
Ep 46
.
.
Kenzo berkendara bagai angin. Semua sudah ia ketahui, amarahnya seolah sudah sampai ubun-ubun dengan semua manipulasi dari pria bernama Ari itu. Selama Ini Kenzo hanya diam saja dirundung oleh pria itu, tapi jika menyangkut keluarga dan Malika, Kenzo benar-benar akan murka.
Tangan Kenzo mencengkram kuat stir mobil, meliak liui diantara padatnya pengemudi jalanan malam itu.
"Malika.. Aku.mohon angkat telfonku.."Kenzo berusaha menghubungi Malika namun tak bisa juga.
"Ahh.. Sialan !!! Ari sudah meretas ponselku !!!" Kenzo membanting ponselnya hingga jatuh kebawah, teringat semua yang telah diungkap sang paman membuat darah dalam diri Kenzo mendidih.
.
.
Ari menggiring Malika kekamar yang telah ia pesan.
Didalam Ari mulai melepas jas yang ia kenakan, Malika terus memutar otaknya beberapa kali agar bisa mengulur waktu, setidaknya Malika sangat ingin tau Keadaan kenzo saat ini.
Ari memeluk Malika dari belakang, Malika pun sontak menghindar dan hal itu membuat Ari cukup tertantang.
"Ayolah baby.. Kau bilang tidak mau lama-lama."Ucap Ari
"Em..Ar, Bisa tidak kau siapkan air hangat untukku ?? Aku ingin mandi dulu.. Jujur tadi aku kemari belum mandi.."balas Malika beralasan.
Ari nampak terkekeh. "Kau lucu sekali.. Mau beralasan ya ??"
__ADS_1
"Alasan apa kalau kunci saja sudah kau pegang. Aku sudah pasrah semuanya. Asal Kenzo segera kau selamatkan."Terang Malika dengan mimik wajah serius.
"Baiklah.. Aku pegang ucapanmu. Aku siapkan dulu.."Ari langsung menuju kanar mandi.
Malika baru bernafas lega. Setelah memastikan Ari sudah masuk kedalam. Malika segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan kedua temannya.
Lalu setelah itu ia mengambil ponsel Ari yang tergeletak berusaha mencari tau keberadaan Kenzo.
"Aduh.. Dipola lagi.."Malika kembali meletakkan ponselnya diatas meja saat terdengar pintu kamar mandi terbuka.
Malika terlihat berpura-pura menatap luar jendela dimana kerlap kerlip kota terlihat dari sana.
Ari memeluk Malika dari belakang. Meksi ingin rasanya Malika menolak, namun Malika tak mau sampai membuat Ari marah dan malah menghancurkan rencananya.
"Aku mandi dulu.. Kau tunggu disini ya.."Ucap Malika dengan pelan.
"Baiklah.. Apa perlu aku mandikan ??" tawar Ari.
Melihat Malika sudah masuk kedalam kamar mandi, Ari pun juga menghubungi teman-temannya untuk berjaga diluar.
"Aku yakin sikapmu yang berubah pasti karna kau sudah merencanakan sesuatu Malika.."Gumam Ari dengan senyum kelicikkan.
Tak lupa Ari mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya lalu memasukkan ke minuman jus yang baru saja dihantar pelayan.
"Jangan bermain dengan pemain senior Malika.. Kau akan kalah."Gumam Ari lagi.
.
.
__ADS_1
Vanesa dan Tasya tiba didepan hotel mewah dimana Malika mengirimkan alamat.
"Mana Kenzo Sya ?? Kau bilang dia sudah menghubungimu ?? Jika kita terlambat Malika bisa habis.."Ucap Vanesa.
"Aku juga tidak tau. Tapi Kenzo bilang Kita tidak boleh mengatakan pada siapapun jika dia sudah menghubungiku. nomer ponsel Kenzo sudah diretas. Makanya Malika tidak bisa menghubunginya. Dan Malika ditipu Ari, Kenzo tidak ditahan Ari.. Semua hanya manipulasi."Terang Tasya.
"Apa ??!! Sialan pria itu !!!"Vanesa hendak turun dari mobil namun Tasya buru-buru mencegahnya.
"Jangan turun dulu !! Kenzo meminta kita menunggu dia.."Cegah Tasya.
"Kau sudah gila atau bagaimana ??!! Malika sudah dikamar bersama Ari. Kau juga dikirim pesan kan ??!! Bagaimanw nasib Malika ??!! Ari itu psikopat gila !!" Protes Vanesa.
tasya hendak menjawab, namun ponselnya tak lama berdering. Buru-buru tasya menempelkannya ditelinga.
..
"Ok.. Kami pergi sekarang." ucap Tasya lalu segera mengakhiri panggilannya.
"Siapa ??" tanya Vanesa.
"Kita pergi." ajak Tasya.
"Tapi Sya ??!!!" Vanesa tak terima.
"please.. Kita diintai Va.."ucap tasya dengan suara pelan.
Vanesa membuang nafasnya kasar lalu segera menjalankan mobil kembali.
.
__ADS_1
.