Cinta Gadis Biasa

Cinta Gadis Biasa
Bukan MP


__ADS_3

Evening...


Setelah selesai shalat ashar intan mengemasi peralatan makeup nya di meja rias yang sudah disiapkan.


Melanjutkan pekerjaan nya tadi yang sempat tertunda karena kelelahan ia tertidur sebentar.


Ardi sedang sibuk dengan laptop nya mengecek email yang dikirim alex karena udah beberapa minggu tidak masuk ke kantor.


Lalu intan keluar dari kamar nya untuk membantu memasak.


Di dapur


"Hm bik, boleh aku aja yang masak untuk makan malam?"


"Gak usah non, ini sudah kewajiban saya."


"Hm ya sudah kalau begitu intan bantu masak boleh ya?"Mohon intan mengatupkan kedua tangan nya.


Bi marni melihat intan tersenyum, sudah jadi menantu orang kaya tapi tetap mau masuk ke dapur pikirnya.


"Iya non boleh" ucap bi marni.


"Panggil intan aja bi" ucap intan


"Maaf non saya gak bisa, takut dimarahi tuan dan nyonya sama den Ardi" ucap bi marni


"Hm gak akan bi, anggap aja intan anak bibi."


"Hm iya nak, jadi ingat anak bibi dulu" ucap bi marni sendu.


"Kenapa anak bibi?" tanya intan penasaran


"Anak bibi sudah meninggal, kira kira sekarang besarnya mungkin sama seperti kamu" ucap bi marni.


Intan mendengar itu merasa bersalah dan langsung memeluk nya.


"Maaf ya bi, sudah membuat bibi mengingat lagi kenangan yang bikin bibi sedih" ucap intan.


"Iya gak apa nak" jawab bibi


"Sekarang bibi gak usah sedih, anggap aja intan ini anak bibi. Ya sudah jangan sedih lagi kita mulai masak oke."


Mereka mulai memasak untuk makan malam.


Ada seseorang yang mendengar percakapan mereka, ia senang dengan istrinya itu karena cepat sekali akrab dengan orang dan begitu sangat menyayangi orang lain.


Yah yang menguping itu adalah Ardi, suami intan. Ia sebenarnya mencari keberadaan istrinya itu dimana, karena tidak berada di kamar bersama nya.


Ketika menemukan istrinya ia mendengar percakapan art dan intan yang membuat hatinya mulai ada getaran untuk menyukainya, namun ia masih harus meyakinkan hatinya.


Selesai menguping, Ardi ke kamar nya.

__ADS_1


setelah berapa lama berkutat di dapur untuk makan malam, akhirnya selesai semua. Sekarang intan akan kembali ke kamar untuk siap siap shalat maghrib.


Makan malam


Papa, mama, Ardi dan juga intan sudah berada di meja makan dan menikmati makan malam mereka.


"Hm masakan ini tidak seperti biasanya yang dimasak bi marni" ucap papa Bima


"Bi, pakai resep baru ya?" tanya Nela


"Maaf tuan, nyonya. Sebenarnya yang masak tadi non intan, saya hanya membantu nya sedikit" jawab bi marni takut


"Maaf ma, tadi intan memaksa bibi agar intan boleh ikut memasak" ucap intan


"Gak apa sayang, mama malah suka banget sama masakan kamu ini enak banget. Iya kan pa?" ucap mama melirik suaminya.


"Iya ma, pandai sekali intan memasak. Anak jaman sekarang jarang ada yang bisa masak" balas papa


Intan dan bi marni bernafas lega, karena masakannya enak.


"Menurut kamu gimana ar, enak kan?" tanya mama


"Lumayan" jawab Ardi


'ya tuhan punya suami gini amat tinggal bilang enak banget apa susahnya coba' gerutu intan dalam hatinya.


Ardi melirik ke arah intan yang tiba tiba merubah ekspresi wajah nya .


"Sudah ma, lanjut makan dulu. Nanti lagi ngobrol nya."ucap


Setelah makan malam selesai, Ardi dan orang tua nya ke ruang keluarga. Kecuali intan yang membantu bi marni membereskan meja makan, lalu menyusul mertua dan suaminya ke ruang keluarga.


"Ardi, apa kamu tidak mau mengajak intan bulan madu?"


Ardi dan intan saling pandang.


"Sebaiknya kita disini saja ma, lagian Ardi juga udah lama gak ke kantor" jawab ardi


"Iya ma intan juga kerja, udah lama cuti" ucap intan. Namun sebenarnya ia ingin seperti orang orang yang baru menikah ya bulan madu.


"Papa yang akan mengurus semuanya di kantor, kamu ajak istri kamu bulan madu" ucap papa


"Biar mama yang urus tiket dan keberangkatan kalian" timpal mama


"Tapi ma-"


"Gak ada tapi tapian, mama sama papa udah tua ar, mama juga pengen cepet punya cucu seperti teman arisan mama, yang selalu menceritakan cucu cucu mereka" ucap mama sedih


Intan tidak tega dengan mertuanya, namun itu tidak mungkin terjadi, mana mungkin bisa punya anak tidur aja terpisah pikirnya.


"Terserah mama sama papa aja, Ardi mau ke kamar capek," ucap ardi pergi.

__ADS_1


"Ya ampun anak itu, dikasi tahu malah pergi gitu aja" ucap mama


"Sudah lah ma terserah Ardi sama intan" balas papa


"Intan ke kamar juga ya ma, pa" ucap intan


Intan yakin bukan cuma orang tua Ardi yang menginginkan cucu, melainkan orang tua nya juga.


Di kamar


Intan langsung menuju ke kamar mandi untuk ambil wudhu, ia ingin segera sholat isya' karena sudah mengantuk.


Ardi dan intan shalat berjamaah.


Selesai shalat seperti biasa yang sudah menjadi kebiasaan mereka mencium tangan suami dan lalu mengecup kening sang istri ulu ulu so sweet...


Intan hendak membuka mukena nya, namun Ardi menahan dan memegang kedua tangan intan.


Jantung intan seperti lari maraton di pegang tangan dan di tatap suaminya.


"Intan, kita menikah mungkin tidak didasari rasa cinta. Tapi, aku berharap kita saling membuka hati kita untuk memulai hidup baru, kita buka lembaran baru."


Intan tertegun dengan ucapan suaminya juga terharu.


"Iya mas, kita sama sama membuka hati kita masing-masing, sekarang aku adalah makmum kamu jadi kalau aku salah maka tegurlah."


Ardi menarik tubuh intan dan memeluk nya, sambil mengelus kepala nya lalu mengecup keningnya.


Ardi akan berusaha menjadi suami yang baik dan menjaga intan.


Intan sudah sangat mengantuk, ia langsung menuju ranjang dan tertidur.


Ardi yang baru selesai mengecek pekerjaan juga ikut naik keatas ranjang.


Rasanya ia ingin meminta hak nya, namun ia tahu istrinya itu belum siap, ia akan mencoba menahan nya.


Ardi juga ikut tertidur sambil memeluk istrinya.


Kok langsung suka sih om?


Gak salah thor kita ini pasangan, emang author mblo hahahha


Eleh bentar lagi juga author buat kesel kamu om🤭


Jangan macam-macam ya thor


.


.


.

__ADS_1


bersambung 💃💃💃


__ADS_2