Cinta Dalam Taruhan

Cinta Dalam Taruhan
Capter 18


__ADS_3

Ep 18


.


.


Kenzo memilih duduk dikursi sofa panjang, membiarkan ketiga wanita itu saling berbincang.


"Bagaimana keadaanmu Malika ?? Apa yang kau rasakan saat ini ??" Tanya Vanesa.


" Iya, kau pusing atau kenapa ?? Bagaimana bisa kau semalam sampai pingsan ??" tambah Tasya yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Malika hanya tertunduk sembari tersenyum kecut. Sulit baginya untuk saat ini menjelaskan.


"Em.. Malika, kalau kau belum siap tidak apa-apa kok.. Maaf ya.."Tasya cukup merasa bersalah.


Malika hanya terus menunduk.


"Em.. Kau makan saja ya ?? Aku bawa makanan kesukaanmu.."tawar Vanesa mencoba mencairkan suasana.


"Kalian seharusnya tidak perlu repot seperti itu.."balas Malika.


"Diamlah.. Aku tau betul makanan rumah sakit itu tidak ada yang enak.."Sanggah Vanesa.


"Oh ya, Kenzo.. Kau juga belum sarapan kan ?? Kita beli cukup banyak ini.."Vanesa menyodorkan kotak makanan kepada Kenzo.


" Terima kasih. Maaf sudah membuatmu repot."Kenzo pun menerima dengan membalas senyuman.


"santai saja."balas Vanesa.


Mereka semua makan bersama dikamar rawat Malika.

__ADS_1


.


.


"Loh ma, Kenzo sudah berangkat ?? Kok tumben jam segini sudah tidak ada dimeja makan ??" Tanya martius pada istrinya saat ia sudah turun dari tangga.


"Kenzo tidak pulang dari semalam pa.."balas Liza.


"Benarkah ?? Kemana anak itu ?? Kau sudah coba hubungi dia ??" Tanya Martius lagi


"bukannya semalam kau yang melarangku menghawatirkan dia ?? pake acara bilang anak kita sudah dewasa lagi."Celoteh Liza.


Martius hanya mendegus kesal saja.


Ia merogoh ponselnya guna menghubungi Kenzo.


Benda pipih itu tertempel ditelinga Martius, sembari ia menyeruput kopi hitam kesukaannya.


.


.


"Halo pa.."


"Halo Kenzo. Kau dimana ?? Tidak biasanya kau tidak pulang ??" tanya Martius.


"Oh.. Maaf pa aku sampai lupa memberi kalian kabar. Aku menunggui temanku yang sakit."Balas Kenzo. Kenzo menjadi tidak enak saat Malika, Vanesa, dan Tasya menatapnya.


Kenzo pun perlahan berdiri dari duduknya lalu mengkode untuk permisi keluar sebentar.


Sampai diluar, Kenzo baru bernafas lega dan kembali menempelkan ponselnya ditelinga.

__ADS_1


"Kenzo..."


"Iya pa maaf.. Maaf.."Kenzo buru menyahut.


"sebenarnya siapa sih temanmu itu ?? Wanita ya ?? Pacarmu ??"terka Martius.


"papa bicara sih..temanku pa.. Memang dia wanita, tapi bukan pacarku.."balas Kenzo.


"lalu kau tidak kuliah ?? Dan lagi, siang nanti papa harus bertemu Tuan Boris lagi katanya anaknya minta bertemu denganmu lagi."Terang Martius.


Kenzo membuang nafasnya dengan perlahan. "Pa.. Katakan pada tuan Boris jika aku tidak mau dijodoh-jodohkan."


"Kami hanya ingin kalian saling kenal saja. Tidak menjodohkan."Balas Martius.


"Tapi aku tidak bisa pa..Temanku sudah tidak punya orangtua, kasihan dia.."Sanggah Kenzo


Liza yang tak sabar segera merampas ponsel Martius.


"eeh...eh.. Mama.." Martius protes.


"Kenzo sayang, lakukan apa yang menurutmu benar. Mama tidak apa hari ini kau tidak kuliah atau membantu mama dan papa. Jaga dia ya, dan kalau sudah sembuh segera bawa pulang dia dan kenalkan pada mama dan papa.. Sudah ya, mama tutup dulu.. Hati-hati Nak.. Bye..."Tutur Liza dengan jelas. Dan langsung mematikan ponselnya.


Martius dibuat keheranan dengan ucapan istrinya itu.


"Kenapa kau bicara seperti itu ??"


"Harusnya aku yang tanya ??! Kau ini tidak peka sekali, Kenzo sedang menunggui seorang wanita. Sudah sangat pasti wanita itu spesial, jika tidak mana mau dia menunggui sampai seperti ini !!! Ya ampun Ayah macam apa kau ini.."Cerocos Liza.


Martius mencebikkan bibir bawahnya. "Sok tau kau ini. Sudah aku mau berangkat jika terus dirumah, telingaku bisa pecah mendengar ocehanmu itu."


" Pergilah sana !! Aku juga kesal padamu !!" usir Liza yang anehnya malah mencium tangan Martius dan menyodorkan tas kerja Martius.

__ADS_1


.


.


__ADS_2