukan.. Tapi untuk saat ini Kenzo ingin fokus membangun restoran mama lagi..supaya mama tidak sedih terus seperti ini.."Balas Kenzo.
"iya.. Tapi jangan terlalu kau paksa. Kau harusnya sadar sifat mamamu memang seperti ini."Nasehat martiuz.
"Iya pa.. Ken kekamar dulu.."pamit Kenzo.
anggukan Martiuz menjadi akhir percakapan bapak dan anak itu.
.
.
"Apa kita bawa kerumah sakit saja ?? Aku takut dia kenapa-kenapa ??" Ungkap Tasya dengan kawatir.
"Tidak usah. Ini karna Kenzo. Malika pasti kefikiran tentang pria itu.."Balas Vanesa
"Lalu ?? Apa perlu kita hubungi Kenzo ?? Kita beritau keadaan Malika ??" Saran Tasya, Vanesa hanya terdiam dan terus menatap nanar wajah pucat sahabatnya.
.
.
__ADS_1
Pagi buta, bahkan matahari belum.nampak, Malika sudah membuka kedua matanya.
Obyek pertama yang ia lihat adalah dua temannya yang tertidur disisinya. Senyum tipis terbit dibibir Malika. Betapa beruntungnya Malika, meski sudah tidak memiliki keluarga, namun Kehadiran dan kasih sayang dua temannya itu mengalahkan kedekatan sebuah keluarga. Rasa haru yang dirasakan Malika membuat bulir air matanya menetes satu persatu.
"Maafkan aku.. Kalian sampai seperti ini karna aku.."Gumam Malika lirih.
Nampak Vanesa mengeliat dan langung bangun saat melihat malika sudah bangun dan malah menangis.
"Hey Ma.. Kau kenapa menangis ?? Apa ada yang sakit ??"Vanesa langsung mendekati Malika penuh kawatir.
"Peluk Aku Va.."Malika membuka kedua tangannya.
Vanesa langsung memeluk Malika yang kembali terisak.
"Malika sudahlah.. Jangan menangis terus.. Nanti air matamu habis bagaimana ??" Ucap Vanesa
"Hiks..hiks.. Maafkan aku.. Hiks..hiks.. Gara-gara aku kalian sampai tidak pulang seperti ini.. Hiks..hiks.."Balas Malika dalam tangisannya.
"Iya..iya.. Jangan seperti itu.. Kita ini sahabat layaknya keluarga, apapun masalahnya harus kita hadapi sama'-sama.. Itu kan janji kita sejak SMP.. Sudah ya.. Jangan sedih begitu.."Hibur Vanesa.
"Sekarang kau harus tenangkan diri. Persiapkan diri untuk berbicara dengan Kenzo. Nanti saat dikampus aku akan beritau Kenzo jika kau akan bicara dengan dia."ucap Vanesa.
Malika mengangguk seraya mengusap air matanya.
.
__ADS_1
.